Ngapungkeun Balon Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Daya Tarik Wisata
Senin, 23 Mar 2026, 11:45 WIBGARUT â Setiap momen Idul Fitri tiba, langit di beberapa daerah seolah punya warna baru. Bukan dari kembang api atau lampu hias, tapi dari balon-balon udara berukuran raksasa yang perlahan terbang tinggi, jadi tontonan sekaligus kebanggaan warga.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan. Ada semangat kebersamaan di baliknyaâwarga bergotong royong sejak jauh hari, mulai dari merakit rangka, menyusun bahan, hingga menunggu waktu yang pas untuk menerbangkannya. Saat balon akhirnya lepas dan melayang, sorak-sorai pun pecah, seolah semua lelah terbayar dalam satu momen.
Bentuknya pun makin kreatif, dari yang sederhana sampai yang penuh warna dan ornamen unik. Setiap balon seperti punya cerita, mewakili identitas kampung yang membuatnya.
Meski begitu, di balik keindahannya, ada juga perhatian soal keamanan yang terus diingatkan. Karena sebesar dan setinggi apa pun balon itu terbang, keselamatan tetap jadi hal utama.
Pada akhirnya, tradisi balon raksasa ini jadi salah satu cara merayakan Lebaran dengan cara yang berbedaâmeriah, penuh warna, dan tentu saja, sarat kebersamaan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, Jawa Barat menyebutkan tradisi Ngapungkeun Balon atau menerbangkan balon berukuran raksasa yang setiap Lebaran digelar masyarakat Panawuan, Kecamatan Tarogong Kidul itu memiliki daya tarik wisata sebagai atraksi wisata kearifan lokal.
"Kami memandang kegiatan ini sebagai potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang sangat menarik dan memiliki daya tarik kuat," kata Kepala Disparbud Kabupaten Garut Beni Yoga Gunasantika melalui telepon seluler di Garut, Sabtu (21/3).
Ia menuturkan, masyarakat Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, setiap tahunnya saat momentum Hari Raya Lebaran selalu menggelar tradisi menerbangkan balon berukuran raksasa di lapangan terbuka kampung itu.
Agenda rutin tahunan masyarakat itu, kata dia, sebagai wujud kegembiraan dan kebersamaan masyarakat dalam momentum Hari Raya Idul Fitri yang selama bertahun-tahun selalu disambut antusias warga di kampung itu maupun yang datang dari luar kampung.
"Ini merupakan wujud nyata kegembiraan dan kebersamaan warga pasca Idul Fitri. Kita melihat antusiasme yang luar biasa, ini adalah ekspresi budaya dan tradisi yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri," katanya.
Ia mengatakan, Pemkab Garut melalui Disparbud Garut menilai kegiatan tersebut merupakan potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang menarik dan memiliki daya tarik kuat.
Selama pelaksanaan tahunan itu, kata dia, selalu berjalan tertib, aman, dan tidak membahayakan, sehingga menjadi agenda rutin tahunan yang dapat menarik orang saat datang atau mudik ke Garut bisa menyaksikan tradisi tersebut.
"Ke depan, kami akan terus melakukan pembinaan agar kegiatan seperti ini bisa dikemas lebih baik, lebih aman, dan menjadi agenda wisata yang membanggakan Kabupaten Garut," katanya.
Tradisi menerbangkan balon berukuran besar itu terbuat dari bahan kertas yang disusun menjadi balon dengan diameter dan panjang atau tinggi yang berbeda-beda ada yang diameter 20 meter dan panjang 10 meter atau banyak juga di bawah ukuran itu.
Tradisi menerbangkan balon tersebut sudah turun temurun sejak tahun 1960-an dan sampai sekarang masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Panawuan pada momentum Lebaran.
Kegiatan menerbangkan balon tidak hanya di satu titik, tapi terdapat beberapa lokasi yang diselenggarakan di kampung tersebut dengan jumlah balon yang diterbangkan dalam satu lokasi bisa lebih dari satu balon.
- Tradisi Ngapungkeun Balon
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.