Tak Lagi Sekolah Siang, SD Inpres Naimata Bangkit Berkat Program Revitalisasi Pendidikan Presiden Prabowo.

Rabu, 22 Jul 2026, 11:52 WIB

Pagi itu, senyum Ricky dan Radja tampak berbeda. Dua siswa kelas VI SD Inpres Naimata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tersebut melangkah menuju ruang kelas dengan wajah ceria.

Tidak ada lagi rasa cemas karena harus menunggu giliran masuk sekolah pada siang atau bahkan sore hari. Bagi mereka, sekolah kini terasa seperti tempat yang baru.

Ket. Foto: Sejumlah pelajar melompat gembira di halaman sekolah yang baru saja selesai diperbaiki lewat program Revitalisasi Pendidikan di SD Inpres Naimata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur , Selasa (21/7). — Sumber: Antara Foto

Dinding ruang kelas berdiri kokoh dengan cat yang masih bersih. Atap tidak lagi bolong dan bakal aman ketika hujan turun. Ruang belajar lebih terang, ventilasi udara lebih baik, dan halaman sekolah tampak lebih rapi.

Perubahan itu hadir setelah SD Inpres Naimata mendapat bantuan melalui Program Revitalisasi Pendidikan, salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki sarana pendidikan di berbagai daerah.

Namun, bangunan baru hanyalah bagian yang terlihat. Yang lebih berarti bagi Ricky dan Radja adalah perubahan cara mereka menjalani hari sebagai pelajar.

"Dulu kami masuk bergantian karena ruang kelas tidak cukup," kata Ricky.

Selama bertahun-tahun, keterbatasan ruang belajar memaksa sekolah menerapkan sistem shift. Sebagian siswa belajar sejak pagi, sementara kelompok lain baru masuk siang hingga sore.

Bahkan, pada hari-hari tertentu, kegiatan belajar mengajar baru berakhir ketika matahari mulai tenggelam. Bagi anak-anak seusia mereka, kondisi itu bukan perkara mudah.

Saat mendapat jadwal siang, mereka harus menunggu berjam-jam di rumah sebelum berangkat ke sekolah. Ketika jadwal sore, rasa lelah sering datang lebih dulu dibanding semangat belajar.

"Kadang mengantuk di kelas," ujar Radja sambil tersenyum malu.

Pulang sekolah pun menjadi tantangan tersendiri.

Saat teman-teman di sekolah lain sudah bermain atau belajar di rumah, Ricky dan Radja justru masih duduk di bangku kelas. Ketika bel pulang berbunyi, langit mulai redup.

Sesampainya di rumah, waktu untuk beristirahat maupun mengerjakan pekerjaan rumah semakin terbatas. Orang tua mereka juga kerap khawatir ketika anak-anak harus pulang menjelang malam.

Kini cerita itu tinggal kenangan. Dengan bertambahnya ruang kelas melalui program revitalisasi, seluruh siswa kembali belajar dalam satu waktu pada pagi hari. Tidak ada lagi pembagian shift.

Suasana sekolah pun berubah. Guru dapat mengatur pembelajaran lebih efektif. Anak-anak lebih segar mengikuti pelajaran karena belajar sejak pagi. Seusai sekolah, mereka masih memiliki cukup waktu bermain, membantu orang tua, maupun mengulang pelajaran di rumah.

Bagi Ricky, perubahan itu membuatnya lebih mudah berkonsentrasi.

"Kalau pagi, badan masih segar jadi lebih semangat belajar," katanya.

Radja merasakan hal yang sama. Ia kini tidak lagi khawatir pulang saat hari mulai gelap.

"Senang sekolahnya sudah bagus. Sekarang pulangnya masih siang," ujarnya.

Perubahan yang mereka rasakan mungkin terlihat sederhana. Sebuah gedung baru, ruang kelas yang lebih layak, dan jadwal belajar yang kembali normal.

Namun, bagi anak-anak seperti Ricky dan Radja, perubahan itu berarti kesempatan untuk belajar dengan lebih nyaman dan aman.

Di balik bangunan sekolah yang berdiri lebih kokoh, tersimpan harapan agar anak-anak dapat mengejar cita-cita tanpa lagi dibatasi oleh ruang kelas yang sempit atau waktu belajar yang tidak ideal.

Bagi Ricky dan Radja, sekolah bukan lagi tempat yang membuat mereka harus menunggu giliran belajar hingga sore.

Kini, sekolah menjadi tempat yang memberi semangat untuk datang setiap pagi, bersama teman-teman, menata mimpi yang mereka yakini bisa diraih.

Memori tentang ruang kelas lama masih lekat di benak Ricky dan Radja. Bangunannya mulai menua, cat dinding kusam, dan cahaya matahari sulit menembus ruangan karena jendela yang kecil serta sebagian sudah rusak.

Saat pelajaran berlangsung, suasana kelas terasa redup sehingga lampu harus dinyalakan meski masih siang.

Sirkulasi udara pun kurang baik. Ketika cuaca Kota Kupang terasa panas, ruang kelas menjadi pengap. Anak-anak sering mengipas wajah dengan buku tulis agar tetap nyaman mengikuti pelajaran.

Kini suasana itu berubah total. Setelah sekolah direvitalisasi melalui Program Revitalisasi Pendidikan, ruang-ruang kelas tampil lebih terang dengan bukaan jendela yang lebih besar sehingga cahaya alami leluasa masuk.

Udara segar mengalir bebas ke dalam kelas, membuat suasana belajar menjadi lebih sejuk dan nyaman.

"Beda sekali dengan dulu. Sekarang kelasnya terang, anginnya juga masuk, jadi lebih enak belajar," kata Ricky.

Radja mengangguk mengiyakan. Menurut dia, ruang kelas yang lebih nyaman membuat siswa tidak cepat mengantuk saat guru menjelaskan pelajaran.


Jadi sekolah favorit

Cerita Ricky dan Radja adalah cerita bahagia yang mewakili cerita dari sejumlah pelajar di sekolah tersebut. Sebelum direvitalisasi ruang kelas di sekolah itu hanya enam kelas, satu ruang guru.

Kini setelah direvitalisasi sekolah itu telah memiliki 22 ruangan kelas, sehingga aktivitas belajar mengajar di sekolah itu hanya dilakukan sekali yakni jam 07.00 WITA hingga pukul 12.00 WITA.

“Sampai dengan tahun 2025 jumlah siswa mencapai 526 siswa, kini jumlah itu bertambah menjadi 539 siswa. Sekolah ini menjadi sekolah favorit di daerah ini,” ungkap Kepala Sekolah SD Inpres Naimata Martinus Klau.

Kini,  di Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa itu, SD Inpres Naimata merupakan satu-satunya sekolah yang menerapkan mekanisme sekolah dengan satu shift.

Sehingga banyak orang tua memilih memasukkan anak ke sekolah tersebut agar tidak kesulitan membagi waktu untuk mengantar dan menjemput dengan jam bekerja. 

Jumlah siswa pasti akan terus bertambah dan pihak sekolah masih menerima, karena saat ini masih ada satu ruangan kelas yang belum digunakan.

Walaupun jumlah siswanya semakin bertambah, menurut Martinus, jumlah guru masih mencukupi, karena jumlahnya saat ini ada  31 orang.

Program Revitalisasi pendidikan khusus di sekolah tersebut, menurut dia, memberikan dampak positif bagi para pelajar, Karena selain gedung sekolahnya yang lebih nyaman bagi anak-anak, kini mereka juga dibantu dengan papan interaktif digital (PID).

Jumlah PID di sekolah itu  baru lima unit, jumlah tersebut dirasa belum maksimal, karena rombongan belajarnya ada  22 unit. 

Keterlibatan orang tua

Revitalisasi SD Inpres Naimata bukan hanya cerita tentang hadirnya negara melalui Program Revitalisasi Pendidikan. Di balik bangunan sekolah yang kini berdiri lebih kokoh, tersimpan pula semangat gotong royong para orang tua murid.

Pembangunan ruang kelas dan berbagai fasilitas utama memang dibiayai pemerintah. Namun, ketika halaman sekolah masih berupa tanah dan belum seluruhnya tertata, para orang tua memilih ikut mengambil bagian.

Mereka bersepakat mengumpulkan dana secara swadaya untuk memasang paving block di lingkungan sekolah. Sedikit demi sedikit, iuran dikumpulkan hingga mencapai sekitar Rp200 juta.

Bagi para orang tua, halaman sekolah yang rapi bukan sekadar pelengkap bangunan baru. Mereka ingin anak-anak belajar di lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman.

“Kini, halaman yang dahulu berdebu saat kemarau dan becek ketika hujan telah berubah menjadi hamparan paving block yang memudahkan siswa berkegiatan. Anak-anak dapat berbaris saat upacara, bermain ketika jam istirahat, maupun berjalan menuju ruang kelas tanpa harus menghindari genangan air atau debu yang beterbangan,” cerita Ketua Komite SD I Naimata Siprianus Damai Nar.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang Ernerst Ludji menilai semangat itu menjadi bukti bahwa membangun pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Sebab ketika negara menghadirkan ruang belajar yang layak, masyarakat ikut melengkapinya dengan kepedulian dan gotong royong.

“Ini merupakan bukti bahwa pembangunan sekolah tidak sepenuhnya mengandalkan dana dari pemerintah. Karena orang tua juga punya andil untuk pembangunan sekolah,” ujar dia.


Pembangunan SDM

Bagi sebagian orang, revitalisasi sekolah mungkin hanya terlihat sebagai pembangunan gedung baru. Dinding dicat kembali, atap diperbaiki, ruang kelas diperluas, dan fasilitas belajar dilengkapi.

Namun, maknanya jauh lebih besar dari sekadar perubahan fisik, seperti yang diungkapkan Direktur Ekosistem Media Komdigi Farida Dewi Maharani kepada wartawan yang mengikuti kunjungan jurnalistik ke SD Inpres Naimata, Selasa, 21 Juli.

"Bagi kami, revitalisasi pendidikan bukan hanya soal membangun gedung sekolah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak bisa belajar lebih nyaman, guru mengajar lebih baik, dan masyarakat ikut merasakan manfaatnya," kata Farida.

Sekolah yang layak diharapkan mampu membuka akses pendidikan yang lebih merata sekaligus menghadirkan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman bagi anak-anak. Keberhasilan revitalisasi pendidikan tidak dapat diukur hanya dari berdirinya bangunan sekolah yang lebih megah.

Manfaatnya harus dirasakan langsung oleh peserta didik, guru, orang tua, hingga masyarakat di sekitar sekolah. Sebab membangun bangsa itu tidak hanya dengan infrastruktur, tidak hanya dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi yang paling penting dan dasarnya adalah pembangunan SDM.

Yang disampaikan Farida tercermin di SD Inpres Naimata. Perubahan yang dirasakan Ricky dan Radja bukan hanya hadirnya ruang kelas baru yang terang dan sejuk atau berakhirnya sistem belajar bergiliran.

Mereka kini memiliki waktu belajar yang lebih efektif, pulang lebih awal, dan dapat menikmati lingkungan sekolah yang lebih nyaman.

Di situlah revitalisasi pendidikan menemukan makna sesungguhnya: bukan sekadar membangun sekolah, melainkan membangun masa depan anak-anak Indonesia.

  • Program Revitalisasi Pendidikan

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.