Indonesia Bidik Lompatan Ekonomi, Komoditas Mentah Terancam Disetop

Senin, 16 Feb 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Program hilirisasi menjadi tulang punggung agenda transformasi ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto karena diposisikan bukan sekadar kebijakan industri, melainkan mesin pertumbuhan nasional. Dengan mendorong pengolahan sumber daya di dalam negeri, pemerintah ingin memutus ketergantungan pada ekspor bahan mentah, memperkuat nilai tambah, memperluas lapangan kerja, sekaligus memperbaiki struktur ekonomi agar lebih tahan terhadap gejolak global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencontohkan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019, berbuah manis dengan total ekspor nikel mencapai 10 kali lipatnya pada periode 2023-2024.

Ket. Foto: Hilirisasi Komoditas - Kebergantungan Ekspor Bahan Mentah Ditekan — Sumber: antara

"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya 3,3 miliar dollar AS. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai 34 miliar dollar AS. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Bahlil pada Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2).

Ke depan, Bahlil akan mengkaji penghentian ekspor beberapa komoditas lainnya, termasuk timah. Ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.

"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," ujar Bahlil.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai 618 triliun rupiah. Proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hlirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak.

Undang Investor

Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri. Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.

"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," pungkasnya.

Hingga 2040 mendatang, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga 618 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, 498,4 miliar dollar AS datang dari subsektor mineral dan batubara (minerba) dan 68,3 miliar dollar AS dari minyak dan gas bumi. Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor 857,9 miliar dollar AS, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) 235,9 miliar dollar AS, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.