Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menanti Arah The Fed - 1 September 2026

📅 Selasa, 01 Sep 2026, 08:45 WIB | Oleh:
Menanti Arah The Fed - 1 September 2026 Doc: Istimewa

JAKARTA – Rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan karena pasar menghadapi ketidakpastian dari dua arah sekaligus.

Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan per kembangan geopolitik yang dapat memicu penguatan dol lar AS serta mendorong arus modal ke aset aman.

Sementara dari domestik, data inflasi Agustus 2026 men jadi indikator penting untuk membaca daya beli, stabilitas harga, sekaligus arah kebijakan ekonomi ke depan.

Kombi nasi kedua sentimen tersebut membuat ruang penguatan rupiah masih terbatas dan pergerakannya cenderung volatil.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Ber jangka Ibrahim Assuabi melihat investor mencermati perkem bangan sentimen global, khususnya arah kebijakan The Fed, harga energi, serta risiko geopolitik.

Karenanya, dia mempro yeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (1/9), bergerak fluktuatif dan terbatas di kisaran 17.720- 17.780 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Senin (31/8), bergerak melemah 29 poin atau 0,16 persen dari sehari sebelumnya men jadi 17.722 rupiah per dollar AS.

“Pelemahan rupiah dipe ngaruhi memanasnya hubungan antara AS dengan Iran,” ujar Ibrahim.

Dia menambahkan pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Se lat Hormuz, pada Minggu (30/8).

Ini merupakan serangan pertama yang diketahui dilakukan oleh pihak Amerika ter hadap negara Teluk tersebut sejak akhir Juli.

“Sebagai tanggapan, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, demikian dilaporkan media Iran pada hari Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Negosiasi untuk mengakhiri konflik disebut sedang me nemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebe lum perang pecah pada akhir Februari 2026.

Sentimen lain nya berasal dari pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole.

Warsh menekankan bahwa fokus utama bank sentral saat ini yaitu stabilitas harga, yang mendorong pasar untuk me ningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemu an The Fed di bulan September, karena masih ada pekerjaan rumah untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Megapolitan
Jenazah ABK Arupadhatu 1 Be...
Daerah
Kualitas Udara Pontianak Ca...
Nasional
Perkuat Peran Posyandu untu...

AS Undang Putin Hadiri KTT G20 di Klub Golf Trump

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
AS Undang Putin Hadiri KTT ...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.