- Home
-
- Luar Negeri
-
- Dokumenter Elon Musk Bikin...
Dokumenter Elon Musk Bikin Heboh, Sisi Kontroversial Sang Miliarder Dibongkar
Rabu, 09 Sep 2026, 03:00 WIBVenesia - Dokumenter berdurasi hampir empat jam tentang perjalanan hidup dan karier Elon Musk karya sutradara Amerika Serikat (AS) Alex Gibney diputar perdana di Festival Film Venesia, Selasa (8/9). Film tersebut mendapat sorotan tajam dari sejumlah kritikus yang menilai karya itu menggambarkan Musk sebagai sosok kontroversial, narsistik, dan penuh ambisi.
Gibney menelusuri perjalanan Musk, yang lahir di Afrika Selatan, dari pengusaha perusahaan rintisan di Silicon Valley pada awal 2000-an hingga menjadi orang pertama di dunia yang mencapai kekayaan triliunan dolar.
Majalah film Variety menyebut dokumenter tersebut sebagai potret yang "menguliti" Musk, sementara Deadline menilai film itu secara keras menggambarkannya sebagai sosok yang picik, narsistik, megalomania, dan kejam.
Berikut sejumlah poin utama dalam dokumenter tersebut:
Bukan Sosok Romantis
Justine Musk, mantan istri pertama Musk, menjadi salah satu sumber yang memberikan sisi paling manusiawi dalam film tersebut. Ia mengenang hubungannya dengan Musk ketika sang pengusaha mulai menghasilkan jutaan dolar.
Justine juga menceritakan berbagai pengalaman sulit dalam rumah tangga mereka, termasuk kematian anak pertama mereka. Ia bahkan mengungkap bahwa Musk pernah berbisik kepadanya saat pesta pernikahan, "Saya adalah alfa dalam hubungan ini."
Ia juga mengatakan bahwa dirinya dan pasangan Musk lainnya disebut sebagai "breeders" atau pihak yang ditujukan untuk memiliki keturunan.
Perjanjian Kerahasiaan
Dokumenter tersebut juga menyoroti hubungan Musk dengan Ashley St. Clair, seorang influencer sayap kanan yang memiliki anak dengan Musk.
Menurut film itu, Jared Birchall, orang kepercayaan Musk, pernah menawarkan St. Clair kesepakatan berupa pembayaran awal 15 juta dolar AS dan 100.000 dolar AS per bulan selama 21 tahun. Sebagai imbalannya, ia diminta tidak pernah mengungkap nama Musk.
St. Clair menolak tawaran tersebut dan kemudian menjadi salah satu sumber penting dalam dokumenter Gibney.
Perubahan Politik Setelah COVID-19
Film itu menelusuri perubahan pandangan politik Musk, dari pengusaha yang sebelumnya cenderung berhaluan kiri menjadi salah satu pendukung tokoh politik sayap kanan paling berpengaruh di dunia.
Mantan teman Musk, filsuf Sam Harris, mengatakan kepada Gibney bahwa pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi titik perubahan penting dalam pemikiran Musk.
Pada periode yang sama, putra sulung Musk bertransisi menjadi perempuan. Musk kemudian menyebut perubahan tersebut sebagai akibat dari "woke mind virus".
Ketegangan dengan pemerintahan Presiden AS saat itu, Joe Biden, terkait acara kendaraan listrik di Gedung Putih juga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan sikap Musk.
Sorotan Penggunaan Narkoba
Dokumenter tersebut tidak banyak mengungkap informasi baru mengenai laporan penggunaan narkoba oleh Musk, termasuk ketamin dan LSD. Gibney lebih banyak mengandalkan laporan sebelumnya dari The Wall Street Journal.
Namun, film itu mengungkap bahwa Musk pernah menghubungi pemilik WSJ, Rupert Murdoch, untuk meminta agar pemberitaan mengenai dirinya dihentikan. Upaya tersebut tampaknya tidak berhasil.
Menolak diwawancarai
Musk menolak berbicara dengan Gibney ketika proyek film dimulai. Ia bahkan menyebut sang sutradara sebagai "douchebag" melalui platform media sosial X.
Gibney kemudian menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menghadirkan versi digital Musk yang membacakan sejumlah pernyataan yang pernah disampaikannya dalam wawancara sebelumnya.
Film tersebut juga mengandalkan kesaksian sejumlah mantan pasangan, teman, dan mitra bisnis Musk yang pernah memiliki konflik dengannya.
Data dan DOGE
Bagian akhir dokumenter menyoroti masa Musk memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Film itu mengaitkan kebijakan pemangkasan anggaran DOGE dengan ribuan kematian akibat pengurangan bantuan  AS ke luar negeri. Dokumenter tersebut juga menuduh Musk menggunakan posisi itu untuk menghentikan penyelidikan terhadap dirinya dan mengakses informasi yang berpotensi membantu perusahaan-perusahaannya.
Gibney mempertanyakan apa yang dilakukan tim kecil berisi programmer muda Musk terhadap data yang mereka akses dari sistem pemerintah federal. Ia bahkan berspekulasi bahwa data tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk kepentingan tertentu pada masa mendatang.
Rencana ke Mars
Gibney menutup dokumenternya dengan menggambarkan fokus Musk yang semakin besar pada kecerdasan buatan dan spekulasi bahwa ia tidak lagi terlalu khawatir terhadap risiko AI yang dapat memusnahkan umat manusia.
Menurut Gibney, obsesinya mengirim manusia ke Mars dan planet lain melalui roket SpaceX dapat menjadi semacam "rencana cadangan" jika AI berkembang di luar kendali.
Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan finansial, proyek kolonisasi luar angkasa tersebut dinilai dapat menjadi bentuk perlindungan atau investasi alternatif apabila risiko AI benar-benar menjadi kenyataan.
- Elon Musk
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bakom RI: Penyelenggaraan 38 Acara Daerah Putar Ekonomi Rp86 Miliar
-
Chelsea Tak Tertarik Rekrut Vinicius Junior, Fokus pada Kebutuhan Lebih Mendesak
-
PSG Dihantui Cedera Vitinha Jelang Semifinal Liga Champions
-
Daerah Diminta Siapkan Anggaran untuk Menangani Penyakit TBC
-
KLH dan Tiongkok Perkuat Kemitraan untuk Transisi Energi dan Aksi Iklim
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.