Pemkab Bekasi Siapkan Seni Pertunjukan Tradisional untuk Tarik Wisatawan
Kamis, 09 Jul 2026, 14:35 WIBKABUPATEN BEKASI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Jawa Barat (Jabar) menyiapkan seni pertunjukan tradisional ujungan menjadi magnet wisata budaya setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan RI pada Jumat (3/7) lalu.
âIni menjadi titik awal bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pelestarian sekaligus mengembangkan potensi budaya tersebut sebagai daya tarik wisata," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi Iman Nugraha di Cikarang, Kamis (9/7).
Dia mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah lanjutan agar pengakuan seni pertunjukan tradisional khas Kabupaten Bekasi sebagai Warisan Budaya tak Benda itu tidak berhenti sebatas status administratif.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyusun rencana aksi perlindungan melalui penguatan kapasitas sanggar seni, pendokumentasian secara digital hingga penyediaan ruang pertunjukan yang lebih representatif bagi para pelaku seni ujungan.
Di sektor pendidikan, Pemkab Bekasi juga berupaya mengenalkan ujungan kepada generasi muda melalui muatan lokal di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler hingga workshop bersama para maestro seni.
Menurut dia langkah tersebut penting untuk memastikan proses transfer pengetahuan berlangsung secara berkelanjutan, sehingga tradisi UjunganBekasi tetap dapat diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya.
Tak sebatas pada upaya pelestarian, Pemkab Bekasi juga menargetkan ujungan menjadi salah satu ikon wisata budaya daerah. Tradisi tersebut direncanakan masuk dalam agenda rutin pariwisata melalui festival budaya maupun berbagai pertunjukan di tingkat kecamatan hingga kabupaten.
"Dengan strategi tersebut, Ujungan Bekasi diharapkan tidak hanya tetap terjaga sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat identitas Kabupaten Bekasi," katanya.
Iman menegaskan keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah semata. Peran aktif masyarakat menjadi faktor utama agar tradisi tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
"Masyarakat harus bangga terhadap budaya sendiri. Menonton pertunjukan, mendukung sanggar, mempromosikan melalui media sosial hingga mengenalkan kepada anak-anak merupakan bagian dari upaya menjaga agar ujungan tetap hidup," katanya.
Ia mengungkapkan Kabupaten Bekasi masih memiliki banyak kekayaan budaya yang berpotensi diusulkan sebagai WBTB Indonesia. Potensi tersebut mencakup tradisi kuliner, arsitektur tradisional hingga beragam kesenian rakyat yang masih berkembang di tengah masyarakat.
"Harapan kami, seni Ujungan Bekasi tetap menjadi nafas budaya kabupaten ini di tengah modernisasi yang berkembang sangat cepat. Budaya harus mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya, sehingga generasi mendatang tetap mengenal akar budaya sendiri," kata dia.
Ketua Pemangku Seni Budaya Bekasi (Pangsi) Drahim Sada mengatakan ujungan merupakan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat sejak sebelum era kemerdekaan, yakni sekitar tahun 1940, dimana Bekasi pada masa itu dikenal sebagai daerah agraris dengan hamparan persawahan.
"Sementara tradisi ujungan ini menjadi bagian dari perayaan pesta panen. Jawara-jawara dari berbagai kampung berkumpul bukan untuk bertarung, tetapi sebagai bentuk permainan dan persahabatan," ujarnya.
Drahim mengaku nilai-nilai yang diwariskan melalui seni tradisi ujungan adalah semangat kebersamaan, silaturahim dan persaudaraan antar-masyarakat dengan pesan sosial persahabatan.
Secara umum, ujungan merupakan kesenian tradisional unik dengan tiga unsur seni, yakni bela diri yang dimiliki para pemain, tari yang diperlihatkan dalam uncul serta musik berupa instrumen perkusi sampyong dan tok tok sebagai wadrita pengiring ujungan maupun uncul.
Kata ujungan berasal dari bahasa Sundaujungan "jung" berarti dari lutut ke bawah, berkembang menjadi ujung berarti kaki. Sejumlah tokoh Bekasi menyebut ujungan berasal dari kata ujung bermakna bongkot dalam bahasa dialek Bekasi, baik ujung rotan maupun ujung kaki.
- Pemkab Bekasi
- Seni pertunjukan
- Tarik Wisatawan
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Kemenkes Berkolaborasi dengan Swasta Bantu 1.141 Mitra Driver Ojol Ikuti Program CKG
-
Berdokumen Palsu, Kapten Kapal Armada Bayangan Russia Ditahan Pemerintah Swedia
-
PLN Perkuat Keandalan Listrik di Fasilitas Transportasi Publik Jakarta Raya
-
Ditlantas Polda Sumsel Imbau Pemudik Tak Saling Serobot di Jalan Lintas Timur Palembang–Jambi
-
Realisasi Dana Program Makan Bergizi Gratis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.