Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Viral Turun Salju di Ciwidey? Begini Penjelasan BMKG

25 Minggu, 12 Jul 2026, 18:05 WIB | Oleh:
Viral Turun Salju di Ciwidey? Begini Penjelasan BMKG Viral Turun Salju di Ciwidey? Begini Penjelasan BMKG Doc: Unsplash

JAKARTA - Viral video di medsos memperlihatkan, kawasan perbukitan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat diselimuti lapisan putih. Banyak warganet menduga, lapisan tersebut merupakan salju karena jalan setapak dan vegetasi tampak berwarna putih.

Merespons hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, dugaan warganet tersebut tidak benar. Fenomena di kawasan Ciwidey itu, merupakan embun upas (frost) yang muncul di wilayah dataran tinggi saat puncak musim kemarau.

"Pada puncak musim kemarau, suhu udara di dataran tinggi Bandung dapat turun drastis hingga mencapai belasan derajat Celsius. Bahkan mendekati 0 derajat Celsius pada malam hingga dini hari," kata Plt Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, dalam keterangannya persnya, di Jawa Barat, dikutip Minggu (12/7).

Kondisi tersebut, Edi mengungkapkan, lazim terjadi pada periode Juli hingga Agustus di kawasan dataran tinggi. Embun upas itu, merupakan embun yang membeku di permukaan tanah, daun, maupun benda lain sehingga membentuk kristal es tipis.

Ia menegaskan, embun upas berbeda dengan salju. Salju terbentuk dari uap air di dalam awan yang membeku sebelum jatuh ke permukaan bumi.

Menurut BMKG, fenomena embun upas bukanlah hal baru di wilayah Bandung Raya. Selain Ciwidey, kondisi serupa juga pernah terjadi di kawasan dataran tinggi lainnya seperti Pangalengan.

"Fenomena ini lazim pada saat musim kemarau seperti sekarang, terutama di dataran tinggi seperti Ciwidey. Hal serupa juga pernah terjadi di Pangalengan," ujar Edi.

BMKG menjelaskan, suhu dingin pada musim kemarau dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap panas matahari secara maksimal.

Tetapi pada malam hari, ia menuturkan, panas tersebut cepat dilepaskan kembali ke atmosfer sehingga suhu udara turun drastis. Selain itu, suhu dingin juga dipengaruhi oleh angin monsun Australia.

Massa udara dingin dari Australia, ia menyebutkan, bergerak menuju Indonesia akibat perbedaan tekanan udara. Hal ini, menjadi salah satu penyebab utama musim kemarau di wilayah selatan khatulistiwa.

"Penyebab tambahan mengapa suhu udara menjadi dingin pada musim kemarau adalah karena adanya musim dingin di wilayah Australia," kata Edi.

BMKG mengimbau, masyarakat agar tidak panik maupun menyebarkan informasi yang keliru mengenai fenomena tersebut.

"Oleh karena itu masyarakat diharapkan tidak panik melihat fenomena ini. Karena, suhu dingin pada musim kemarau merupakan fenomena yang wajar, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa," ucap Edi. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
MotoGP Australia di Phillip Island Dibatalkan akibat Cuaca Buruk, Marquez Gagal Perlebar Keunggulan

MotoGP Australia di Phillip Island Dibatalkan akibat Cuaca Buruk, Marquez Gagal Perlebar Keunggulan

25 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.