Sanae Takaichi Simbol Perlawanan Jepang terhadap Hegemoni Tiongkok di Asia

Rabu, 11 Feb 2026, 01:05 WIB

JAKARTA - Jepang akan menggelar sidang parlemen khusus pada 18 Februari untuk memilih perdana menteri (PM) setelah pemilu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Minggu (8/2). Mediaa lokal Jiji Press pada Selasa (10/2) melaporkan Konstitusi Jepang menetapkan bahwa sidang Diet (parlemen Jepang) luar biasa harus digelar dalam kurun waktu 30 hari setelah pemilu DPR untuk menunjuk seorang perdana menteri.

Dalam pemilu penunjukan perdana menteri, seorang kandidat yang memperoleh mayoritas suara pada putaran pertama pemungutan suara di masing-masing majelis akan langsung menang. Jika tidak ada kandidat yang memperoleh suara mayoritas, dua kandidat dengan perolehan suara tertinggi akan melaju ke putaran kedua, dengan pemenang ditentukan melalui metode mayoritas sederhana. Jika kedua majelis menunjuk kandidat yang berbeda dan gagal mencapai kesepakatan setelah konsultasi, Konstitusi menetapkan bahwa keputusan DPR yang berkuasa kan berlaku.

Ket. Foto: Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. — Sumber: JIJI Press/AFP

Mengingat Partai Demokrat Liberal (Liberal Democratic Party/LDP) saat ini menguasai lebih dari dua pertiga kursi di majelis rendah, media Jepang meyakini bahwa Presiden LDP sekaligus PM Jepang Sanae Takaichi hampir dipastikan akan memenangkan pemilu dan kembali menduduki kursi PM.

Menanggapi kemenangan telak PM Sanae Takaichi, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya (UB), Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan, kondisi itu menggambarkan mandat rakyat Jepang untuk melanjutkan perlawanan Jepang terhadap hegemoni Tiongkok di Asia.

Kemenangan LDP dalam pemilu majelis rendah dengan capaian supermayoritas adalah babak baru arah politik sekaligus dinamika politik Jepang. Tren kondisi demokrasi Jepang juga menunjukkan penurunan yang memberi sinyal perubahan lanskap politik negara Sakura itu.

Data terbaru dari V Dem Institute melalui lima indeks utama yaitu Deliberative Democracy Index, Egalitarian Democracy Index, Electoral Democracy Index, Liberal Democracy Index, dan Participatory Democracy Index dapat dibaca sebagai indikasi bahwa beberapa dimensi kualitas demokrasi Jepang melemah dan pada saat yang sama membuka ruang menguatnya politik yang lebih menekankan ketertiban dan keamanan.

“Konservatisme yang menguat di Jepang tidak bisa dilepaskan dari kerisauan atas tekanan geopolitik yang semakin besar, terutama ketika Tiongkok tampil sebagai kekuatan ekonomi kawasan yang kian dominan dan secara langsung menggeser persepsi publik dan elite tentang posisi relatif Jepang,” jelas Adhi.

Populasi Menua

Dari domestik, Jepang juga menghadapi masalah struktural yang berlapis mulai dari populasi menua yang mengurangi tenaga kerja, pelemahan pertumbuhan, tekanan fiskal, dan beban utang, sehingga hubungan Jepang dan Tiongkok cenderung bergerak dalam tarik menarik antara kebutuhan memperkuat postur keamanan dan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi.

Jika agenda Pemerintah Jepang memperbaiki kondisi ekonomi, maka secara realistis stabilisasi dan normalisasi terbatas dengan Tiongkok tetap menjadi opsi yang lebih masuk akal, baik karena kedekatan geografis maupun interdependensi ekonomi yang sulit dihindari.

Namun, kecenderungan politik domestik yang semakin menekankan ketertiban termasuk pengetatan kebijakan terkait warga asing berpotensi menjadi batu ganjalan karena mempersempit ruang kompromi politik pada isu isu sensitif yang menyangkut Tiongkok.

“Dengan demikian, Jepang pada akhirnya tidak punya banyak pilihan selain tetap menjaga kanal hubungan dengan Tiongkok, tetapi normalisasi penuh akan berjalan selektif dan dibatasi oleh tekanan keamanan serta dinamika politik domestik yang menguat,” pungkasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

613 PKL Kramat Jati Bakal Dipindahkan, Ini 4 Lokasi yang Disiapkan Pasar Jaya

Coco Gauff Juara Cincinnati Open 2026! Tampil Perkasa dan Ukir Prestasi Gemilang

Pedagang Ikan Pasar Kramat Jati Bakal Direlokasi, Ini Persiapannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.