Jelang Hari Raya, Warga Bali Pilih Menahan Diri Beli Elektronik

Minggu, 15 Mar 2026, 13:57 WIB

DENPASAR – Perlambatan ekonomi di daerah mulai terasa dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Perputaran uang tidak lagi secepat sebelumnya, terlihat dari menurunnya transaksi di pasar, toko, hingga usaha kecil. Beberapa pelaku usaha mengaku pembeli masih datang, namun lebih selektif dalam berbelanja.

Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari daya beli masyarakat yang melemah, kenaikan biaya operasional usaha, hingga terbatasnya proyek pembangunan yang biasanya ikut menggerakkan ekonomi lokal. Akibatnya, sejumlah sektor usaha memilih menahan ekspansi dan lebih fokus menjaga kelangsungan usaha.

Ket. Foto: Aktivitas di Pasar Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. — Sumber: ANTARA/ Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Meski begitu, banyak pihak menilai perlambatan ini bersifat sementara. Pemerintah daerah bersama pelaku usaha terus mencari cara agar roda ekonomi kembali bergerak, mulai dari mendorong investasi, memperkuat sektor UMKM, hingga memaksimalkan potensi ekonomi lokal yang ada.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengungkapkan hasil survei di Pulau Dewata yakni konsumen menahan membeli barang elektronik menjelang hari besar keagamaan yaitu Nyepi dan Idul Fitri.

“Perlambatan indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) utamanya disebabkan oleh menurunnya indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan enam bulan yang lalu,” kata Kepala BI Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Minggu (15/3).

Bank sentral melakukan survei terhadap konsumen untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian mendatang.

Hasil survei menunjukkan, terjadi perlambatan indeks keyakinan konsumen (IKK) sebesar 3,6 persen secara bulanan menjadi 130,6.

Meski melambat, ia menilai hasil indeks di atas 100 menandakan konsumen masih berada di level optimistis.

Melambatnya IKK dikontribusikan oleh IKE dari sebelumnya 128,3 menjadi 121 karena dipicu melambatnya konsumsi barang kebutuhan tahan lama mencakup barang elektronik.

Adapun penurunan IKE disumbangkan oleh indeks penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan yang lalu yang mayoritas responden meyakini akan terjadi penurunan omzet.

“Sehingga responden cenderung untuk menahan konsumsi di tengah low season (musim sepi kunjungan) wisatawan,” ucapnya.

Kondisi itu sejalan dengan data Angkasa Pura pada Februari 2026 yang menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menurun sebesar 11,2 persen secara bulanan dengan total jumlah kunjungan sebanyak 814 ribu orang.

Di sisi lain, krisis geopolitik yang mempengaruhi industri pariwisata di Bali juga berperan mendorong indeks ekspektasi konsumen (IEK) melambat dari 142,7 menjadi 140,2.

Adapun faktor yang menahan pertumbuhan harapan konsumen itu adalah menurunnya indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang dan indeks prakiraan kegiatan usaha enam bulan mendatang.

Untuk mengantisipasi perlambatan itu, pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui pasar murah serta mengawasi harga komoditas pangan utama.

Stimulus pemerintah berupa diskon tiket transportasi hingga 30 persen diharapkan mendorong perekonomian khususnya sektor pariwisata di Bali.

  • ekonomi bali

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.