Menkes Targetkan Indonesia Produksi Sendiri 15 Antigen Sebelum 2029
Kamis, 09 Jul 2026, 10:19 WIBJAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya menargetkan agar 11 antigen vaksin bisa dibuat riset dan pengembangannya oleh Indonesia, agar 15 antigen bisa diproduksi secara mandiri sebelum 2029.
Budi mengatakan bahwa Indonesia memakai 15 antigen, yakni bibit virus yang digunakan untuk pembuatan vaksin. Dari jumlah tersebut, diciptakan 13 vaksin, dan salah satunya mengandung beberapa antigen sekaligus. Namun demikian, baru empat dari 15 yang bisa dibuat secara mandiri.
"Kita bakal pensiun tahun 2031. Bisakah kita membuatnya lebih cepat? 'Pengembangan vaksin bisa lama'. Saya tidak percaya. COVID-19, kita bisa melakukannya dalam 18 bulan, 20 bulan. Kenapa saya selalu menerima jawaban 'kami butuh 5-10 tahun?'" kata Budi di Jakarta, Rabu (8/7).
Selama ini, katanya, 11 vaksin itu dibuat hanya melalui proses tak ubahnya merangkai (assembly) mobil atau mesin.
"Obatnya kita impor dari China dan India. Setelah itu, kita menuangkan ke botol dan selesai," katanya.
Menurutnya, semua orang bisa melakukan itu.
Saat ini, katanya, Indonesia belum memiliki teknologi viral factor technology seperti AstraZeneca, dan mRNA. Sehingga, ada dua hal yang ingin dia capai, yakni melakukan riset dan pengembangan agar vaksin-vaksin itu bisa 100 persen dibuat Indonesia.
Kemudian, katanya, meningkatkan kapasitas domestik dalam pengembangan vaksin dari antigen atau bibit virus menggunakan kedua teknologi tersebut.
Dia menargetkan kemandirian vaksin tersebut tercapai sebelum Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan masa jabatannya. Budi pun meminta bantuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan industri seperti Bio Farma, serta mitra-mitra guna mendorong transfer teknologi.
"Hal bagus dari ini, bukan cuma melakukan riset dan pengembangan. Anda buat juga produk-produknya. Dan ada orang di luar sana yang siap beli dan menggelontorkan uang untuk membeli produk-produk Anda. Jadi bagus kan? Itu situasi yang ideal," kata Budi.
Menurutnya, jurnal dan riset dapat berkontribusi bagi masyarakat apabila bisa diimplementasikan sebagai produk untuk menyelamatkan orang, dan tidak hanya sebatas tulisan di kertas. Budi menilai, hal inilah yang menjadi suatu kebanggaan bagi para ilmuwan.
"Jadi saya tunggu sebelum 2031, atau sebelum 2030, sebelum jabatan saya selesai, sehingga perusahaan pembuat vaksin bisa memproduksi 15 antigen ini. Dan disetujui Pak (Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan) Taruna Ikrar," kata Budi.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan Digelar di Balai Karantina
-
Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran
-
2 Bulan Antrean Berular di SPBU, Pertamina Sulawesi Bongkar Biang Kerok dan Gandeng Satgas
-
Warga Banyumas Mengeluh karena Harga-harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik
-
No Na akan Rilis Album Perdana “Island Girl” pada September 2026
-
Pemkot Gelar Gebyar Bandung Utama demi Dekatkan Layanan Publik kepada Warga
-
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 734 Orang, 2.498 Masih Hilang Usai Gletser Runtuh
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.