Membaca Kesehatan Perempuan dengan Lebih Manusiawi
📅 Jumat, 20 Mar 2026, 15:05 WIB | Oleh: SujarPendekatan yang perlu dikembangkan berangkat dari gagasan bahwa kesehatan dan kecantikan tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik.
Konsep yang harus mulai digunakan adalah integrasi antara body beauty, brain beauty, dan mental beauty. Artinya, perhatian terhadap kesehatan tubuh harus berjalan seiring dengan perhatian pada kesehatan mental dan fungsi kognitif.
Tujuannya bukan sekadar memperbaiki kondisi fisik, tetapi juga membantu perempuan memperoleh kembali rasa nyaman terhadap tubuhnya serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dalam ekosistem layanan yang terintegrasi, berbagai disiplin kesehatan bekerja bersama. Selain layanan estetika ginekologi sebagai fokus utama, tersedia pula layanan dermatologi, rehabilitasi medis, urologi, hingga penanganan nyeri kronis.
Pendekatan ini untuk memastikan bahwa keluhan perempuan dapat ditangani secara lebih komprehensif, bukan hanya dari satu sisi medis saja.
Keterkaitan antara kesehatan reproduksi, hormon, dan kondisi kulit menjadi salah satu contoh nyata bagaimana tubuh perempuan bekerja sebagai sistem yang saling terhubung.
Perubahan hormonal
dr. Maria Clarissa Wiraputranto, SpDVE, dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika YPK Mandiri, menjelaskan bahwa kulit merupakan organ terbesar tubuh yang sangat responsif terhadap perubahan hormonal.
Kulit memiliki banyak reseptor hormon, seperti estrogen, progesteron, dan androgen, sehingga fluktuasi hormon dapat langsung mempengaruhi kondisi kulit, rambut, dan jaringan di sekitarnya.
Perubahan hormonal pada berbagai fase kehidupan perempuan sering kali tercermin pada kondisi kulit. Menjelang menstruasi, peningkatan hormon progesteron dan androgen dapat memicu produksi minyak berlebih, sehingga kulit menjadi lebih berminyak atau muncul jerawat.
Selama kehamilan, peningkatan hormon dapat menyebabkan hiperpigmentasi, seperti melasma atau munculnya garis gelap pada perut yang dikenal sebagai linea nigra.
Pada kondisi sindrom ovarium polikistik atau PCOS, kadar androgen yang lebih tinggi dapat menyebabkan jerawat persisten, kulit berminyak, hingga pertumbuhan rambut berlebih.
Perubahan serupa juga terjadi setelah persalinan maupun ketika perempuan memasuki fase menopause. Setelah melahirkan, penurunan hormon dapat memicu rambut rontok sementara, kulit lebih sensitif, atau munculnya jerawat hormonal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!