Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Terlibat di Pentas Teater, Idgitaf Bikin 5 Lagu tentang Keluh Kesah Pekerja Gen Z

31 Jumat, 07 Agu 2026, 09:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Terlibat di Pentas Teater, Idgitaf Bikin 5 Lagu tentang Keluh Kesah Pekerja Gen Z Terlibat di Pentas Teater, Idgitaf Bikin 5 Lagu tentang Keluh Kesah Pekerja Gen Z Doc: Spotify
Ket. Penyanyi dan penulis lagu, Idgitaf.

JAKARTA - Penyanyi sekaligus penulis lagu Idgitaf mengonfirmasi keterlibatannya sebagai penggubah lima lagu orisinal baru yang akan mengisi lika-liku perasaan Kaluna dalam pementasan teater "Home Sweet Loan The Musical".

Pengumuman tersebut disampaikan dalam sesi konferensi pers bersama tim produksi di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, Kamis.

Kelima nomor lagu baru yang disiapkan itu masing-masing memiliki judul "Beli Sekarang", "Riuh Jakarta", "Satu Nafas Lagi", "Amarah Seperti Apa", dan "Zona Aman". Ragam karya teranyar ini dirancang secara lugas tanpa berbelit, menurut Idgitaf, guna menyuarakan keluh kesah para pekerja keras kelas urban sekaligus generasi roti lapis (sandwich generation).

"Proses dari penulisan lima lagu ini enggak fix lima awalnya. Jadi aku bilang, 'Coba aja dulu satu. Kalau kamu suka cara kerja aku, kita gas terus.' Soalnya kan aku vibe check itu belum pernah sama dua perempuan (tim penulis) ini," ujar Idgitaf saat menceritakan awal mula keterlibatannya.

Meskipun harus meramu lagu dari sebuah naskah drama, ia mengaku tidak merasa terbebani selama proses kreatif berlangsung.

"Tapi sebenarnya kalau ditanya tantangannya apa, jujur aku enggak merasa begitu semenantang itu. Menurut aku enggak seberat itu. Kenapa? Karena aku mengerjakan karya yang bukan karyaku. Aku balik lagi, bukan cerita gue, ini cerita orang. Jadi gua hanya menyampaikan apa yang orang ini rasakan. Gua enggak sok-sokan leveling sama diri gue," kata Idgitaf.

Idgitaf juga membeberkan karakteristik penulisan liriknya yang unik dan cenderung berbeda dari pakem penataan musik teater pada umumnya.

"Aku tipe penulis lirik yang sering kali judul dulu baru lagunya. Karena judul tuh kayak memberikan premis jelas ini tentang apa, gitu. Jadi beda banget sama kayak Kak Ivan (penata musik Ivan Tangkulung) yang biasanya nada dulu baru liriknya. Aku kayak lirik dulu, jadi mereka ngobrol, aku tulis semuanya," tuturnya menambahkan.

Dari kelima materi yang disiapkan, ia menyebut lagu berjudul "Amarah Seperti Apa" sebagai salah satu karya andalannya. Sementara itu, untuk bagian penutup pertunjukan, ia menyiapkan lagu berjudul "Satu Nafas Lagi" yang dirancang dengan pendekatan minimalis namun mendalam.

"Aku tuh awalnya kayak, 'Oke, gue mau bikin ini kayak grand, big banget, show banget.' Tapi aku balik lagi, maksudnya, kita nyari apa di Kaluna tuh? Apakah kita nyari kemewahan? Tidak, mending ke Grand Indonesia, gitu. Kita nyari di Kaluna tuh adalah sebuah relief, sebuah pengakuan, sebuah validasi. Jadi, kayak ya udah Satu Nafas Lagi, gitu. Kayaknya kita bisa bertahan mungkin satu nafas lagi," ucap pelantun lagu Berakhir di Aku tersebut.

Proyek teater musikal ini merupakan bentuk penggabungan lintas ekosistem kreatif berskala besar yang mempertemukan industri perfilman, teater musikal, dan pengembangan seni pertunjukan. Produksi adaptasi ini digarap secara kolaboratif oleh Visinema Pictures, Indonesia Kaya, serta komunitas teater pemuda Jakarta Art House.

Program Director Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, menjelaskan bahwa proyek ini sekaligus menjadi ruang pembinaan karena melibatkan banyak talenta baru dari alumni program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya (IMB).

"Ini juga menjadi project membanggakan karena banyak teman-teman dari alumni programnya Indonesia Kaya, Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya, yang terlibat di tim. Di tim kreator sudah ada sutradaranya Lisa Reideka dari IMB Angkatan Ketiga," jelas Billy.

Selain itu koreografernya sudah malang melintang di West End kembali ke West Mall, Indonesia, kembali ke Galeri Indonesia Kaya, ada El Haq Latief yang sudah berkarier di London West End, IMB angkatan pertama, dan juga banyak teman-teman yang terlibat dari IMB satu, dua, dan tiga yang terlibat jadi pemain juga, katanya.

Pada kesempatan yang sama, penulis novel asli "Home Sweet Loan", Almira Bastari, menambahkan bahwa gagasan awal penulisan cerita itu lahir dari pengalamannya sendiri saat masih aktif bekerja sebagai seorang analis finansial.

"Sebagai financial analyst, setiap pagi itu harus baca Bloomberg dan Wall Street Journal. Terus hari itu ada artikel anak muda di Hong Kong tuh harus nyicil apartemen studio 25 tahun gitu. Dan saya rasa isu ini ternyata enggak cuma di kita aja nih orang-orang anak muda tuh susah beli rumah, di negara-negara lain pun di seluruh dunia juga ada kesulitan itu," ungkap Almira.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Pemkot Bekasi Segera Bangun "Flyover" Bulak Kapal

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Pemkot Bekasi Segera Bangun...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.