India Incar Prancis Gabung Proyek Jet Tempur Siluman, Setelah Program Eropa Retak
📅 Senin, 10 Agu 2026, 00:03 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SNEW DELHI - India mulai membuka jalan menuju kerja sama baru dengan Prancis untuk mengembangkan pesawat tempur generasi berikutnya. Kementerian Pertahanan India secara resmi mengonfirmasi bahwa New Delhi tengah melakukan langkah terkoordinasi untuk bergabung dalam program Future Combat Air System (FCAS) yang dipimpin Prancis.
Dari Military Watch Magazine, langkah ini berpotensi mengubah arah strategi India dalam membangun kekuatan udara masa depan. Apalagi, keputusan tersebut muncul setelah proyek FCAS yang sebelumnya melibatkan Prancis dan Jerman berada di ambang kehancuran akibat perselisihan panjang antara Dassault Aviation dan Airbus.
Dalam laporan kepada Parlemen India, Kementerian Pertahanan menyebut proses untuk bergabung dengan program yang dipimpin pemerintah Prancis sudah mulai dilakukan. Informasi mengenai penjajakan kerja sama tersebut sebenarnya telah muncul sejak Februari 2026, tetapi baru kini mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah India.
Jika India benar-benar masuk, New Delhi berpotensi menggantikan posisi Jerman sebagai mitra penting dalam proyek tersebut. Kehadiran India juga bisa memberikan suntikan skala, pendanaan, serta kapasitas industri baru bagi program jet tempur Eropa yang selama ini menghadapi persoalan biaya dan pembagian peran antarnegara.
Bagi India, tawaran tersebut juga menarik karena konsep FCAS memiliki sejumlah karakteristik yang sejalan dengan kebutuhan strategis New Delhi. Program ini menekankan kemampuan tempur jarak jauh, kemandirian strategis, sistem pencegahan nuklir, hingga kemampuan operasi dari kapal induk.
Namun, kerja sama tersebut bukan tanpa persoalan.
India sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam mengembangkan pesawat tempur domestik. Program Tejas, misalnya, mengalami perjalanan pengembangan yang jauh lebih lama dari rencana awal. Pesawat tersebut melakukan penerbangan perdana pada 2001 dan baru mulai memasuki layanan secara terbatas pada 2019.
Produksi lokal pesawat Su-30MKI juga menghadapi persoalan biaya. Pesawat yang dibuat melalui lisensi di India disebut memiliki harga jauh lebih tinggi dibandingkan unit yang diproduksi di Rusia. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar efisiensi yang bisa dihasilkan jika industri India dilibatkan dalam proyek FCAS.
Di sisi lain, Prancis juga memiliki kepentingan strategis tersendiri.
Masuknya India dapat memberikan tambahan pendanaan sekaligus memperluas basis industri FCAS. Kerja sama tersebut juga berpotensi memperkuat posisi Paris di pasar pesawat tempur generasi berikutnya, terutama ketika India masih mempertimbangkan berbagai opsi untuk memenuhi kebutuhan jet tempurnya hingga dekade mendatang.
Saat ini India juga mengembangkan pesawat tempur siluman Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA). Program tersebut bahkan disebut telah mencapai tahap yang relatif matang. Karena itu, muncul pertanyaan apakah keterlibatan India dalam FCAS nantinya akan melengkapi AMCA atau justru menciptakan dua program yang saling bersaing dalam kebutuhan anggaran dan sumber daya.
Persoalan lainnya adalah teknologi.
India sebelumnya memiliki pengalaman kurang mulus dalam memperoleh akses teknologi dari Prancis. Dalam kerja sama Rafale, salah satu isu yang menjadi perhatian adalah keterbatasan akses terhadap sejumlah teknologi inti dan perangkat lunak avionik.
Kondisi tersebut berpotensi kembali menjadi titik krusial jika India bergabung dalam proyek FCAS. New Delhi tentu menginginkan keterlibatan industri yang lebih besar dan transfer teknologi yang signifikan, sementara Prancis selama ini dikenal sangat berhati-hati dalam membuka teknologi strategis pesawat tempurnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!