Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ADB Ungkap Gangguan Energi akan Hambat Pertumbuhan Ekonomi di Asia-Pasifik

📅 Sabtu, 28 Mar 2026, 23:35 WIB | Oleh:
ADB Ungkap Gangguan Energi akan Hambat Pertumbuhan Ekonomi di Asia-Pasifik Doc: Dokumentasi ADB

JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) merilis hasil penelitiannya mengenai dampak gangguan energi akibat konflik di Timur Tengah. Terutama dampaknya pada pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Dampaknya pada perekonomian, menurut hasil penelitian tersebut, melalui kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok dan perdagangan. Kondisi keuangan juga akan semakin ketat, sektor pariwisata dan pengiriman uang (remittances) berpotensi terkena imbasnya.

“Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang diperkirakan menurun hingga 1,3 poin persentase pada 2026-2027. Sedangkan inflasi akan meningkat 3,2 poin persentase jika disrupsi energi berlangsung lebih dari setahun,” kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park, Jumat (27/3).

Jadi seberapa besar dampaknya, sangat tergantung pada seberapa lama disrupsi terjadi. Dalam skenario konflik yang singkat, tekanan harga energi akan mereda relatif cepat.

Dampak merugikan terhadap pertumbuhan akan paling berat dirasakan oleh perekonomian kawasan Asia Tenggara dan Pasifik yang sedang berkembang. Sedangkan tingkat inflasi akan naik paling tinggi di kawasan Asia Selatan.

“Pemerintah harus berfokus meredam ketegangan pasar dan melindungi kelompok yang paling rentan. Sekaligus menerapkan kebijakan untuk meningkatkan ketahanan jangka panjang,” ujar Park.

Untuk itu ADB merekomendasikan empat langkah yang dapat dilakukan;

Pertama, kebijakan yang fokus pada stabilisasi bukan represi sinyal harga. Artinya, membiarkan kenaikan harga untuk melewati, setidaknya sebagian, dapat mendorong penghematan energi.

Termasuk upaya peralihan ke sumber bahan bakar lain, dan investasi dalam sumber energi alternatif. Sedangkan pengendalian harga yang luas atau subsidi yang bersifat umum berisiko mendistorsi insentif dan menunda penyesuaian.

Kedua, dukungan fiskal, jika diperlukan, harus terarah dan memiliki batas waktu yang jelas. Prioritas harus diberikan pada dukungan bagi rumah tangga yang rentan dan sektor-sektor yang paling terdampak.

Ketiga, Bank sentral sebaiknya berfokus pada upaya membatasi volatilitas pasar yang berlebihan sambil terus memantau ekspektasi inflasi. Prioritas utama adalah memberikan dukungan likuiditas yang terarah guna menjaga kelancaran fungsi pasar.

Keempat, Pemerintah sebaiknya membatasi permintaan energi selayaknya. Langkah-langkah praktis yang dapat diambil antara lain menetapkan batas suhu pendingin udara, mematikan penerangan yang tidak penting.

Bisa juga dengan mengarusutamakan penghematan listrik pada jam-jam sibuk, serta menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau jadwal kerja bergiliran. Pemerintah juga dapat memberikan insentif bagi penggunaan angkutan umum atau menerapkan hari tanpa kendaraan bermotor pada hari libur nasional. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.