Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Survei RISED: 81% Keluarga Rentan Dukung MBG, Jadi Bantalan Ekonomi Meski Belum Mengubah Struktur Pengeluaran

📅 Jumat, 13 Feb 2026, 20:17 WIB | Oleh:
Survei RISED: 81% Keluarga Rentan Dukung MBG, Jadi Bantalan Ekonomi Meski Belum Mengubah Struktur Pengeluaran Doc: (RISED)
Ket. Direktur Research Institute of Socio-Economics Development (RISED) M. Fajar Rakhmadi (kiri) berbincang dengan Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi (kanan) disela paparan hasil survey "Dampak Awal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Kesejahteraan Anak" di Jakarta, Jumat (13/2).

Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi mengenai dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Studi ini disusun untuk memperkaya diskusi kebijakan yang selama ini lebih banyak menyoroti implikasi makro, namun masih terbatas dalam melihat perubahan yang benar-benar dirasakan di tingkat rumah tangga. Sebagai program prioritas nasional yang menyerap sumber daya fiskal besar, MBG dinilai perlu terus dievaluasi berbasis data agar arah penyempurnaannya lebih terukur dan tepat sasaran.

Melibatkan sekitar 1.800 orang tua, studi ini memberikan gambaran awal mengenai efek mikro-harian program, khususnya terhadap pengeluaran rumah tangga dan kebiasaan anak. Sebanyak 36% rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian setelah MBG berjalan, terutama pada komponen bekal makan dan uang saku anak. Namun, sekitar 63% responden menyatakan besaran penghematan tersebut masih berada di bawah 10% dari total pengeluaran bulanan. Temuan ini menunjukkan bahwa MBG membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, tetapi belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan. Dalam konteks ini, program lebih berfungsi sebagai bantalan (shock absorber) konsumsi kecil dibandingkan sebagai instrumen peningkatan daya beli yang luas.

Meski dampak ekonominya masih terbatas, tingkat dukungan terhadap program tergolong kuat, terutama dari kelompok rentan. “Sebanyak 81% orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap M. Fajar Rakhmadi, Peneliti RISED

Mayoritas responden juga melaporkan bahwa program berjalan relatif konsisten, dengan 84% menyebut MBG diterima setiap hari sekolah. Namun, 69% orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur secara memadai.

Perubahan yang paling terasa justru terlihat pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72% orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55% menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan. Meski demikian, RISED menegaskan bahwa dampak terhadap status gizi objektif, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal implementasi ini. Evaluasi jangka menengah dan panjang diperlukan untuk memastikan apakah perubahan perilaku tersebut dapat terakumulasi menjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan temuan tersebut, RISED menyampaikan sejumlah catatan konstruktif untuk penyempurnaan kebijakan. Kejelasan kedudukan program dinilai penting, mengingat MBG saat ini berada di persimpangan antara program sosial, intervensi gizi, dan instrumen pembangunan SDM. Tanpa kejelasan posisi, indikator keberhasilan dan desain evaluasi berisiko tidak konsisten. Selain itu, konsistensi kualitas menu, variasi gizi, serta ketepatan waktu distribusi perlu terus dijaga agar manfaat program tidak melemah. Kebutuhan evaluasi longitudinal juga menjadi krusial untuk menjawab pertanyaan lebih besar mengenai kontribusi MBG terhadap pembangunan SDM dalam jangka panjang.

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai bahwa temuan awal penelitian ini bahwa MBG dapat berperan sebagai instrumen pengurang tekanan pengeluaran harian keluarga kelas menengah yang relatif rentan tertekan dampak ekonomi. “Kalau misalnya satu keluarga memiliki dua anak dan dibekali Rp15 ribu sehari, kita tahu ada 20 hari sekolah, ini berarti membantu mengurangi beban Rp600.000," ungkap Fithra. 

Selain itu Ia juga menambahkan bahwa meskipun dampak tersebut belum sepenuhnya terpetakan dalam penelitian RISED saat ini, konsistensi program akan membawa perubahan besar bagi struktur ekonomi rumah tangga. "Kalau ini persistent, ini akan berdampak lebih besar lagi. Ini akan menciptakan surplus konsumen (consumer surplus) bagi kelas menengah. Dengan berkurangnya biaya konsumsi anak, rumah tangga memiliki fleksibilitas anggaran yang lebih luas. Menariknya, kelebihan dana tersebut tidak hanya berhenti pada konsumsi jangka pendek, melainkan berpotensi dialihkan ke sektor yang lebih berdampak. menariknya budgetnya dialihkan ke hal produktif, untuk pendidikan dan kesehatan," pungkas Fithra. 

Studi ini diposisikan sebagai baseline awal untuk mendorong penguatan kebijakan berbasis riset dan data, sehingga pemerintah dapat memahami apa yang telah berjalan, apa yang masih terbatas, dan apa yang perlu diperbaiki. MBG telah menunjukkan dampak awal dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan membentuk kebiasaan makan anak ke arah yang lebih baik. Sejalan dengan itu, RISED menekankan pentingnya penyempurnaan kebijakan berbasis temuan lapangan.

“Temuan awal ini kami posisikan sebagai baseline. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk penyempurnaan desain dan peningkatan kualitas implementasi MBG, sekaligus memperkuat sistem pemantauan di lapangan. Ke depan, evaluasi lanjutan dengan periode implementasi yang lebih panjang juga sangat penting agar dampak program terhadap pembangunan SDM bisa diukur secara lebih komprehensif,” tambah M. Fajar Rakhmadi, Peneliti RISED.

Tantangan berikutnya adalah memastikan dampak awal ini tidak berhenti pada efek jangka pendek, melainkan berkembang menjadi fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Olahraga
Timnas Indonesia Harus Mema...

Jenazah ABK KM Arupadhatu I Dikirim ke Jakarta

44 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Nasional
Jenazah ABK KM Arupadhatu I...
Megapolitan
Polda Metro Jaya Siapkan Pe...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.