Bidik Investor Dunia, ESDM Bawa Proyek Hidrogen Hijau ke GHES

Selasa, 10 Feb 2026, 21:45 WIB

JAKARTA – Proyek pengembangan ekosistem hidrogen hijau menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi energi dan menekan emisi karbon, terutama di sektor transportasi dan industri berat yang sulit didekarbonisasi.

Dengan memanfaatkan energi terbarukan sebagai sumber produksi, hidrogen hijau menawarkan solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pengembangan hidrogen hijau. — Sumber: ANTARA/ HO-PLN.

Namun keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kesiapan rantai nilai, mulai dari infrastruktur produksi, penyimpanan, distribusi, hingga kepastian regulasi dan insentif investasi.

Tanpa skala ekonomi dan dukungan kebijakan yang konsisten, hidrogen hijau berisiko hanya menjadi proyek percontohan.

Sebaliknya, jika dikembangkan terintegrasi, ekosistem ini berpotensi membuka industri baru, menciptakan lapangan kerja hijau, serta menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam pasar energi bersih global.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan sejumlah proyek pengembangan ekosistem hidrogen hijau yang akan ditawarkan di dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026.

“Kita perlu menyiapkan proyek-proyek yang berdasarkan ekosistem (hidrogen),” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika membuka GHES secara virtual yang digelar di Kantor Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE), Jakarta, Selasa (10/2).

Yuliot mengatakan bahwa hidrogen yang diproduksi dari sumber energi baru dan terbarukan, seperti matahari, angin, air, dan panas bumi, berpotensi dikembangkan sebagai produk turunan bernilai tinggi.

“Antara lain amonia hijau, metanol hijau, dan bahan bakar,” katanya.

Produk turunan yang diproduksi dari energi terbarukan, menurut Yuliot, memiliki prospek besar untuk pasar ekspor dan juga pemenuhan kebutuhan energi dan industri di dalam negeri.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi memaparkan pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah proyek yang berpotensi untuk ditawarkan di GHES 2026.

Proyek-proyek tersebut meliputi Green Hydrogen Plant (GHP) Ulubelu, Lampung; GHP Lahendong, Sulawesi Utara; kemudian terdapat proyek hidrogen hijau yang berlokasi di Sumba, Nusa Tenggara Timur; proyek yang berlokasi di Jawa Timur; hingga proyek waste to hydrogen yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat.

“Tahun lalu kami meluncurkan peta jalan, tahun ini kami berencana untuk menawarkan proyek,” kata Eniya.

Proyek-proyek tersebut menuai dukungan pemerintah dan akan diperjelas nasibnya pada Juli 2026 ihwal apakah proyek tersebut bisa direalisasikan.

“Karena tahun lalu kami hadirkan berbagai MoU. Lalu kami identifikasi di peta jalannya, kan. Nah, kami follow up sekarang, action plan-nya bagaimana,” kata Eniya.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan hidrogen dan amonia sebagai Sumber Energi Baru strategis melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, dengan proyeksi kontribusi hidrogen sekitar 10–12 persen terhadap energi primer nasional pada tahun 2060.

Saat ini, pemanfaatan hidrogen di Indonesia masih didominasi sektor industri pupuk dan kilang minyak, dengan konsumsi nasional sekitar 1,75 juta ton per tahun.

Dengan demikian, penyelenggaraan GHES 2026 diarahkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pengembangan hidrogen dan amonia sebagai bagian dari agenda transisi energi nasional dan pencapaian Net Zero Emission tahun 2060 atau lebih cepat.

  • Hidrogen
  • Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES)

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.