Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

GPMB: Dunia Hadapi Risiko Pandemi Lebih Besar

📅 Selasa, 19 Mei 2026, 13:45 WIB | Oleh:
GPMB: Dunia Hadapi Risiko Pandemi Lebih Besar Doc: Istimewa

JENEWA - Kelompok pengawas global memperingatkan bahwa dunia kini berada di ambang kerusakan pandemi yang jauh lebih besar. Risiko pandemi global dilaporkan meningkat pesat namun tidak diimbangi dengan investasi yang memadai oleh banyak negara.

Dewan Pemantauan Kesiapsiagaan Global (GPMB) merilis laporan berjudul A World on the Edge pada Senin (18/5). Laporan ini menyoroti kerentanan dunia terhadap wabah penyakit menular yang terus tumbuh secara frekuensi dan kerusakan.

Lembaga internasional tersebut mencatat bahwa kesenjangan kesehatan, ekonomi, politik, hingga sosial kini semakin lebar akibat krisis global. Kapasitas negara-negara untuk pulih dari berbagai dampak pandemi saat ini juga dinilai sangat jauh lebih rendah.

Upaya global dalam memperkuat sistem kesehatan seringkali terhambat oleh fragmentasi geopolitik serta berbagai gangguan ekologis yang terjadi. Kondisi tersebut diperburuk oleh penurunan bantuan pembangunan internasional yang mencapai titik terendah sejak tahun 2009 lalu.

Laporan ini menganalisis Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau Public Health Emergencies of International Concern (PHEIC). Rentang waktu analisis tersebut mencakup satu dekade terakhir mulai dari wabah Ebola hingga pandemi Covid-19 global.

“Dunia tidak kekurangan solusi, tetapi tanpa kepercayaan dan kesetaraan, solusi tersebut tidak akan menjangkau orang yang membutuhkan,” kata Ketua Bersama GPMB, Kolinda Grabar-Kitarovic.

Akses terhadap alat diagnostik, vaksin, serta berbagai jenis terapi kesehatan dinilai mengalami kemunduran serius dalam beberapa tahun terakhir. Vaksin untuk penyakit mpox bahkan baru menjangkau negara berpenghasilan rendah hampir dua tahun setelah wabah tersebut muncul.

Situasi tersebut melampaui dampak kesehatan karena telah merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah serta norma demokrasi di berbagai negara. Polarisasi dan serangan terhadap institusi ilmiah pascakrisis membuat masyarakat menjadi kurang tangguh menghadapi ancaman pandemi di masa depan.

Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi memperkuat pemantauan ancaman penyakit jika dikelola dengan tata kelola tepat. Namun, tanpa perlindungan yang memadai, teknologi digital justru berisiko memperlebar kesenjangan akses yang terjadi selama masa pandemi.

“Jika kepercayaan dan kerja sama terus retak, setiap negara akan lebih terbuka saat pandemi berikutnya menyerang dunia,” ujar Ketua Bersama GPMB, Joy Phumaphi.

GPMB menegaskan bahwa kepemimpinan politik menjadi penentu utama dalam mengubah arah kesiapan global sebelum krisis besar berikutnya tiba. Para pemimpin dunia didesak untuk segera menetapkan mekanisme pemantauan independen guna melacak risiko pandemi secara lebih konsisten.

Selain itu, negara-negara diminta mempercepat akses vaksin melalui kesepakatan pandemi global serta mengamankan pembiayaan untuk kesiapsiagaan masa depan. Laporan ini diluncurkan bertepatan dengan pelaksanaan sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-79 untuk memastikan adanya komitmen nyata politik. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.