Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat
📅 Senin, 24 Agu 2026, 04:51 WIB | Oleh: OpikHAIKOU - Tidak banyak orang mengetahui bahwa daun istimewa yang berasal dari Kepulauan Maluku itu kini tumbuh subur ribuan kilometer jauhnya di Hainan, Tiongkok selatan.
Di Indonesia, daun pandan dikenal sebagai "jiwa hijau" dapur. Beberapa lembar daun pandan yang digunakan dalam kue lapis, ketan, atau hidangan penutup dingin sudah cukup untuk memberikan aroma khas yang mengingatkan pada wangi nasi yang dibungkus menggunakan daun bambu.
Sejak tahun 1950-an, warga Tiongkok perantauan yang kembali dari Indonesia dan berbagai wilayah lainnya menetap di Xinglong, sebuah kawasan di Wanning, Provinsi Hainan, serta membawa tradisi kuliner berbahan dasar pandan ke daerah tersebut.
"Ketika masih kecil, kami selalu menanam beberapa pohon pandan di halaman. Setiap kali membuat kue Nyonya atau memasak kari, kami tinggal memetik beberapa lembar. Aroma itu adalah aroma rumah," kenang Liang Jinhua, warga Tiongkok perantauan yang kembali menetap di Xinglong.
Keluarga Liang membuka Restoran Indonesia Isana di Xinglong. Pada Februari 2023, restoran tersebut memperoleh sertifikasi sebagai "Restoran Pelestari Cita Rasa Kuliner Indonesia" dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou.
Bagi Liang, pandan bukanlah sekadar bahan masakan, melainkan juga benang budaya yang menghubungkan para warga Tiongkok yang telah kembali dari perantauan dengan tanah leluhur dan Tanah Air kedua mereka.
Dukungan kebijakan juga menjadi faktor penting. Sebelumnya, pandan tidak tercantum dalam katalog nasional bahan pangan yang disetujui di Tiongkok, dan produk olahan pandan sempat ditarik dari pasaran setelah adanya laporan terkait belum tersedianya standar yang berlaku.
Namun, selama empat hingga lima dekade pertama setelah ditanam di Hainan, budi daya pandan hanya dilakukan secara terpencar dalam skala kecil dan tidak pernah berkembang menjadi industri yang sesungguhnya.
Perubahan terjadi berkat adanya inovasi ilmiah. Sejak tahun 1980-an, Institut Penelitian Rempah dan Minuman di bawah Akademi Ilmu Pertanian Tropis Tiongkok (Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences/CATAS) mulai mengumpulkan serta melestarikan sumber daya plasma nutfah pandan, hingga akhirnya berhasil mengembangkan varietas unggul bernama "Zongxiang Banlan" yang dikenal memiliki aroma kuat.
Ji Xunzhi, seorang peneliti di institut tersebut, menjelaskan bahwa pandan tidak menghasilkan bunga maupun buah dan hanya dapat diperbanyak melalui tunas akar. Selama ini, rendahnya tingkat kelangsungan hidup bibit menjadi kendala utama dalam budi daya skala besar.
Tim peneliti berhasil mengatasi kendala tersebut dengan mengembangkan teknik perbanyakan cepat berbasis kultur jaringan untuk menyediakan bibit yang sehat dan seragam. Mereka juga mengembangkan pupuk organik khusus guna meningkatkan intensitas aroma daun, serta melakukan uji toksikologi secara menyeluruh guna memberikan dasar ilmiah bagi keamanan pangan.
Dukungan kebijakan juga menjadi faktor penting. Sebelumnya, pandan tidak tercantum dalam katalog nasional bahan pangan yang disetujui di Tiongkok, dan produk olahan pandan sempat ditarik dari pasaran setelah adanya laporan terkait belum tersedianya standar yang berlaku.
Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah semakin eratnya pertukaran di bidang pertanian antara Hainan dan Indonesia. Pada April tahun ini, delegasi dari Universitas Hainan mengunjungi Indonesia untuk mendorong kerja sama secara aktif melalui Aliansi Universitas Kawasan Tropis.
Pada 2023, standar keamanan pangan daerah Hainan untuk pandan tersebut mulai resmi berlaku, menjadikan Hainan sebagai satu-satunya provinsi di Tiongkok yang saat ini memperbolehkan produksi dan pengolahan pangan berbahan dasar pandan secara legal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!