Diversifikasi Pangan Jadi Tameng Kaltim Hadapi Cuaca Ekstrem
Jumat, 08 Mei 2026, 09:10 WIBSAMARINDA â Diversifikasi pangan lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan terhadap komoditas tertentu seperti beras dan gandum impor.
Pemanfaatan sumber pangan lokal seperti sagu, singkong, jagung, sorgum, hingga umbi-umbian tidak hanya membantu menjaga stabilitas pasokan pangan, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
Dengan pola konsumsi yang lebih beragam, risiko tekanan akibat gangguan produksi atau fluktuasi harga pangan global dapat lebih diminimalkan.
Di sisi lain, keberhasilan diversifikasi pangan masih menghadapi tantangan dari sisi budaya konsumsi, distribusi, hingga daya saing produk olahan lokal.
Banyak pangan lokal belum memiliki nilai tambah dan kemasan yang mampu menarik pasar modern, khususnya generasi muda.
Karena itu, diperlukan dukungan inovasi industri pangan, edukasi konsumsi sehat, serta penguatan rantai pasok agar diversifikasi pangan tidak hanya menjadi program jangka pendek, tetapi juga bagian dari transformasi sistem pangan nasional yang lebih berkelanjutan.
Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur (Kaltim) mengajak masyarakat untuk segera beralih ke pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada beras.
Langkah diversifikasi ini menjadi strategi utama menghadapi ancaman gagal panen akibat perubahan iklim yang kian nyata, kata Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DPTPH Kaltim, Dina Widyastuti, di Samarinda, Kamis.
Dalam dialog bertajuk "Bijak Kelola Pangan Hadapi Perubahan Iklim di Samariinda, Dia menjelaskan bahwa cuaca ekstrem saat ini berdampak langsung pada pola tanam dan produktivitas petani.
"Kondisi cuaca yang tidak menentu menuntut adaptasi kuat. Kita harus memastikan ketersediaan pangan tetap aman dengan tidak bergantung pada satu jenis komoditas saja," kata Dina.
Dina menekankan pentingnya membiasakan konsumsi pangan lokal sebagai alternatif beras, seperti ubi dan jagung.
"Kaltim sendiri kaya akan sumber pangan non beras yang potensial dikembangkan sebagai pilar ketahanan pangan daerah jangka panjang," kata Dina.
Dina memaparkan sejumlah komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi besar sebagai substitusi karbohidrat sekaligus komoditas ekonomi tinggi, yakni singkong gajah, Jelay (Hanjeli) atau tanaman tradisional di Kutai Barat,pisang kepok, jagung dan umbi- umbian.
Selain mendorong konsumsi lokal, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas melalui penguatan jalur distribusi.
"Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga soal distribusi yang lancar dan kesadaran masyarakat dalam mengelola pangan secara bijak," tambahnya.
Dina juga menyelipkan pesan penting: kurangi pemborosan makanan (food waste). Mengurangi sampah makanan dan mendukung produk lokal adalah bentuk kontribusi nyata masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan iklim global.
- diversifikasi pangan
- bahan pangan lokal
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Olah Talas Togog Jadi Tepung, Solusi Diversifikasi Pangan di Tengah Isu Kerentanan Pangan
-
19 RT di Jakarta Masih Terendam Banjir hingga Minggu (25/1) Pagi
-
DPRD Bekasi Tetapkan Standar Ganda Proyeksikan Keuangan Daerah
-
Cuaca Hari Ini, BMKG: Mayoritas Kota di Indonesia Diguyur Hujan Ringan hingga Lebat
-
Statistik Gila, Adames Menang Mutlak atas Williams, Akurasi Pukulannya Bikin Bergidik
-
Pakar Ungkap Bencana Hidrometeorologi Tak Murni Faktor Iklim, Tapi Kerusakan Lingkungan
-
Parara Mini Festival 2025, Ajang Perkenalkan Bahan Pangan Lokal kepada Generasi Muda
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.