Purwacarita Borobudur Hadirkan Sejarah Candi Lewat Teknologi Imersif di Galeri Indonesia Kaya

Selasa, 01 Sep 2026, 17:21 WIB

JAKARTA - Galeri Indonesia Kaya menghadirkan pengalaman imersif yang memadukan sejarah, budaya dan teknologi melalui "Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa".

Lewat karya imersif yang bisa dikunjungi pada September hingga Desember ini, pengunjung diharapkan mampu mengenal lebih jauh mengenai asal mula penciptaan Candi Borobudur melalui delapan pengalaman imersif yang ditampilkan dalam panel di dinding dalam galeri yang berbasis kecerdasan buatan (ethical AI).

Ket. Foto: Founder dan CEO Curaweda Azhar Muhammad Fuad (paling kiri), Direktur Program Galeri Indonesia Kaya Renitasari Adrian (kedua kiri) , President Director Bening Digital Indonesia Lia Marliana (kedua kanan) dan kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Sri Margana (paling kanan) dalam konferensi pers di Jakarta. — Sumber: ANTARA/Sinta Ambar

"Kita semua juga kan menyadari kita pada kurang suka baca orang Indonesia itu kan, lebih senangnya visual, apalagi anak muda sekarang kan. Jadi pada saat konsep ini dikasih lihat ke kita, dan AI ini sekarang semua tuh sedang berkembang, justru kita melihatnya juga, ya itu tadi, AI ini sangat berguna sekali untuk kami yang ingin menyambungkan sejarah masa lalu dengan generasi sekarang," kata Direktur Program Galeri Indonesia Kaya Renitasari Adrian dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9).

Berkolaborasi dengan Bening Digital Indonesia dan Curaweda, karya ini menjadikan riset dan fakta sejarah yang telah tervalidasi sebagai pijakan utama dalam membangun narasinya.

Pada kesempatan yang sama, Founder dan CEO Curaweda Azhfar Muhammad Fuad mengatakan bahwa AI digunakan untuk mendukung visualisasi cerita yang berbasis dengan riset mendalam oleh pakar.

Pengunjung diajak menyelami asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra atau yang dikenal Candi Borobudur, sebagaimana disebut dalam prasasti kuno, sekaligus mengenal kemegahan kosmologi Candi Borobudur melalui berbagai bentuk interaksi dalam delapan fitur.

Pertama adalah Sapa Borobudur menjadi pengantar visual mengenai lanskap dan latar zaman berdirinya Borobudur. Kemudian, Karmawibhangga dan Avadana menghadirkan kisah pada kedua relief tersebut melalui teater imersif.

20260901172034_photo_6105065419224847043_w.jpg

Salah satu panel imersif yang dihadirkan dalam "Purwacarita Borobudur" di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, di Jakarta, Selasa (1/9). Antara/Sinta Ambar

Ketiga, batu carita membawa pengunjung berinteraksi dengan empat tokoh, yaitu Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.

Mandala mengajak pengunjung mengitari Borobudur melalui gawai masing-masing sekaligus menapaki rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk.

Kelima, jelajah Borobudur menghadirkan petualangan menuju Borobudur dan candi-candi di sekitarnya.

Buku Carita mengisahkan perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami tujuan sang ayah, Raja Samaratungga, membangun Borobudur.

Ketujuh yakni Harmoni Borobudur menghadirkan gambaran alam sekitar Borobudur di masa lalu beserta satwa seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah yang merespons gerak pengunjung melalui sensor.

Serta terakhir yakni asal Mula Borobudur The Movie menjadi sajian utama yang hadir di Auditorium Galeri Indonesia Kaya untuk membawa pengunjung lebih dekat pada kisah di balik penciptaan Candi Borobudur dan relief-reliefnya. Ant

  • Purwacarita Borobudur

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.