Perang Memanas, IHSG Terpukul Telak: Koreksi Sudah Tembus 13 Persen Sepanjang 2026!

Sabtu, 11 Apr 2026, 19:15 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah terkoreksi lebih dari 10 persen sejak awal tahun menunjukkan kombinasi tekanan internal dan eksternal yang semakin kompleks.

Setelah sempat terpukul oleh sentimen negatif dari laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI), pasar saham domestik kembali menghadapi guncangan baru dari eskalasi konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang mendorong perubahan sikap investor menjadi lebih berhati-hati (risk-off).

Ket. Foto: Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A

Ketidakpastian global tersebut memicu aksi jual besar-besaran, seiring pergeseran dana ke aset aman seperti dolar AS dan emas, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global.

Akibatnya, tekanan terhadap IHSG tidak hanya bersifat teknikal, tetapi juga mencerminkan sentimen pasar yang memburuk secara luas, bahkan membuat indeks domestik sempat menjadi salah satu yang paling tertekan di kawasan.

Secara keseluruhan, koreksi dalam ini menegaskan bahwa kinerja IHSG saat ini sangat sensitif terhadap dinamika global.

Selama ketidakpastian geopolitik dan persepsi risiko terhadap pasar berkembang masih tinggi, potensi pemulihan indeks cenderung tertahan meskipun fundamental domestik relatif stabil.

Per 10 April 2026, IHSG melemah 1.188,44 poin atau sekitar 13,74 persen. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/4) sore, ditutup menguat 150,91 poin atau 2,07 persen ke posisi 7.458,50 di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pembicaraan diplomatik antara perwakilan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan pada akhir pekan ini.

Sebagai perbandingan, IHSG pada 30 Desember 2025 ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,47 poin atau 0,64 persen ke posisi 846,57.

“IHSG menguat mengikuti penguatan di Wall Street semalam, di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran untuk mencapai penyelesaian konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama enam minggu,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.

Dari mancanegara, pelaku pasar saat ini menantikan pembicaraan diplomatik di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan, yang mana Wakil Presiden AS JD Vance akan memimpin delegasi AS dalam diskusi dengan pejabat Iran.

“Namun, sentimen tetap berhati-hati di tengah berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon, serta gangguan yang terus terjadi di Selat Hormuz, yang berpotensi mempersulit negosiasi,” ujar Nico.

Dari sisi makroekonomi, pelaku pasar menantikan rilis data inflasi (CPI) AS bulan Maret 2026, yang dijadwalkan keluar malam ini untuk melihat dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi.

Sementara itu, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed Maret 2026 menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan mengkhawatirkan konflik tersebut dapat mempertahankan tekanan inflasi dan berpotensi memerlukan kenaikan suku bunga tambahan, meskipun mereka masih memperkirakan satu kali penurunan suku bunga tahun ini.

Dari dalam negeri, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 122,9 pada Maret 2026, dari sebelumnya 125,2 pada Februari 2026, atau menjadi level terendah sejak Oktober 2025.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat yaitu dipimpin sektor industri yang menguat sebesar 4,09 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor barang konsumen non primer yang naik masing-masing sebesar 2,92 persen dan 2,56 persen.

Sedangkan, satu sektor menurun yaitu sektor kesehatan yang turun sebesar 0,04 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu CITY, WBSA, DIVA, OPMS dan PADI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni KUAS, HDFA, MSKY, IPAC dan CTTH.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.287.124 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 42,94 miliar lembar saham senilai Rp18,12 triliun. Sebanyak 485 saham naik 181 saham menurun, dan 153 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 1.063,18 poin atau 1,90 persen ke 56,958,50, indeks Shanghai menguat 20,05 poin atau 0,51 persen ke 3.986,22, indeks Hang Seng menguat 141,14 poin atau 0,55 persen ke 25.893,54, dan indeks Strait Times menguat 7,67 poin atau 0,15 persen ke 4.984,80.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.