Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Risiko Kiamat Iklim Mengintai Jika Kenaikan Suhu Bumi Lewati 1,5 derajat Celcius

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 01:58 WIB | Oleh:
Risiko Kiamat Iklim Mengintai Jika Kenaikan Suhu Bumi Lewati 1,5 derajat Celcius Doc: AFP

TOKYO - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang Program Lingkungan (UNEP) pada Rabu melaporkan bahwa suhu global diperkirakan melampaui 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam beberapa tahun ke depan sehingga dapat meningkatkan risiko bencana dan ancaman kesehatan

Laporan tersebut menegaskan bahwa penurunan kembali suhu hingga 1,5 derajat Celsius atau kurang dari itu pada akhir abad ini dibutuhkan untuk mengurangi risiko dan dampak perubahan iklim.

Pada November 2026, genap 10 tahun sejak sekitar 190 negara dan wilayah, termasuk Jepang, menyepakati Perjanjian Paris sebagai kerangka internasional untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius.

"Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan yang berkobar, dan banjir mematikan musim panas ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi. Kita harus membuat pelampauan 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

"Dunia membutuhkan keberanian untuk melampaui batas ambisi kita," tambahnya.

Berdasarkan kebijakan yang berlaku saat ini, pemanasan global diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius pada 2100, menurut laporan tersebut.

Bahkan jika seluruh negara peserta memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca dan mencapai emisi nol bersih melalui penyeimbangan emisi dengan penyerapan oleh hutan serta sistem lainnya, suhu diperkirakan tetap naik sekitar 1,8 derajat Celsius.

Kenaikan suhu tersebut akan memperparah cuaca ekstrem, hilangnya ekosistem, dan risiko tenggelamnya negara-negara kepulauan kecil.

Dampaknya juga mencakup ganggaun serius terhadap kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, serta infrastruktur.

Jika suhu global naik 3 derajat Celsius pada abad ini, gletser diperkirakan kehilangan lebih dari seperempat massanya pada 2100 dan menyebabkan kenaikan permukaan laut 9 hingga 13 sentimeter.

Profesor Richard Betts dari University of Exeter, yang turut berkontribusi dalam laporan tersebut, mengatakan kenaikan suhu membuat kejadian seperti banjir bandang di Nepal dan Tiongkok pada Agustus semakin mungkin terjadi.

"Namun, kita dapat mencegah kondisi tersebut menjadi jauh lebih buruk dengan mengurangi emisi dan membatasi jumlah pemanasan," kata Betts.

Laporan itu menyebut bahwa untuk menurunkan suhu setelah melampaui 1,5 derajat Celsius, jumlah karbon dioksida yang diserap atau dihilangkan harus melebihi jumlah emisi.

Namun, laporan tersebut menempatkan pengurangan karbon dioksida sebagai langkah tambahan, bukan pengganti upaya utama untuk mengurangi emisi. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Luar Negeri
Sebut Perang Konyol, Trump ...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.