• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hoag’s Object, Galaksi B...

Hoag’s Object, Galaksi Berbentuk Cincin yang Masih Jadi Teka-Teki Kosmik

Kamis, 03 Sep 2026, 05:07 WIB

Terselip di antara miliaran galaksi yang memenuhi alam semesta, sebagian besar memiliki bentuk yang relatif mudah dikenali. Ada galaksi spiral seperti Bima Sakti, galaksi elips yang tampak seperti gumpalan cahaya, hingga galaksi tak beraturan yang bentuknya sulit diklasifikasikan.

Namun, ada kelompok galaksi yang jauh lebih langka dan membingungkan, yaitu galaksi cincin. Salah satu contoh paling ekstrem adalah Hoag’s Object, sebuah galaksi yang tampak seperti lingkaran raksasa dengan inti padat di tengahnya dan cincin bintang yang mengelilinginya.

Ket. Foto: Dengan cincin yang simetris sempurna mengelilingi bola bintang berwarna merah, objek Hoag adalah salah satu misteri terindah di alam semesta. — Sumber: NASA/ESA/Hubble

Objek tersebut berada sekitar 600 juta tahun cahaya dari Bumi dan memiliki diameter sekitar 100.000 tahun cahaya, sedikit lebih besar dibandingkan ukuran Bima Sakti. Sekilas bentuknya tampak seperti sebuah galaksi yang memiliki galaksi lain di dalamnya.

Jika diamati lebih teliti, pemandangannya bahkan menjadi lebih aneh: di ruang gelap yang memisahkan cincin luar dan inti tengah, sebuah galaksi cincin lain yang jauh lebih jauh dari Bumi terlihat sebagai objek latar belakang. Struktur tersebut menjadikan Hoag’s Object salah satu pemandangan paling tidak biasa yang pernah diamati astronom.

Ditemukan pada 1950

Hoag’s Object pertama kali ditemukan pada 1950 oleh astronom Arthur Hoag. Saat pertama kali mengamati objek tersebut, Hoag menghadapi persoalan yang sama yang masih menjadi bahan penelitian hingga sekarang: bagaimana sebuah galaksi bisa memiliki bentuk cincin yang begitu sempurna?

Galaksi cincin sendiri sangat jarang. Diperkirakan kurang dari 0,1 persen galaksi yang diketahui memiliki karakteristik berbentuk cincin. Kelangkaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa mekanisme pembentukannya masih belum sepenuhnya dipahami.

Pada pengamatan awal, Hoag bahkan mempertimbangkan kemungkinan bahwa bentuk cincin itu bukan struktur sebenarnya. Ia mengusulkan bahwa fenomena tersebut mungkin merupakan efek pelensaan gravitasi atau gravitational lensing.

Pelensaan gravitasi terjadi ketika gravitasi sebuah objek yang sangat masif membelokkan cahaya dari objek yang berada di belakangnya. Dalam kondisi tertentu, efek ini dapat membuat objek latar belakang tampak membesar, terdistorsi, atau membentuk pola seperti cincin.

Namun, pengamatan menggunakan teleskop yang lebih baik kemudian menunjukkan bahwa cincin Hoag’s Object bukanlah ilusi optik akibat pelensaan gravitasi. Cincin tersebut merupakan bagian nyata dari galaksi. Dengan demikian, pertanyaan pun bergeser: jika bukan ilusi, proses kosmik apa yang menciptakan struktur tersebut?

Dua Wilayah yang Berbeda

Keunikan Hoag’s Object terlihat dari perbedaan antara bagian tengah dan cincin luarnya. Bagian tengahnya berupa wilayah yang relatif kecil, padat, dan didominasi bintang-bintang berwarna kemerahan. Warna tersebut menunjukkan populasi bintang yang secara umum lebih tua dan aktivitas pembentukan bintang yang lebih rendah dibandingkan wilayah yang kaya bintang muda.

Sebaliknya, cincin di bagian luar tampak jauh lebih terang dan kebiruan. Cincin tersebut terdiri atas populasi bintang yang lebih muda, termasuk bintang-bintang masif yang memancarkan cahaya biru.

Perbedaan ini memberikan petunjuk penting. Hoag’s Object bukan sekadar galaksi berbentuk lingkaran. Ia memiliki dua komponen bintang yang berbeda secara fisik, yaitu inti pusat dan cincin luar, yang dipisahkan oleh wilayah yang relatif kosong.

Dalam citra Hubble Space Telescope, bentuk cincin tersebut terlihat sangat jelas. Cincin luar membentuk lingkaran yang hampir sempurna di sekitar inti merah. Sementara itu, ruang di antara keduanya memberikan kesan seolah inti dan cincin merupakan dua galaksi berbeda yang ditempatkan secara presisi. Padahal, keduanya merupakan bagian dari sistem galaksi yang sama.

Galaksi Lain Mengintip dari Balik Cincin

Keanehan Hoag’s Object tidak berhenti pada struktur internalnya. Di celah antara inti dan cincin luar, astronom dapat melihat sebuah galaksi cincin lain yang berada jauh lebih jauh di belakang Hoag’s Object. Secara visual, galaksi latar belakang tersebut seolah berada di dalam Hoag’s Object. Namun, keduanya sebenarnya tidak berhubungan secara fisik.

Perbedaan jarak ini merupakan konsekuensi dari perspektif pengamatan. Ketika teleskop diarahkan ke satu titik di langit, berbagai objek yang berada pada jarak berbeda dapat tampak bertumpuk dalam satu garis pandang.

Karena itulah, gambaran “galaksi di dalam galaksi” pada Hoag’s Object sebenarnya merupakan ilusi perspektif, sedangkan struktur cincin utama Hoag’s Object sendiri memang merupakan bagian dari galaksi tersebut. Kebetulan geometris ini membuat citra Hoag’s Object menjadi semakin unik.

Apakah Tabrakan Galaksi Menciptakan Cincin Itu?

Salah satu penjelasan yang paling menarik adalah bahwa Hoag’s Object merupakan hasil dari tabrakan atau interaksi gravitasi dengan galaksi lain. Galaksi bukanlah struktur statis. Selama miliaran tahun, galaksi dapat saling mendekat, berinteraksi, bahkan bertabrakan. Ketika dua galaksi berinteraksi, gravitasi dapat mengubah distribusi bintang, gas, debu, dan materi gelap di dalamnya.

Dalam salah satu skenario pembentukan galaksi cincin, sebuah galaksi yang lebih kecil dapat menembus bagian tengah galaksi yang lebih besar. Peristiwa semacam itu dapat menghasilkan gelombang kejut yang bergerak keluar melalui cakram galaksi. Gelombang tersebut kemudian dapat memampatkan gas dan memicu pembentukan bintang baru pada wilayah berbentuk cincin.

Jika mekanisme seperti itu terjadi pada Hoag’s Object, cincin biru yang terlihat sekarang mungkin merupakan wilayah pembentukan bintang yang dipicu oleh peristiwa kosmik di masa lalu. Hipotesis ini menarik karena dapat menjelaskan mengapa cincin luarnya memiliki populasi bintang yang relatif muda dibandingkan inti galaksi. Namun, ada satu persoalan besar: astronom belum menemukan bukti kuat mengenai tabrakan tersebut.

Jejak Kecelakaan Kosmik yang Tidak Ditemukan

Jika Hoag’s Object mengalami tabrakan galaksi dalam beberapa miliar tahun terakhir, seharusnya masih terdapat sejumlah jejak dari peristiwa tersebut. Salah satu tempat terbaik untuk mencarinya adalah pada gas hidrogen netral yang dapat diamati menggunakan teleskop radio.

Interaksi galaksi dapat meninggalkan ekor gas, distribusi materi yang tidak biasa, atau struktur lain yang dapat membantu astronom merekonstruksi sejarah sistem tersebut. Akan tetapi, pengamatan sejauh ini belum menghasilkan bukti yang meyakinkan mengenai sisa-sisa tabrakan yang dapat menjelaskan bentuk Hoag’s Object. Hal ini tidak serta-merta membuktikan bahwa tabrakan tidak pernah terjadi.

Jika peristiwa tersebut berlangsung sangat lama di masa lalu, jejaknya mungkin telah melemah atau menghilang. Gas dapat berubah posisi, bintang dapat bergerak, dan struktur galaksi dapat mengalami evolusi selama miliaran tahun. Dengan kata lain, sebuah tabrakan kuno mungkin telah meninggalkan bentuk cincin yang bertahan jauh lebih lama dibandingkan tanda-tanda langsung dari tabrakan itu sendiri.

Kesimetrisan yang Terlalu Sempurna

Hipotesis tabrakan juga menghadapi tantangan lain. Hoag’s Object memiliki tingkat simetri yang sangat tinggi. Galaksi cincin yang terbentuk melalui interaksi dengan galaksi lain umumnya menunjukkan berbagai ketidakteraturan. Cincin dapat tampak tidak simetris, inti dapat bergeser dari pusat, atau terdapat struktur gas dan bintang yang menunjukkan arah interaksi. Hoag’s Object justru terlihat sangat rapi.

Cincin luarnya hampir membentuk lingkaran sempurna dan mengelilingi inti pusat secara konsentris. Tidak terlihat adanya galaksi pendamping yang jelas yang dapat dengan mudah ditunjuk sebagai “pelaku” pembentukan cincin. Karena itu, Hoag’s Object tidak sepenuhnya cocok dengan contoh galaksi cincin hasil tabrakan yang lebih ­umum. hay

  • Hoag’s Object

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.