Hancurkan Mimpi Jojo di Istora, Juara Indonesia Open 2026 Asal Kanada Ini Ternyata 'Berguru' di Sini
Minggu, 07 Jun 2026, 19:55 WIBJAKARTA - Pemain tunggal putra Kanada, Victor Lai, mencetak sejarah besar setelah berhasil merengkuh gelar juara turnamen BWF World Tour Super 1000 Polytron Indonesia Open 2026. Bertanding di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (7/6), Victor mengandaskan perlawanan wakil tuan rumah, Jonatan Christie, lewat pertarungan dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-8.
Sebelum menjadi pemain yang memupus harapan Jonatan Christie, Victor pernah menimba ilmu di Indonesia. Ia datang pada 2016 untuk berlatih bersama Jeffer Rosobin, salah satu mantan tunggal putra Merah Putih.
"Pada 2016, saya datang ke Indonesia untuk berlatih bersama Pelatih Jeffer. Jadi saya memiliki kedekatan dengan Indonesia," kata Victor seusai pertandingan.
Victor menundukkan Jonatan 21-19, 21-8 di Istora Gelora Bung Karno, Minggu. Hasil itu membuatnya meraih gelar BWF World Tour Super 1000 pertama dalam kariernya sekaligus menjadi pemain Kanada pertama yang menjuarai Indonesia Open.
Kemenangan tersebut terasa kontras bagi publik tuan rumah. Di satu sisi, Indonesia kembali gagal melihat wakil tunggal putra berdiri di podium tertinggi. Di sisi lain, pemain yang menghentikan harapan itu justru pernah belajar dari Indonesia.
"Saya memiliki kedekatan dengan Indonesia. Banyak pelatih saya sebelumnya, bahkan sampai sekarang, berasal dari Indonesia. Saya sangat beruntung dibantu oleh para pelatih dari salah satu negara terbaik dalam olahraga ini," ujar pemain yang lahir pada 19 Desember 2024.
Jejak Indonesia dalam perjalanan Victor tidak berhenti pada latihan singkat pada 2016. Ia mengatakan klub tempatnya berlatih di Kanada juga memiliki pelatih-pelatih asal Indonesia. Dari para pelatih itulah ia banyak mendapat pengaruh dalam membangun permainannya.
Bagi Victor, Indonesia bukan tempat yang asing. Bulu tangkis Indonesia juga menjadi bagian dari ingatan masa kecilnya ketika mulai mengenal olahraga tepok bulu.
Ia tumbuh dengan menyaksikan pemain-pemain besar dunia. Nama Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, Lin Dan, Kento Momota, Victor Axelsen, Jonatan Christie, hingga Anthony Sinisuka Ginting menjadi bagian dari tontonan yang membentuk kecintaannya terhadap bulu tangkis.
"Saat saya lebih muda, saya sering menonton semua pemain hebat seperti Kento Momota, Victor Axelsen, Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan pemain-pemain lainnya," kata pemain 21 tahun itu.
Salah satu momen Jonatan bahkan masih melekat dalam ingatannya. Seorang pelatih pernah menunjukkan pertandingan Jonatan saat membalikkan keadaan melawan Victor Axelsen pada French Open 2019. Dari situ, Victor mengaku mendapat inspirasi.
"Saya sangat ingat salah satu pelatih saya menunjukkan kepada saya momen saat Jojo membalikkan keadaan melawan Victor Axelsen. Itu sangat menginspirasi saya," ujarnya.
Beberapa tahun kemudian, pemain yang dulu ia tonton itu berdiri di seberang net. Bedanya, kali ini Victor bukan lagi penonton. Ia datang sebagai lawan di partai final Polytron Indonesia Open.
Jonatan mendapat dukungan penuh dari publik Istora. Setiap poin yang diraih wakil tuan rumah disambut suara bergemuruh. Namun Victor mampu bertahan dalam tekanan itu.
Bising
Menurut Viktor, tantangan terbesar dalam final bukan hanya menghadapi permainan Jonatan, tetapi juga mengatasi suara penonton yang begitu bising.
"Suaranya sangat bising. Setiap kali dia mendapat poin, rasanya saya bahkan tidak bisa mendengar suara saya sendiri. Namun hal paling penting adalah tetap fokus, mengabaikan kebisingan tersebut, dan percaya bahwa saya bisa menang," kata Victor.
Kepercayaan itu terlihat sejak gim pertama. Victor tidak banyak terpancing oleh dukungan penonton. Ia bermain sabar, menahan reli, dan mengambil poin-poin penting ketika Jonatan mulai tertekan.
Setelah merebut gim pertama 21-19, Victor semakin lepas. Pada gim kedua, ia membuat Jonatan sulit keluar dari tekanan hingga akhirnya menang telak 21-8.
Jonatan mengakui Victor tampil lebih siap dalam mengelola pertandingan. Menurut dia, perbedaan paling terlihat dalam final tersebut adalah ketenangan pemain Kanada itu saat menjalankan strategi.
âHari ini Victor bermain jauh lebih tenang dan lebih sabar. Dari segi pengendalian diri, dia juga mampu menjalankan strategi yang sudah disiapkan dengan sangat baik,â kata Jonatan.
Jonatan juga mengakui dirinya belum mampu mengelola tekanan besar pada final pertamanya di Indonesia Open.
âSaya memang merasa sejak awal pertandingan ada tekanan yang cukup besar. Ketegangan juga sangat terasa. Saya rasa hari ini saya belum bisa mengelola tekanan tersebut dengan baik di lapangan,â ujar Jonatan.
Bagi Kanada, gelar itu menjadi sejarah. Sebelumnya, Victor juga telah mencatat prestasi besar dengan meraih medali perunggu Kejuaraan Dunia 2025. Kini, ia menambah pencapaian itu dengan gelar Indonesia Open.
"Keduanya merupakan sejarah bagi Kanada. Jadi saya sangat bangga atas kedua pencapaian tersebut," katanya.
Bagi Indonesia, kekalahan Jonatan tentu menyisakan kekecewaan. Apalagi final itu menjadi kesempatan besar bagi tunggal putra tuan rumah untuk kembali berjaya di hadapan publik sendiri.
Kekalahan Jojo memperpanjang paceklik tunggal putra Indonesia sejak Simon Santoso meraih podium tertinggi di Istora pada 2012.
Namun kisah Victor juga memberi gambaran lain. Indonesia tidak hanya melahirkan pemain besar, tetapi juga ikut memberi pengaruh bagi pemain dari negara lain. Pengetahuan, pelatih, dan tradisi bulu tangkis Indonesia ternyata terus berjalan, bahkan sampai ke Kanada.
Di Istora, jejak itu terasa ironis. Pemain yang pernah belajar dari Indonesia justru menjadi orang yang menggagalkan harapan Indonesia.
Victor pulang membawa gelar terbesar dalam kariernya, sementara publik Istora harus kembali menunda harapan melihat tunggal putra Indonesia menjadi juara di rumah sendiri.
Namun, kemenangan Victor juga menunjukkan bahwa pengaruh bulu tangkis Indonesia tidak berhenti pada pemain dalam negeri. Jejak pelatih, pengetahuan, dan tradisi tepok bulu Merah Putih ikut berjalan hingga Kanada, lalu kembali ke Istora dalam cerita yang berbeda.
- jonatan christie
- indonesia open 2026
- victor lai
- tunggal putra kanada
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Pemerintah Batasi Pembelian BBM Bersubsidi
-
Paus Leo Mengecam Ancaman yang Tidak Dapat Diterima terhadap Penduduk Iran
-
Warga DIY Diminta Waspada Perubahan Cuaca Mendadak, BMKG Prakirakan Sampai Beberapa Hari ke Depan
-
Prabowo Pertahankan BBM Bersubsidi untuk Rakyat Kecil di Tengah Ancaman Krisis Global
-
Putri KW Sukses Menembus Babak 8 Besar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.