Bukan Sekadar Hobi, Lomba Lari Jalanan Kini Jadi Mesin Ekonomi Baru dan Angkat Industri Olahraga Tanah Air

Senin, 21 Sep 2026, 17:45 WIB

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung menyatakan pertumbuhan lomba lari jalanan di Indonesia semakin pesat dan turut mendorong terbentuknya ekosistem serta industri olahraga yang memberikan dampak ekonomi yang luas.

Menurut dia, perkembangan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah perlombaan, peserta, dan kualitas penyelenggaraan dalam 10 hingga 15 tahun terakhir, mulai dari kategori 5 kilometer (5K), 10K, half marathon, hingga maraton.

Ket. Foto: Para pelari berlari memulai lomba dalam Maybank Marathon 2026 di kawasan Bali United Training Center (BUTC), Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu (23/8). — Sumber: HO-Maybank Indonesia

"Meski belum ada data pasti, seingat saya sejak tahun 1997 saat 10K pertama kali diadakan hingga saat ini, perkembangannya sangat pesat, khususnya 10 tahun terakhir," kata Tigor saat dihubungi dari Jakarta, Senin (21/9).

Dia menilai pertumbuhan lomba lari telah menciptakan ekosistem industri olahraga yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemilik atau penyelenggara lomba, sponsor, hingga tenaga pendukung perlombaan. Aktivitas tersebut juga menghasilkan dampak ekonomi di luar arena pertandingan.

Dia menjelaskan, penyelenggaraan lomba lari mendorong pergerakan ekonomi melalui perjalanan peserta, akomodasi hotel, konsumsi makanan, transportasi, serta kebutuhan lain selama mengikuti perlombaan.

Lebih lanjut dia menjelaskan perkembangan lomba lari memang masih lebih masif di Pulau Jawa dan Bali dibandingkan sejumlah wilayah lain di Indonesia. Namun, kegiatan serupa juga perlahan berkembang di sejumlah kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, seperti Kota Medan, Makassar, dan Banjarmasin.

Waketum itu menambahkan kesiapan daerah menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan lomba lari. Penyelenggara harus mendapatkan lokasi yang memenuhi persyaratan, dukungan pendanaan dan sponsor, serta tenaga yang membantu pelaksanaan perlombaan.

Ketersediaan sumber daya tersebut membuat sejumlah daerah di Jawa dan Bali lebih siap menggelar lomba lari dalam skala besar. Meski demikian, Tigor melihat perkembangan di luar wilayah tersebut tetap berlangsung secara alamiah.

"Sekarang orang lari itu sudah jadi kebutuhan dan budaya, karena sebelumnya mereka pelari rekreasional, tetapi kini sudah menjadi pelari yang serius, terbukti mereka masuk ke komunitas, memakai pelatih, dokter, dan ahli gizi," tambah dia.

Tigor juga menyoroti berkembangnya konsep sport tourism melalui lomba lari. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dalam Global Running Conference yang digelar World Athletics di Kopenhagen, Denmark, beberapa hari lalu, peserta kini menjadikan perlombaan sebagai alasan untuk melakukan perjalanan atau liburan.

Dia menyebut, daya tarik utama tidak selalu berasal dari destinasi wisata, tetapi juga kualitas lomba walaupun lokasi tetap penting sebagai bagian dari pengalaman peserta. Dengan begitu, perlombaan dan destinasi dapat saling melengkapi sebagai satu kemasan sport tourism.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa lomba lari tidak lagi sekadar kegiatan olahraga, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak sektor.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan Maybank senantiasa berkomitmen untuk mengolaborasikan kegiatan Maybank Marathon dengan agenda keberlanjutan (sustainability), melalui berbagai program yang melibatkan masyarakat, UMKM, mitra usaha, serta komunitas lokal.

Komitmen tersebut, lanjut dia, kembali diwujudkan melalui Maybank Marathon Sustainability Day 2026 yang diselenggarakan selama dua hari dan memasuki agenda utama di Sustainability Pavilion, Bali United Training Center (BUTC), Gianyar, Bali pada akhir Agustus.

Dia menyatakan, Maybank Marathon yang berstatus Elite Label Road Race dari World Athletics, telah 15 tahun mendorong pertumbuhan industri olahraga lari di Indonesia. Ajang itu telah mendatangkan keuntungan miliaran rupiah sebagai manfaat ekonomi di setiap lokasi penyelenggaraan, baik dari sisi okupansi hotel, transportasi, maupun belanja para peserta dan keluarga yang datang untuk berlomba maupun berlibur. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.