Buntut Krisis Ceuta, Uni Eropa Desak Meta dan TikTok Bertindak Tegas Perangi Disinformasi di Media Sosial

Sabtu, 08 Agu 2026, 12:00 WIB

BRUSSELS - Kepala teknologi Uni Eropa menyerukan kepada Meta dan TikTok agar "bertindak tegas" membendung disinformasi di saat krisis. Komisi Eropa telah mengadakan pembicaraan dengan kedua platform tersebut pada hari Jumat setelah lonjakan migran di Ceuta pekan lalu.

Ket. Foto: Sekelompok migran mendekati pos perbatasan untuk kembali ke Maroko, dikawal tentara infanteri Spanyol, di wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, pada 2 Agustus 2026. Foto: — Sumber: AFP

Gelombang disinformasi di media sosial diyakini telah memainkan peran besar dalam serbuan mematikan puluhan ribu orang (pria, wanita, dan anak-anak) ke wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, setelah adanya rumor perbatasan Ceuta terbuka, menyebar di media sosial.

"Platform harus bertindak tegas dalam menjaga integritas ruang digital, khususnya selama situasi krisis," kata Henna Virkkunen, komisioner untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi.

"Pengawasan harus ditingkatkan, kerja sama dengan pemeriksa fakta harus diperkuat," kata Virkkunen. Uni Eropa akan "menindaklanjutinya pada hari Senin".

Spanyol bertindak cepat memulangkan orang-orang dari Ceuta, mengumumkan bahwa dari 72.000 orang yang memasuki wilayah kantong itu dari Maroko pada tanggal 30-31 Juli, semuanya kecuali 2.000 telah kembali. Otoritas Spanyol mengatakan 80 orang meninggal dalam penyeberangan tersebut.

Insiden tersebut langsung dimanfaatkan oleh kelompok sayap kanan sebagai bukti bahwa Eropa sedang dikepung oleh imigrasi yang tidak terkendali. Hal ini telah menyebabkan keretakan diplomatik antara Spanyol dan sesama anggota Uni Eropa, Italia, yang menerapkan kebijakan keras terhadap migrasi.

Kepala urusan migrasi Uni Eropa, Magnus Brunner, pada hari Selasa menggambarkan insiden Ceuta sebagai "ujian" terhadap keamanan perbatasan blok tersebut dan "ketahanan terhadap disinformasi".

Penyeberangan tersebut "dipicu oleh jaringan penyelundupan kriminal dan juga disinformasi," kata Brunner. Ia memperingatkan bahwa "masih terlalu dini" untuk mengatakan siapa yang berada di balik "instrumentalisasi" situasi secara daring -- apakah penyelundup atau kekuatan asing seperti Russia.

Namun, ia memperingatkan, Uni Eropa "harus memperkuat kemampuan untuk mengikuti tren disinformasi di media sosial, bekerja sama erat dengan Europol dan semua badan Uni Eropa lainnya."

Investigasi sumber terbuka oleh perusahaan teknologi Golden Owl telah menyimpulkan "dengan tingkat keyakinan yang tinggi" bahwa gelombang migran tersebut "adalah operasi yang sengaja diorganisir".

AFP, bersama dengan media lain, dibayar oleh beberapa platform (Meta, Google, TikTok) untuk melakukan pekerjaan dalam memerangi disinformasi.

  • Krisis Ceuta

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.