Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lorong yang Dipahat Air Selama Jutaan Tahun

📅 Jumat, 17 Jul 2026, 07:23 WIB | Oleh:
Lorong yang Dipahat Air Selama Jutaan Tahun Doc: Istimewa
Ket. Pemandangan Sungai Bongka di Kecamatan Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una.

ALIRAN Sungai Bongka di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, memiliki titik-titik panorama yang membuat banyak pengunjung seolah sedang berada di ngarai-ngarai terkenal di luar negeri. Beberapa bagian alirannya, sungai ini melintas di sela-sela tebing batu kapur yang menjulang, membentuk lorong alami menyerupai canyon dengan dinding batu yang berdiri hampir tegak.

Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik paling memikat saat menyusuri Sungai Bongka. Tebing berwarna putih keabu-abuan berpadu dengan hijaunya vegetasi berupa rumput, lumut dan tumbuhan pendek, dengan air sebening kristal di bawahnya, menghadirkan lanskap yang masih alami karena belum banyak tersentuh pembangunan.

Ketika cahaya matahari menembus celah bebatuan yang seolah terbelah itu sinarnya memantul di permukaan air dan dinding batu kapur. Pantulan tersebut menciptakan gradasi warna hijau, biru, dan keemasan yang membuat setiap tikungan sungai memiliki karakter ­berbeda.

Segmen-segmen sungai yang diapit tebing batu kapur menjulang di kedua sisinya adalah disebut bagian terindah di Sungai Bongka. Pada titik-titik tertentu, lebar sungai menyempit sehingga dinding batu tampak berdiri mengurung aliran air, menciptakan lorong alami yang memberikan kesan seperti memasuki sebuah ngarai.

Permukaan tebing tidak berbentuk rata. Dinding batu dipenuhi lekukan, celah, tonjolan, hingga lubang-lubang kecil yang terbentuk akibat pelarutan batu kapur selama jutaan tahun. Dari kejauhan, tekstur tersebut tampak seperti pahatan raksasa yang dibuat dengan sangat detail, padahal semuanya merupakan hasil proses alam.

Di beberapa bagian, akar pepohonan tumbuh menempel pada rekahan batu. Akar-akar itu mencari celah yang menyimpan sedikit tanah dan air, lalu menjuntai ke bawah mengikuti kontur tebing. Perpaduan antara batu kapur yang kokoh dan vegetasi hijau menciptakan kontras warna yang menjadi ciri khas lanskap Sungai ­Bongka.

Saat musim hujan, rembesan air dari celah-celah batu sering kali membasahi permukaan tebing sehingga warnanya berubah menjadi lebih gelap. Lumut dan paku-pakuan tumbuh pada bagian yang lembap, menambah nuansa alami sekaligus menunjukkan bahwa tebing karst juga menjadi habitat bagi berbagai organisme kecil.

Sebaliknya, pada musim kemarau, warna asli batu kapur lebih terlihat. Permukaannya memantulkan cahaya matahari sehingga menghasilkan gradasi putih, abu-abu, krem, hingga kekuningan, tergantung sudut datangnya sinar matahari. Kondisi ini menjadikan setiap waktu dalam sehari menghadirkan tampilan lanskap yang ­berbeda.

Bentuk tebing yang menyerupai canyon bukanlah hasil peristiwa geologi yang terjadi dalam waktu singkat. Lanskap tersebut merupakan hasil perpaduan antara aktivitas tektonik dan proses erosi yang berlangsung selama jutaan tahun.

Awalnya, kawasan Bongka merupakan dasar laut dangkal yang dipenuhi endapan karang dan organisme laut penghasil kalsium karbonat. Ketika pergerakan lempeng tektonik mengangkat kawasan tersebut menjadi daratan, lapisan batu kapur mulai mengalami pelapukan.

Selanjutnya, air hujan yang sedikit bersifat asam secara perlahan melarutkan batu kapur melalui proses karstifikasi. Pada saat yang sama, aliran Sungai Bongka terus mengikis rekahan-rekahan batuan sehingga membentuk lorong sempit dengan dinding yang semakin curam.

Selain melarutkan batuan, aliran sungai juga membawa pasir, kerikil, dan bongkah batu yang bergesekan dengan dasar maupun sisi sungai.

Material tersebut bekerja layaknya amplas alami yang terus mengikis batu kapur sedikit demi sedikit. Dalam skala waktu geologi, proses itu memperdalam alur sungai sekaligus mempertegas bentuk tebing hingga tampak tegak seperti sekarang.

Pada beberapa bagian, batuan yang lebih lunak terkikis lebih cepat dibandingkan lapisan yang lebih keras. Akibatnya terbentuk ceruk-ceruk kecil, tonjolan batu, serta dinding yang berlekuk sehingga lorong sungai memiliki bentuk yang tidak seragam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.