Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BBM Subsidi Tetap, Keputusan Pemerintah Ini Dinilai Tepat, Kenapa?

📅 Rabu, 16 Sep 2026, 00:05 WIB | Oleh:
BBM Subsidi Tetap, Keputusan Pemerintah Ini Dinilai Tepat, Kenapa? Doc: Antara foto
Ket. Pengendara sepeda motor hendak mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (1/8).

JAKARTA - Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert R Winerungan menilai keputusan pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar, sangat tepat untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Saya kira itu keputusan yang sangat bijak oleh pemerintah. Karena apabila pemerintah juga menaikkan harga Pertalite, maka inflasi bisa tidak terkendali," kata Robert dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.

Robert menjelaskan kenaikan harga BBM akan memberikan efek berantai terhadap ongkos transportasi hingga harga berbagai barang kebutuhan masyarakat.

Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak dapat begitu saja melepas harga Pertalite mengikuti mekanisme pasar.

Intervensi melalui kebijakan harga diperlukan karena Pertalite dikonsumsi luas oleh masyarakat, sehingga perubahan harganya berpotensi memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi.

"BBM tidak naik saja harga-harga sudah naik, apalagi kalau BBM naik. Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat," kata Robert.

Ia mengakui mempertahankan harga Pertalite Rp10 ribu per liter ketika harga minyak dunia sudah tebus 107 dolar AS per barel akan memberikan konsekuensi terhadap APBN.

Selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya meningkatkan beban yang harus ditanggung pemerintah.

"Memang subsidi bisa membengkak. Tapi, manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan," ujarnya.

Menurut Robert, tekanan ekonomi saat ini bahkan mulai mengubah pola konsumsi BBM sebagian kelompok masyarakat.

Ia melihat konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax Turbo maupun BBM RON 92 mulai beralih menggunakan Pertalite untuk mengurangi pengeluaran.

"Kalau Pertalite naik, kelompok menengah akan semakin tertekan. Yang lebih kasihan lagi adalah masyarakat kelas bawah karena biaya transportasi akan naik dan sebagainya. Banyak efek turunannya apabila harga Pertalite naik," kata Robert.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata harga minyak nasional periode Januari-September 2026 berada di kisaran 85-90 dolar AS per barel atau lebih tinggi daripada asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Meskipun demikian, pemerintah memutuskan tetap menjaga harga BBM bersubsidi tidak naik sebagai langkah melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Timnas Indonesia Juara FIFA Asean Cup 2026, Tundukkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti
    final ideal, kekuatan berimbang, pertandingan yg menguras tenaga ...
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
Nasional
TNI Harus Adaptif Hadapi  A...
Advertisement
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Modal Kuat Skuad Garuda Arungi Piala Asia 2027

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Modal Kuat Skuad Garuda Arungi Piala Asia 2027

05 Oct 2026
Pilihan Pembaca
# 8
# 8
Desak dan 0,002 Detik yang Bersejarah
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.