Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Guru Besar Unhas: 90 Persen Sampah Darat Berpotensi Jadi Miikroplastik

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 05:33 WIB | Oleh:
Guru Besar Unhas: 90 Persen Sampah Darat Berpotensi Jadi Miikroplastik Doc: antara foto
Ket. Sampah mikroplastik

MAKASSAR - Pakar mikroplastik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Shinta Werorilangi, mengingatkan sekitar 90 persen sampah yang berasal dari aktivitas di daratan berpotensi mencemari laut dan menjadi sumber mikroplastik.

"Sampah tersebut berasal dari berbagai aktivitas masyarakat, terutama rumah tangga, yang kemudian dapat bocor ke lingkungan melalui kanal, drainase, sungai, dan berbagai saluran air sebelum bermuara ke laut," kata Shinta di Makassar, Rabu (2/9).

Menurut dia, persoalan mikroplastik perlu dilihat dari sumber awalnya. Sampah plastik berukuran besar atau makroplastik yang tidak tertangani dengan baik dapat mengalami pelapukan dan pecah menjadi partikel berukuran sangat kecil.

Dia menjelaskan semua jenis plastik berpotensi, tergantung berapa lama dia sudah berada di lingkungan dan jenis plastiknya sendiri. Proses tersebut dapat berlangsung lebih cepat ketika sampah plastik berada di perairan.

"Pergerakan air, paparan cuaca dan suhu, serta kondisi lingkungan dapat mempercepat proses plastik terfragmentasi menjadi bagian yang lebih kecil," katanya.

Plastik dengan material lebih tipis, kata dia, cenderung lebih mudah mengalami pelapukan dibandingkan plastik yang lebih tebal. Karena itu, sampah plastik yang dibiarkan berada di lingkungan dalam waktu lama memiliki peluang lebih besar menjadi mikroplastik.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber, terutama dengan memisahkan sampah organik dan sampah kering. Pemilahan akan memudahkan proses pengolahan dan daur ulang sekaligus menjaga nilai ekonomis material yang masih dapat dimanfaatkan.

Sampah yang telah tercampur dan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA), menurut dia, akan menjadi semakin kotor sehingga menyulitkan proses pemilahan dan dapat menyebabkan nilai ekonominya turun.

"Pemilahan itu juga membuat kita memisahkan antara sampah kering dan sampah basah, atau sampah organik dan sampah anorganik," ujarnya.

Selain sistem pengelolaan, Shinta menilai sumber daya manusia yang terlibat dalam pengelolaan sampah harus memiliki pemahaman yang baik mengenai proses pemilahan, pengolahan, hingga daur ulang. Edukasi masyarakat juga diperlukan agar pemilahan dilakukan sejak dari rumah.

Ancaman mikroplastik, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada ekosistem laut. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat tertelan biota laut, seperti ikan, udang dan kepiting, kemudian berpotensi masuk ke rantai makanan ketika hasil laut dikonsumsi manusia.

Karena itu, upaya mengatasi mikroplastik harus dimulai dari daratan dengan mencegah sampah plastik bocor ke lingkungan. Pengurangan sampah plastik, pemilahan sejak sumber, pengolahan dan daur ulang dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi beban pencemaran laut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Luar Negeri
Kelompok Houthi Serang Aramco
Luar Negeri
Deforestasi Global Melambat...
Megapolitan
Visi Daerah, Desa Menjadi A...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.