Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

120 Juta Warga Dunia Terusir, Integrasi Pengungsi Jadi Tantangan Bersama

📅 Sabtu, 14 Feb 2026, 00:40 WIB | Oleh:
120 Juta Warga Dunia Terusir, Integrasi Pengungsi Jadi Tantangan Bersama Doc: Dok. PRAKSIS

JAKARTA — Isu pengungsi global kembali mengemuka dalam diskusi yang digelar PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) di Jakarta, Jumat (13/2/2026). Dalam forum tersebut, peneliti migrasi Rose Campion menyebutkan bahwa saat ini lebih dari 120 juta orang di dunia mengalami pemindahan paksa akibat perang, kekerasan, dan persekusi.

Rose, mahasiswa doktoral di Centre on Migration, Policy and Society, University of Oxford, Inggris, menjelaskan bahwa berbagai negara, termasuk Jerman dan Indonesia, menampung pengungsi dengan pendekatan kebijakan berbeda. Namun, di balik perbedaan tersebut, integrasi ke dalam masyarakat lokal menjadi persoalan kunci dalam kehidupan bersama.

Menurut dia, integrasi kerap dimaknai sebagai proses menjadi bagian dari masyarakat, yang mencakup status hukum, kemampuan berbahasa, akses pekerjaan, pendidikan, tempat tinggal, hingga partisipasi sosial. Meski demikian, ia menegaskan bahwa integrasi bukan sekadar persoalan administratif. “Siapakah yang menentukan apa itu ‘integrasi yang baik’? Apakah hanya soal kontribusi ekonomi, atau tentang martabat manusia dan hak asasi?” ujarnya.

Ia memaparkan, sejak 2000 Jerman menerapkan kebijakan integrasi formal berupa pelatihan bahasa dan akses kerja untuk mendorong kemandirian ekonomi pengungsi. Sistem tersebut disebut sebagai “integrasi dari atas”, karena dirancang melalui kebijakan pemerintah. Namun, tantangan seperti rasisme struktural dan ketimpangan kesempatan kerja masih terjadi.

Sebaliknya, Indonesia tidak memiliki sistem suaka nasional. Dengan sekitar 12.000 pengungsi yang mayoritas berasal dari Afghanistan, Myanmar, Somalia, Sudan, Irak, dan Iran, para pengungsi menghadapi ketidakpastian hukum serta keterbatasan akses kerja dan pendidikan. Meski demikian, integrasi tetap berlangsung melalui inisiatif komunitas dan Refugee-Led Organizations (RLOs), yang menyediakan dukungan pendidikan dan kesehatan mental. Model ini disebut sebagai “integrasi dari bawah”.

Rose menekankan, baik melalui kebijakan negara maupun solidaritas komunitas, integrasi seharusnya tidak berhenti pada pemberian peluang administratif. “Kebijakan integrasi harus mengangkat martabat mereka sebagai manusia,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Mutasi Polri, Pejabat Divpr...
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.