Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

MBG Harus Geser Kebijakan dari Manajemen Stok ke Manajemen Ekologi Pangan Cerdas

📅 Senin, 27 Apr 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
MBG Harus Geser Kebijakan dari Manajemen Stok ke Manajemen Ekologi Pangan Cerdas Doc: antara
Ket. Makan Bergizi Gratis (MBG)

JAKARTA - Rencana penyusunan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai pertaruhan besar bagi masa depan agrobiodiversitas Indonesia.

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta menilai regulasi itu terlihat rapi secara administratif di atas kertas, tetapi berisiko mempercepat kepunahan plasma nutfah lokal.

“Jika regulasi ini hanya terpaku pada efisiensi logistik tanpa menyentuh substansi diversifikasi, maka program MBG justru berisiko menjadi mesin penyeragaman pangan yang mempercepat kepunahan plasma nutfah lokal,” kata Muliarta.

Ia menyebut Indonesia kini di ambang ironi besar. Sebagai negara megabiodiversitas, generasi mudanya justru mengalami buta pangan lokal karena lidah terus-menerus dikondisikan oleh dominasi beras dan terigu.

Karena itu, dirinya mendorong kebijakan bergeser dari sekadar manajemen stok menuju manajemen ekologi pangan yang cerdas. Integrasi bahan baku lokal jangan hanya dimaknai menyerap gabah atau jagung massal.

“Harus menjadi insentif bagi petani untuk kembali menanam varietas lokal yang hampir punah seperti umbi-umbian minor, sorgum, atau serealia lokal lainnya. Tanpa adanya jaminan serapan melalui program masif seperti MBG, petani tidak memiliki alasan ekonomi untuk menjaga keberadaan plasma nutfah tersebut,” jelas Muliarta.

Menurut dia, Permenko harus berani memandatkan “rotasi sumber karbohidrat dan protein” berbasis keunggulan ekologis wilayah, bukan memaksakan standar menu sama dari Sabang sampai Merauke.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengkritisi pemisahan aspek gizi dari cara pangan diproduksi. Menurutnya, narasi rantai pasok sering melupakan bahwa kualitas nutrisi berbanding lurus dengan kesehatan agroekosistem.

“Program MBG harus menjadi lokomotif bagi transisi pertanian yang lebih berkelanjutan, misalnya dengan memprioritaskan pasokan dari sistem pertanian yang meminimalkan residu kimia. Kita tidak ingin memberikan makan gratis yang hanya mengejar target kalori, namun miskin mikronutrien karena tanahnya sudah jenuh dengan pupuk anorganik,” paparnya.

Ia pun berharap MBG bertransformasi menjadi laboratorium hidup bagi literasi pangan nasional. Saat anak mengonsumsi sepiring makanan, ia tak hanya dapat protein dan karbohidrat, tapi juga “mencicipi” identitas agraris daerahnya.

“Kegagalan kita mengenalkan pangan lokal sejak dini adalah bentuk pengabaian terhadap aset genetik bangsa. Oleh karena itu, regulasi yang sedang disusun ini akan jauh lebih inovatif jika mampu mengaitkan keberlangsungan rantai pasok dengan pelestarian plasma nutfah, sehingga kita tidak hanya menyelamatkan gizi anak-anak kita, tetapi juga menyelamatkan kedaulatan hayati Indonesia dari kepunahan yang sunyi,” pungkas Muliarta.

Rantai Pasok

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Nani Hendiarti mengungkapkan, pihaknya sedang menyusun Rancangan Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Pangan terkait rantai pasok bahan baku lokal untuk program MBG.

Ia mengatakan pembentukan Permenko tersebut bertujuan untuk menjalankan amanat dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis, yang mengamanatkan Kemenko Pangan untuk mengoordinasikan berbagai kementerian/lembaga dalam menjamin rantai pasok pangan pada MBG.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

50 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...
Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.