Candi Muara Takus, Jejak Kehidupan Sriwijaya di Tepi Sungai Kampar
Jumat, 28 Agu 2026, 07:14 WIBBERADA tak jauh dari perbatasan Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat, situs ini menjadi peninggalan sejarah paling penting bagi Pulau Sumatra. Kompleks percandian seluas 2,5 hektar di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar ini memperlihatkan jejak perkembangan agama Buddha dan kebudayaan masa lampau di wilayah Riau.
Berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, perjalanan menuju lokasi membawa wisatawan menyusuri bentang alam pedesaan sebelum tiba di kompleks percandian di dekat aliran Sungai Kampar Kanan.
Sebagai situs bercorak Buddha, Candi Muara Takus memiliki karakter arsitektur yang berbeda dengan kompleks candi di Pulau Jawa. Situs ini juga dikenal sebagai candi tertua di Sumatra dan menjadi bukti sejarah penting bahwa agama Buddha pernah berkembang pesat di kawasan tersebut.
Kompleks Candi Muara Takus secara umum menghadap ke arah timur. Bangunan utamanya, Candi Tua, memiliki tangga naik dan pintu masuk yang membentang ke timur, sejalan dengan tradisi arsitektur candi Hindu-Buddha di Nusantara yang mengorientasikan bangunan ke arah terbitnya matahari.
Tepi Sungai Kampar
Kompleks utama Candi Muara Takus dikelilingi tembok batu putih berukuran 74 x 74 meter dengan tinggi kurang lebih 80 sentimeter. Di luar tembok utama, terdapat struktur tembok tanah yang jauh lebih luas berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang membentang hingga ke tepian Sungai Kampar Kanan.
Di dalam kawasan utama berdiri beberapa bangunan, yaitu Candi Tua (Candi Sulung), Candi Bungsu, Stupa Mahligai, dan Palangka. Masing-masing bangunan mempunyai bentuk dan karakter arsitektur yang unik, sehingga menarik untuk dijelajahi karena memperlihatkan variasi fungsi, ukuran, dan konstruksi.
Usia Menjadi Perdebatan
Daya tarik lain dari Candi Muara Takus terletak pada sejarah pendiriannya yang belum dipastikan secara mutlak. Para pakar purbakala memiliki pendapat berbeda mengenai masa pembangunan situs ini, mulai dari abad ke-4, ke-7, ke-9, hingga abad ke-11. Ketidakpastian ini justru memikat wisatawan untuk membayangkan bagaimana kawasan ini digunakan serta kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Candi ini juga sering dikaitkan dengan jaringan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, meski hubungan langsungnya masih menjadi bagian dari kajian arkeologi. Nilai penting situs ini kian diperkuat dengan pencalonannya sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2009.
Dibangun dari Bata, Batu Sungai dan Batu Pasir
Material Candi Muara Takus berbeda dari mayoritas candi di Jawa yang berbahan batu andesit pegunungan. Candi ini dibangun menggunakan kombinasi batu pasir, batu sungai, dan batu bata. Bahan tanah liat untuk pembuatan bata diduga berasal dari Desa Pongkai yang berjarak sekitar enam kilometer di sebelah hilir candi, kawasan yang kini telah tergenang Waduk PLTA Koto Panjang.
Nama Pongkai memiliki beberapa penafsiran. Salah satu pendapat mengaitkannya dengan bahasa Tionghoa, yakni pong (lubang) dan kai (tanah), sementara pendapat lain menghubungkannya dengan kata pangkali dalam bahasa Siam yang berarti sungai.
Stupa Mahligai
Stupa Mahligai merupakan struktur yang paling utuh di kompleks Candi Muara Takus. Bangunan ini terdiri atas bagian kaki, badan, dan atap, dengan fondasi persegi panjang berukuran 9,44 x 10,6 meter. Alasnya memiliki 28 sisi yang mengelilingi bangunan dengan pintu masuk di sisi selatan.
Pada bagian alas terdapat ornamen lotus ganda, dihiasi menara silindrik 36 sisi yang menyerupai kelopak bunga pada bagian dasarnya. Penelitian mengindikasikan bahwa Stupa Mahligai dibangun secara bertahap.
Dahulu, empat sudut fondasinya dihiasi arca singa duduk dari batu andesit, sedangkan puncak menaranya diduga pernah dihiasi batu berornamen daun oval dan relief.
Candi Tua
Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan terbesar di kompleks ini dengan fondasi berukuran 31,65 x 20,20 meter. Bagian kakinya terdiri atas dua tingkat dan memiliki tangga masuk berdekorasi arca singa di sisi barat dan timur.
Berbeda dari candi pada umumnya, bagian dalam Candi Sulung tidak memiliki ruang kosong. Struktur utamanya tersusun dari bata, sedangkan batu pasir digunakan pada sudut bangunan, pilaster, dan pembatas. Dinding lama yang tertutup oleh dinding baru menunjukkan bahwa Candi Tua setidaknya mengalami dua tahap pembangunan.
Candi Bungsu dan Temuan Artefak
Candi Bungsu terletak di sebelah barat Stupa Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Bagian atasnya berbentuk segi empat, dilengkapi stupa-stupa kecil dan tangga batu putih di sisi timur, serta fondasi 20 sisi berhiaskan relief teratai.
Candi ini memiliki catatan arkeologis berharga. Penelitian Yzerman menemukan lubang di pinggir padmasana stupa berisi tanah, abu, serta potongan emas bergoreskan gambar tricula dan huruf Nagari. Penggunaan batu pasir di sisi utara dan bata di sisi selatan mengindikasikan bahwa Candi Bungsu juga dibangun melalui beberapa tahapan.
Bangunan Kecil yang Diduga sebagai Altar
Di sisi timur Stupa Mahligai terdapat bangunan Palangka yang berukuran lebih kecil, yaitu 5,10 x 5,7 meter dengan tinggi sekitar dua meter. Struktur berbahan bata dengan pintu masuk menghadap ke utara ini diduga kuat berfungsi sebagai altar dalam ritual keagamaan masa lampau.
Selain bangunan utama, di kawasan situs juga ditemukan gundukan yang diperkirakan sebagai lokasi pembakaran tulang manusia, serta sisa-sisa struktur bata di luar kawasan utama yang fungsi aslinya masih diteliti.
Wisata Sejarah di Tengah Alam Kampar
Kunjungan ke Candi Muara Takus memadukan pengalaman sejarah, arkeologi, budaya, dan lanskap alam. Aliran Sungai Kampar Kanan, suasana pedesaan, serta lanskap hijau memberikan kesegaran yang berbeda dari destinasi perkotaan, sekaligus menyajikan berbagai sudut fotografi yang menarik bagi wisatawan.
Namun, nilai utama Candi Muara Takus tetap terletak pada narasi sejarahnya. Situs ini menjadi bukti nyata perjalanan panjang agama Buddha di Sumatra yang terhubung dengan jaringan peradaban Asia Tenggara masa lalu.
Jejak Peradaban Lama
Candi Muara Takus memperlihatkan sisi lain Riau yang tidak hanya lekat dengan budaya Melayu, tetapi juga menyimpan kekayaan peninggalan Buddhisme kuno. Keberadaan Stupa Mahligai, Candi Tua, Candi Bungsu, dan Palangka membentuk satu kesatuan kawasan bersejarah yang utuh.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah Nusantara secara mendalam, Candi Muara Takus merupakan destinasi yang sangat layak dikunjungi. Candi Muara Takus bukan sekadar bangunan kuno, melainkan jejak peradaban yang menghubungkan sejarah Riau dengan perjalanan panjang Buddhisme di Sumatra, sebuah warisan bernilai tinggi yang masih menyimpan banyak cerita untuk ditelusuri. hay
- Candi Muara Takus
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.