- Home
-
- Megapolitan
-
- Rata-rata Penduduk Jakarta...
Rata-rata Penduduk Jakarta Habiskan 10 Tahun Hidupnya dalam Kemacetan
Senin, 09 Feb 2026, 21:07 WIBJAKARTA - Jakarta, sebuah kota metropolitan berpenduduk 10 juta jiwa, sedang mengalami sesak napas. Kota ini secara konsisten menempati peringkat sebagai salah satu kota terpadat di dunia. Ini bukan sekadar "kemacetan lalu lintas"; ini adalah kegagalan sistemik total dalam perencanaan kota.
Kajian dari akun YouTube Behind Asia menyebutkan, rata-rata penduduk Ibu Kkta Jakarta terpaksa menghabiskan 10 tahun dari umurnya dalam kemacetan lalu-lintas.Â
Pada saat jam sibuk, perjalanan sepanjang 10 kilometer harus ditempuh dalam tiga jam. Setiap hari jutaan orang memenuhi jalanan Jakarta.Â
Pada saat cuaca panas, keadaan lalu-lintas jakarta tidak sekedar buruk, tapi sangat buruk. Kota ini menempati urutan deretan kota termacet di dunia, di bawah Daewoo, Bandung, Hanoi, Ho Chi Min dan Manila.Â
Bagi penduduk yang tinggal, menghabiskan waktu di jalan hingga 3-4 jam sangatlah tidak nyaman.Â
Dibalik kemacetan yang parah ini ada kisah dibaliknya. Merupakan penumpukan dampak dari kebijakan yang salah selama puluhan tahun.Â
Mimpi buruk kemaceran Jakarta tidak tercipta dalam semalam, merupakab pross panjang selama bertahun-tahun dari kebijakan publik, pertumbuhan kendaraan dan lonjakan penduduk.Â
Ini mendorong pemerintah memindahkan ibu kotanya yang disebabkan oleh persilangan dari masalah kebijakan, persoalan infrastruktur dan fenomena urbanisasi.Â
Pertama, Jakarta adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dengan populasi 10,5 juta penduduk yang dikelikingi oleh kota-kota satelitnya Jabodetabek dengan jumlah penduduk hingga 30 juta orang. Membuat lalu lintas Jakarta pada hari kerja dilalui oleh 20 juta orang.Â
Selain itu, Jakarta memiliki masalah kekurangan sarana transportasi publik. Hanya 22 persen populasinya yang memanfaatkan bus dan angkutan lainnya. Sisanya 78 persen bergantung pada kendaraan pribadi dengan perbandingan. Kendaraan dengan penduduk hingga 2:1.
"Konsekuensinya sangat tragis, masyarakat terjebak ratusan jam dalam kemacetan setiap tahun. Dalam sebuah pennghitun, setiap orang akan terjebak selama 10 tahun di kemacetan dalam hidupnya."
Saat padat, laju kendaraan di arteri utama hanya verkisar 10 sampai 50 km/jam, lebih pelan dari sepeda angin, menghabiskan BBM dan waktu. Penelitian menunjukkan kerugian akibat kemacetan mencapai 5 miliar dolar AS per tahun, disebabkan pemborosan BBM, produktivitas yang hilang dan gangguan kesehatan.Â
Lalu lintas juga meruoakan sumber utama polusi udara Jakarta. 70 persen emisi karbon berasal dari asap kendaraan. Kualitas udara Jakarta berada di urutan ketujuh terburuk dunia. Kerugian pada manusia juga meliputi kesehatan dan hilangnya waktu yang berharga bersama keluarga.Â
Ini semua berawal dari ketersediaan jalan, transportaai massal dan ledakan penduduk, ketiganya menciptakan badai kemacetan lalu lintas.Â
Pada awal abad 20 kebijakan yang ditempuh seiring oertumbuhan penduduk ialah membangun berbagai jalan layang dan tol, berharap bisa menjadi solusi masa depan. Jaringan jalan lebih didesain untuk menampung kendaraan probadi. Dalam teori, dorancang agar kendaraan tetap dapat mengalir. Pada awalnya jalan tol dan layang dapat mengatasi masalah yang ada, tapi ini justru "memicu permintaan". Setiap ada jalur tol baru, jumlah kendaraan justru meningkat. Pada tahun 1999 sampai 2000 terjadi lonjakan kendaraa pribadi di Indonesua dengan adanya lonjakan kelas menengah. Ini membuat laju pemvangunan jalan baru kewalahan.Â
Pada pertengahan tahun 2000, pemerintah menerapkan kebijakan 3 in 1 saat jam sibuk. Namun kebijakan itu justru memicu pasar gelap joki penumpang.Â
Pada tahun 2016 kemacetan semakin parah dengan kecepatan rata-rata daraan saat jam sibuk anjlok dari 20 km/jam menjadi 11 km/jam. Hal itu coba diatasi dengan kebijakan ganjil-genap, namun dampaknya masih terbatas dengan lonjakan jumlah kendaraan pribadi yang terus terjadi.Â
Indeks Berhenti-Jalan
Sementara itu, menurut survei Castrol, Indeks Berhenti-Jalan Magnatec 2014, Jakarta, memiliki kemacetan lalu lintas terburuk di dunia. Dilansir oleh Smart Cities Dive, para pengemudi di kota ini, yang tercatat mengalami 33.240 kali berhenti-mulai setiap tahunnya, artinya mereka menghabiskan 27,22 persen dari total waktu perjalanan mereka tanpa tujuan.
Indeks ini menggunakan data yang dibagikan secara anonim oleh jutaan pengguna navigasi TomTom di seluruh dunia dan mencakup 78 negara. Kota terburuk berikutnya adalah Istanbul, dengan pengemudi menghabiskan hampir 29 persen waktu perjalanan mereka dalam keadaan diam.
Yang mungkin mengejutkan adalah tidak dimasukkannya Manila yang terkenal buruk di Filipina, tetapi memang kota itu sama sekali tidak dimasukkan dalam indeks tersebut. Sebuah studi terpisah oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) mencatat bahwa negara tersebut kehilangan potensi pendapatan sebesar P2,4 miliar akibat kemacetan lalu lintas di Metro Manila.
Berikut adalah sepuluh kota terburuk dengan jumlah berhenti-mulai per mobil terbanyak per tahun berdasarkan data:
1. Jakarta, Indonesia (33.240 berhenti-mulai per mobil per tahun)
2. Istanbul, Turki (32.520)
3. Mexico City, Meksiko (30.840)
4. Surabaya, Indonesia (29.880)
5. St. Petersburg, Rusia (29.040)
6. Moskow, Rusia (28.680)
7. Roma, Italia (28.680)
8. Bangkok, Thailand (27.480)
9. Guadalajara, Meksiko (24.840)
10. Buenos Aires, Argentina (23.760)
Di sisi lain, Eropa memiliki 8 dari 10 kota dengan jumlah berhenti-mulai terendah, dan pemenangnya adalah Tampere, Finlandia:
1. Tampere, Finlandia (6.240 stop-star per mobil per tahun)
2. Rotterdam, Belanda (6.360)
3-4. Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (6.840)
3-4. Bratislava, Slovakia (6,840)
5. Brisbane, Australia (6,960)
6. Antwerp, Belgia (7,080)
7. Porto, Portugal (7,200)
8. Brno, Republik Ceko (7,320)
9. Kopenhagen, Denmark (7,440)
10. Kosice, Slovakia (7,440)
Data menunjukkan bahwa rata-rata pengemudi melakukan sekitar 360 kali berhenti-mulai per minggu. Ini berarti lebih banyak akselerasi dan deselerasi, tetapi juga periode idle yang lebih lama, yang tidak hanya menyebabkan polusi dan pemborosan bahan bakar, tetapi juga mengurangi umur mesin dan berdampak ekonomi pada kehidupan kota dalam hal jam kerja yang terbuang.
Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini?
Studi JICA memberikan beberapa wawasan tentang bagaimana pemerintah kota dapat mulai mengatasi masalah kemacetan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
di tingkat regional, menyebarkan kegiatan ekonomi ke area pertumbuhan potensial lainnya termasuk menyeimbangkan pembangunan pertanian, manufaktur, dan jasa, sambil melindungi area pertanian utama untuk ketahanan pangan;
menghindari perluasan wilayah perkotaan di daerah rawan bencana;
mendorong pertumbuhan pusat-pusat lokal (untuk meminimalkan kebutuhan perjalanan);
Membangun konektivitas yang lebih baik dan hierarki yang tepat dari berbagai moda transportasi seperti jalan raya, kereta api, dan angkutan massal lainnya;
Merencanakan dan mengarahkan perluasan perkotaan ke provinsi-provinsi tetangga melalui transportasi umum terintegrasi, perumahan terjangkau untuk kelompok berpenghasilan rendah (untuk meminimalkan kebutuhan perjalanan);
Renovasi kawasan perkotaan yang sudah ada dengan mengintegrasikannya dengan transportasi umum;
memperluas jaringan transportasi umum multi-moda;
dan memperkuat sistem manajemen lalu lintas dengan ITS.
âSistem Transportasi Cerdasâ atau ITS, mencakup rekayasa dan manajemen lalu lintas yang lebih baik yang membutuhkan perbaikan geometris, fasilitas pejalan kaki, pengawasan lalu lintas, pencegahan kecelakaan, pendidikan keselamatan lalu lintas, dan penegakan lalu lintas.
Salah satu contoh ITS, seperti yang dibahas dalam penelitian ini, membutuhkan sistem kontrol sinyal, prediksi waktu tempuh, pemeliharaan jalan, parkir cerdas, deteksi insiden, dan bantuan penjadwalan bus, di antara lainnya.
Di seluruh dunia, lebih dari 100 triliun dolar AS pengeluaran publik dan swasta dapat dihemat antara sekarang hingga tahun 2050 jika dunia memperluas transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda di kota-kota, menurut sebuah laporan oleh Institute for Transportation and Development Policy dan University of California, Davis. Selain itu, pengurangan emisi karbon dioksida hingga mencapai 1.700 megaton per tahun pada tahun 2050 dapat dicapai.Â
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Camila Cabello Sampaikan Dukungan untuk Kembalinya Fifth Harmony
-
Kepadatan jalur Puncak Bogor libur Natal
-
Mendesak Moratorium MBG, Siswa Keracunan Meluas. Selidiki Potensi Korupsi
-
Wanita Lansia 82 Tahun Ditemukan Meninggal Tersangkut di Rumah Pompa Bratang Surabaya
-
Bantuan Pangan 9.200 Ton dari Bulog Sumut Disalurkan untuk Masyarakat
-
Antrian Bus saat Perayaan Hut ke-79 Bhayangkara
-
PLN Percepat Bangun Jaringan Listrik Desa di 11 lokasi di Pegunungan Arfak, Papua Barat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.