Lahan Pertanian di Kabupaten Buru Terancam Kekeringan? BBRMP Maluku Turun Cari Sumber Air

Kamis, 03 Sep 2026, 00:12 WIB

AMBON - Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Maluku melakukan survei sumber air dan jaringan irigasi di Kabupaten Buru untuk mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem terhadap lahan pertanian.

“Jika jaringan tersebut dapat dioptimalkan, saluran itu berpotensi mendukung pengairan lahan pertanian di tiga desa, yakni Wanareja, Ohilahin, dan Waenetat, dengan potensi luas sekitar 400 hektare,” kata Kepala BBRMP Maluku Gunawan, di Ambon, Rabu.

Ket. Foto: Tim BBRMP Maluku survei sumber air dan jaringan irigasi, di Buru, Maluku. — Sumber: Antara foto/HO-BBRMP Maluku

Survei dilakukan tim BBRMP Maluku bersama tim penyuluh BPP Savana Jaya melalui peninjauan sejumlah lokasi irigasi perpompaan (irpom), sumber air, dan jaringan irigasi yang berpotensi mendukung pengairan lahan pertanian.

Tim BBRMP Maluku yang terdiri atas Utoyo, La Pali, dan Nova Yulinda mengawali peninjauan di kawasan Bendungan Way Dafa, Desa Debowae, Kecamatan Waelata. Di lokasi tersebut tengah dilakukan pengerukan sedimen untuk mengoptimalkan pemanfaatan air bendungan bagi kebutuhan pertanian.

Peninjauan dilanjutkan ke sipon di Desa Grandeng. Tim menemukan konstruksi talang air berada terlalu rendah sehingga aliran air belum dapat mengalir optimal menuju saluran irigasi.

Tim kemudian meninjau lokasi irpom Krido Utomo dan Margi Tani di Desa Waenetat. Kekeringan ekstrem dan kondisi jaringan irigasi yang kering menyebabkan kegiatan tanam sementara belum dapat dilakukan.

Petani di lokasi tersebut juga masih bergantung pada irpom untuk memenuhi kebutuhan air, sehingga harus menanggung biaya bahan bakar untuk operasional pompa.

Sementara itu, kondisi berbeda ditemukan di lokasi irpom Banyu Ambyar. Debit air di lokasi tersebut cukup tinggi dan air dari sumur bor dapat mengalir deras tanpa menggunakan pompa.

“Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendukung kegiatan tanam pada September dengan perkiraan luasan sekitar 100 hektare,” ujarnya.

Hasil peninjauan menunjukkan kekeringan menjadi salah satu tantangan bagi keberlanjutan produksi pertanian di Kabupaten Buru. Optimalisasi sumber air dan jaringan irigasi diperlukan agar ketersediaan air dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha tani selama periode kekeringan.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.