Hilirisasi Harus Berbasis pada Teknologi Futuristik
Rabu, 29 Jul 2026, 01:05 WIBJAKARTA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan program hilirisasi dan industrialisasi di sektor pertambangan tidak boleh lagi hanya bergantung pada teknologi jangka pendek yang ada saat ini.
Dalam agenda BRIN Goes To Industry 5 (BGTI 5) bertajuk âHilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambanganâ di Jakarta, Selasa (28/7), Arif mengingatkan pelaku industri harus mulai memikirkan proyeksi teknologi masa depan agar investasi bernilai besar yang dikucurkan tidak berakhir sia-sia akibat adopsi teknologi yang cepat usang (obsolete).
âJangan sampai kita melakukan kegiatan industrialisasi dan investasi yang berbasis pada teknologi jangka pendek. Membangun pabrik atau industri butuh waktu dua hingga tiga tahun, saat baru selesai, teknologinya sudah usang karena sudah muncul teknologi baru,â katanya.
Arif menjelaskan kecepatan lompatan teknologi global saat ini terjadi secara luar biasa. Oleh karena itu dalam mendesain sebuah riset maupun rancangan pabrik hilirisasi, pendekatannya tidak boleh hanya berbasis pada aspirasi dan kebutuhan hari ini semata, melainkan harus melibatkan imajinasi futuristik.
Dia pun mendorong ekosistem industri pertambangan untuk melakukan pemetaan atau proyeksi tren teknologi (forecasting) jauh ke depan, setidaknya untuk membaca arah perkembangan industri pada tahun 2035 hingga 2040 mendatang.
âKita harus menggunakan AI, expert, serta kemampuan membaca tren dunia, sehingga kita bisa memahami ke depan itu teknologi apa yang kira-kira akan dipakai,â ujarnya.
Guna mewujudkan ekosistem yang berpandangan maju tersebut, Arif menyatakan BRIN terus mendorong instansinya untuk mengambil peran strategis dalam membantu industri melakukan forecasting teknologi.
Pendekatan ini ditargetkan mampu memetakan tren instrumen apa saja yang akan relevan di sektor pertambangan dan energi dalam beberapa dekade mendatang.
Melalui sinergi erat antara lembaga riset dan pelaku usaha pertambangan, Kepala BRIN berharap proses hilirisasi mineral di Indonesia dapat berjalan lebih efektif, memiliki daya saing yang tinggi di pasar global, serta tidak lagi tertinggal oleh pesatnya inovasi dari negara-negara maju.
Sangat Valid
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyebut pernyataan Kepala BRIN merupakan pandangan strategis yang sangat valid bagi masa depan industri pertambangan Indonesia.
Hilirisasi saat ini katanya menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional, peringatan mengenai risiko teknologi yang cepat usang atau obsolescence menyentuh akar permasalahan keberlanjutan investasi jangka panjang.
âPernyataan yang disampaikan ini adalah sebuah wake-up call bagi pemerintah dan pelaku industri agar tidak terlena dengan euforia hilirisasi jangka pendek,â katanya.
Fabby pun menekankan, hilirisasi yang sukses bukan hanya diukur dari banyaknya pabrik yang berdiri hari ini, melainkan tentang membangun ekosistem industri yang adaptif dan tangguh, serta produknya dapat bersaing di pasar dunia.
Keberhasilan visi tersebut, lanjut Fabby, akan sangat bergantung pada seberapa kuat sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi riset BRIN, dan keberanian industri dalam berinvestasi secara visioner.
Jika ketiga pilar itu berjalan bersama, Indonesia berpeluang membangun industri tambang hilir yang tidak hanya besar secara kapasitas, tetapi juga berkelanjutan dan berdaya saing global.
- Teknologi Futuristik
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.