Era Cashless Kian Nyata, BI Ungkap Lonjakan Transaksi Digital 33,76%
Rabu, 22 Apr 2026, 19:55 WIBJAKARTA â Pertumbuhan transaksi pembayaran digital mencerminkan percepatan transformasi perilaku ekonomi masyarakat menuju sistem yang lebih efisien dan terdokumentasi.
Adopsi yang semakin luas, didorong oleh penetrasi smartphone dan integrasi layanan keuangan, membuat transaksi non-tunai menjadi pilihan utama dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari ritel hingga layanan publik.
Hal ini tidak hanya meningkatkan kecepatan dan kemudahan transaksi, tetapi juga memperluas inklusi keuangan, terutama bagi kelompok yang sebelumnya belum terjangkau layanan perbankan.
Di sisi lain, peningkatan transaksi digital juga memperkuat transparansi ekonomi dan memperluas basis data yang dapat dimanfaatkan untuk kebijakan fiskal dan moneter yang lebih presisi.
Namun, akselerasi ini membawa tantangan baru, seperti risiko keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta kebutuhan penguatan infrastruktur digital yang andal dan merata.
Tanpa mitigasi yang tepat, pertumbuhan pesat ini berpotensi menciptakan kerentanan sistemik di sektor keuangan.
Dengan demikian, transaksi pembayaran digital tidak sekadar mencerminkan perubahan teknologi, tetapi juga menjadi indikator penting evolusi struktur ekonomi.
Ke depan, keseimbangan antara inovasi, regulasi, dan keamanan akan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pembayaran digital.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan bahwa volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,39 miliar transaksi atau tumbuh 33,76 persen year on year (yoy) pada triwulan I-2026.
âPertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital triwulan I-2026 tetap tinggi didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal,â ujar dia dalam agenda Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara virtual di Jakarta, Rabu.
Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 7,88 persen yoy dan 16,35 persen yoy, termasuk transaksi QRIS yang tumbuh tinggi mencapai 111,94 persen yoy.
Kinerja positif tersebut, kata dia, didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1,4 miliar transaksi atau tumbuh 30,82 persen yoy dengan nilai transaksi mencapai Rp3.519 triliun pada triwulan I-2026.
Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 2,46 juta transaksi atau tumbuh melambat -0,20 persen yoy, di tengah nominal transaksi BI-RTGS (Real-Time Gross Settlement) yang tetap tumbuh 11,26 persen yoy mencapai Rp51.490 triliun pada triwulan I 2026.
âDari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 8,59 persen yoy menjadi Rp1.346 triliun pada triwulan I-2026,â ungkap Perry.
Pada kesempatan yang sama, dia juga menyatakan bahwa stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga pada triwulan I-2026 karena topangan infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat.
Infrastruktur yang stabil tercermin pada penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) dan sistem pembayaran industri yang lancar dan andal, serta kecukupan pasokan uang dalam jumlah dan kualitas yang memadai.
Lebih lanjut, struktur industri yang sehat tergambar pada interkoneksi antar pelaku dalam sistem pembayaran yang terus menguat, diikuti oleh ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD) yang meluas.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat struktur industri sistem pembayaran, khususnya pada aspek manajemen risiko dan keandalan infrastruktur teknologi pelaku industri, sejalan dengan implementasi Peraturan Bank Indonesia Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pengaturan Industri Sistem Pembayaran (PBI PISP).
Selain itu, dipastikan pula keamanan dan keandalan infrastruktur SPBI, baik ritel maupun wholesale, serta infrastruktur sistem pembayaran industri.
âBank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T),â ucapnya.
- cashless
- Transaksi Digital
- Pembayaran Digital
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Menko Pangan Dorong Penguatan Sanksi Pengelolaan Sampah
-
Modena Pay, Kartu Kredit dan Debit untuk Gaya Hidup Digital
-
Joko Anwar Konfirmasi 'Pengabdi Setan 3' akan Rilis Tahun 2027
-
Pembangunan Ekstratif Disorot: Dampak El Nino Kian Parah
-
Netflix Konfirmasi Sekuel Film Serial "Peaky Blinders"
-
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
-
Pemprov Papua Tengah Buka Peluang Koperasi Masyarakat Adat Kelola Tambang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.