Federer Terharu saat Masuk ke Hall of Fame, Kenang Perjalanan 40 Tahun Bersama Tenis
📅 Senin, 31 Agu 2026, 00:30 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraNEWPORT, RHODE ISLAND – Roger Federer tak kuasa menahan air mata ketika namanya resmi diabadikan dalam International Tennis Hall of Fame, Minggu (30/8). Mantan petenis nomor satu dunia itu mengungkapkan rasa cinta dan terima kasihnya kepada olahraga yang telah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.
Juara 20 kali Grand Slam tersebut mengatakan dirinya masih terus menulis “surat cinta” kepada tenis, meski perjalanan sebagai pemain profesional telah berakhir.
Federer dilantik masuk ke Hall of Fame bersama broadcaster sekaligus jurnalis Mary Carillo dalam sebuah seremoni di Newport, Rhode Island. Dalam pidatonya, Federer beberapa kali terlihat emosional hingga meneteskan air mata ketika mengenang perjalanan panjang kariernya.
“Ini adalah salah satu penghargaan terbesar dalam hidup saya. Mereka menyebutnya Hall of Fame, tetapi ketenaran tidak pernah menjadi tujuan saya,” kata Federer.
“Tujuan saya adalah menghabiskan hidup dengan melakukan sesuatu yang saya cintai, bersama orang-orang yang mencintainya sebesar saya.”
Federer menutup karier pada 2022 dengan 103 gelar ATP Tour. Sepanjang perjalanan profesionalnya, ia memenangkan rekor delapan gelar Wimbledon, enam Australian Open, lima US Open, serta satu gelar Prancis Open.
Ia juga menghabiskan 310 pekan sebagai petenis nomor satu dunia, sebuah catatan yang menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah olahraga.
Federer dikenal bukan hanya karena jumlah trofi yang diraihnya, tetapi juga gaya bermain yang elegan dan penuh kreativitas.
Ia identik dengan headband yang menjadi bagian dari penampilannya di lapangan. Dalam pidatonya, Federer bahkan bercanda bahwa dirinya mungkin telah mengenakan lebih dari 5.000 headband sepanjang karier.
Ia juga hampir selalu bermain dengan dua pasang kaus kaki, sebuah kebiasaan yang menjadi ciri khas lainnya.
“Tenis sangat berarti bagi saya. Bukan hanya tentang bermain, bukan hanya tentang menang, tetapi tentang menciptakan sesuatu yang baru,” ujar Federer.
Mantan petenis Swiss itu mengatakan dirinya selalu berusaha bereksperimen dengan permainan.
“Saya dulu bermain serve and volley, memiliki permainan transisi, terkadang bermain jauh di belakang baseline atau tepat di atas baseline. Bahkan ketika melakukan return, saya mencoba mendekati lawan secara tiba-tiba. Beberapa orang sekarang menyebutnya SABR (Sneak Attack by Roger),” katanya.
Namun, menurut Federer, bagian paling penting dari perjalanan hidupnya justru banyak terjadi di luar lapangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!