Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Breaking News: Guguran Lava Gunung Karangetang Capai Jarak 1 Kilometer, Warga Diimbau Waspada

📅 Minggu, 13 Sep 2026, 22:49 WIB | Oleh:
Breaking News: Guguran Lava Gunung Karangetang Capai Jarak 1 Kilometer, Warga Diimbau Waspada Doc: ANTARA/Fiqman Sunandar
Ket. Gunung api Karangetang memuntahkan lava pijar di Siau kepuluan Sitaro, Sulawesi Utara dini hari. Gunung api yang masih berstatus siaga level tiga itu terus mengeluarkan guguran lava mencapai kurang lebih 500 meter dari kawah dengan kegempaan fluktuatif sejak bulan lalu.

MANADO - Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi-Maluku menyebutkan, pada periode pengamatan tanggal 12 September 2026, jarak luncur guguran lava Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut, mencapai 1.000 meter.

"Teramati guguran lava dengan jarak luncur 1.000 meter mengarah ke barat daya dan barat," kata Humas Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi- Maluku, Kementerian ESDM, Refly Aror di Manado, Minggu.

Dia menambahkan, pada periode pengamatan tersebut asap kawah utara putih tebal lebih kurang 10-500 meter.

"Pada malam hari tampak dari CCTV sinar api kawah selatan lebih kurang 5-10 meter. Guguran lava pijar kawah utara meluncur ke arah barat daya dan selatan lebih kurang 700-1.000 meter," ujarnya.

Selanjutnya, terekam sebanyak satu kali gempa guguran, 79 kali gempa embusan, satunya kali gempa tremor non harmonik, 27 kali gempa tremor harmonik, satu kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dalam, serta lima kali gempa tektonik jauh.

"Tingkat aktivitas Gunung Karangetang Level II (Waspada)," katanya menambahkan.

Kementerian ESDM merekomendasikan masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 kilometer.

Mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.

Selanjutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.