Sembilan Inovasi Iklim Melaju ke Final CIIC 2026, Ada Hadiah Rp15 Miliar
Selasa, 01 Sep 2026, 19:43 WIBJAKARTA â Sembilan inovator dari berbagai negara terpilih sebagai finalis Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2026. Mereka akan memperebutkan total hadiah Rp15 miliar yang disiapkan untuk mendukung pengujian dan pengembangan solusi menghadapi tantangan perubahan iklim di Indonesia.
Kompetisi teknologi inovasi iklim tersebut memasuki penyelenggaraan tahun keempat dan dihadirkan oleh East Ventures, Temasek Foundation, serta Tencent. Selain hadiah utama, para finalis berkesempatan memperoleh penghargaan khusus berupa kredit karbon pra-pembelian senilai US$1 juta. Insentif tersebut ditujukan untuk mendukung penerapan dan pengembangan solusi iklim yang mereka kembangkan.
Sembilan finalis dipilih setelah melalui proses evaluasi dari lebih dari 850 pendaftar yang berasal dari sekitar 60 negara. Para peserta terbagi dalam tiga kategori, yakni Transisi Energi, Solusi Alam & Pangan, serta Ekonomi Sirkular.
Kategori Ekonomi Sirkular menjadi penyumbang pendaftar terbesar dengan proporsi 38,2 persen, diikuti Solusi Alam & Pangan sebesar 34,3 persen dan Transisi Energi sebesar 27,5 persen.
Indonesia menjadi negara dengan jumlah pendaftar terbanyak, disusul India, Singapura, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Para finalis membawa teknologi dan pendekatan berbeda untuk menjawab persoalan energi, pangan, pengelolaan sumber daya, hingga pengurangan emisi.
Transisi Energi
Tiga finalis berada dalam kategori Transisi Energi. CRecTech dari Singapura mengembangkan teknologi untuk mengubah biogas kelapa sawit menjadi bio-metanol. Teknologi tersebut diklaim dapat menekan biaya produksi hingga 50 persen sekaligus mengurangi emisi hingga 93 persen.
Finalis lainnya, Phase Two Chemicals dari Tiongkok, mengembangkan teknologi produksi hidrogen peroksida langsung di lokasi untuk industri pulp dan kertas. Solusi tersebut ditujukan untuk mengurangi biaya proses pemutihan hingga 25 persen dan emisi hingga 80 persen.
Sementara itu, Sun Ice Energy dari Singapura menghadirkan sistem cold storage bertenaga surya. Teknologi tersebut dirancang untuk mengurangi penggunaan diesel hingga 90 persen sekaligus menyediakan fasilitas pendinginan off-grid hingga 24 jam.
Solusi Alam & Pangan
Pada kategori Solusi Alam & Pangan, tiga inovasi menyoroti keterkaitan antara perlindungan ekosistem, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Blueyou dari Swiss mengembangkan pendekatan restorasi mangrove di lahan terdegradasi yang dipadukan dengan produksi pangan biru tanpa penggunaan pakan maupun bahan kimia. Solusi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani kecil hingga tiga kali lipat.
Dari Indonesia, Pandawa Agri Indonesia menawarkan solusi pertanian terintegrasi yang diklaim dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 50 persen, meningkatkan hasil panen hingga 15 persen, dan menekan emisi hingga 60 persen.
Finalis lainnya, Yagasu dari Indonesia, mengembangkan program yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di hampir 40.000 hektare kawasan mangrove sekaligus menghasilkan kredit karbon.
Ekonomi Sirkular
Tiga finalis lainnya membawa inovasi di bidang ekonomi sirkular dan pemanfaatan kembali limbah. Macrocycle Technologies dari Amerika Serikat mengembangkan teknologi untuk mendaur ulang poliester dari tekstil menjadi bahan tekstil kembali.
Teknologi tersebut diklaim menggunakan energi 80 persen lebih rendah, menghasilkan emisi karbon dioksida 80 persen lebih rendah, serta menggunakan air 99 persen lebih sedikit dibandingkan proses konvensional, dengan harga yang disebut setara produk konvensional.
Dari Korea Selatan, Naysor mengembangkan teknologi untuk mengubah limbah kelapa sawit menjadi bahan bakar yang lebih bersih. Solusi tersebut diklaim mampu menghasilkan bahan bakar dengan kandungan klorin 99 persen lebih rendah serta efisiensi energi tiga kali lebih tinggi.
Sementara Planet Carbon dari Indonesia mengembangkan pemanfaatan limbah pertanian menjadi biochar untuk kebutuhan carbon removal. Teknologi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan hasil panen hingga 23 persen, mengurangi penggunaan pupuk, dan meningkatkan pendapatan petani kecil.
Dorong Inovasi dari Tahap Pengembangan hingga Komersialisasi
Partner East Ventures, Avina Sugiarto, mengatakan sembilan finalis menunjukkan beragam pendekatan dalam menjawab tantangan iklim. âPara peserta tahun ini menghadirkan beragam inovasi untuk menjawab berbagai tantangan penting di bidang energi, pangan dan alam, serta ekonomi sirkular,â kata Avina.
Menurut dia, CIIC tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah bagi inovator untuk mendapatkan eksposur, membangun koneksi dengan pemangku kepentingan, dan mengembangkan solusi mereka lebih lanjut.
Dukungan juga datang dari Tencent. Vice President of Sustainable Social Value Tencent, Hao Xu, mengatakan inovasi para finalis menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melindungi ekosistem sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat.
âBerlandaskan nilai Tech for Good, Tencent dengan senang hati mendukung para inovator ini dalam memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan dan memperluas solusi praktis yang menciptakan nilai berkelanjutan bagi masyarakat dan planet kita,â ujar Hao.
Dalam beberapa bulan ke depan, para finalis akan mengikuti rangkaian mentoring bersama para pemimpin ekosistem. Materi pendampingan mencakup pengembangan kemitraan strategis, penyusunan strategi go-to-market, komersialisasi, hingga peningkatan kemampuan presentasi.
Pendampingan tersebut diharapkan membantu para finalis tidak hanya memperkuat aspek teknologi, tetapi juga mempersiapkan solusi agar dapat diterapkan secara lebih luas.
Grand Finale Digelar Oktober
Tahap penentuan pemenang akan berlangsung dalam Grand Finale Climate Impact Innovations Challenge 2026 pada 6 Oktober 2026 di Jakarta. Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Pada kesempatan tersebut, sembilan finalis akan mempresentasikan solusi mereka di hadapan juri dan pemangku kepentingan ekosistem keberlanjutan.
Total hadiah Rp15 miliar diharapkan dapat memberikan dukungan lebih lanjut bagi pengembangan dan uji coba solusi para finalis di Indonesia. Dengan semakin beragamnya inovasi yang masuk dalam kompetisi, CIIC 2026 menempatkan teknologi sebagai salah satu instrumen untuk menjawab tantangan perubahan iklim, sekaligus membuka peluang bagi solusi yang dikembangkan inovator untuk diterapkan pada skala yang lebih luas.
Selain hadiah dan pendampingan, peluang kredit karbon pra-pembelian senilai US$1 juta menjadi salah satu bentuk dukungan untuk mendorong solusi iklim dari tahap inovasi menuju penerapan nyata.
- Tencent
- perubahan iklim
- Temasek Foundation
- biochar
- energi terbarukan
- climate tech
- ekonomi sirkular
- Climate Impact Innovations Challenge
- teknologi iklim
- East Ventures
- solusi pangan
- transisi energi
- Kredit Karbon
- CIIC 2026
- Inovasi Iklim
- Restorasi Mangrove
- Carbon Removal
- Indonesia International Sustainability Forum
- IISF 2026
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Selasa, Polda Metro Jaya Buka SIM Keliling di 5 Lokasi, Segera ke Gerai Terdekat!
-
Resmi, Seluruh Semesta The Walking Dead Bakal Hadir di Netflix Mulai 2027
-
KAI Services Terapkan Teknologi Ramah Lingkungan “Smart Cleaning” di Stasiun Kereta
-
Pertanian Padi Rendah Emisi Makin Dilirik
-
Penonton Bioskop India Dikeroyok karena Beri Spoiler saat Pemutaran Film Spider-Man: Brand New Day
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.