Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terancam Perubahan Iklim, KKP Tegaskan Peran Strategis Perairan Maluku Barat Daya

3 Jumat, 06 Feb 2026, 14:26 WIB | Oleh:
Terancam Perubahan Iklim, KKP Tegaskan Peran Strategis Perairan Maluku Barat Daya Terancam Perubahan Iklim, KKP Tegaskan Peran Strategis Perairan Maluku Barat Daya Doc: Antara Foto
Ket. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara (kaann) memberi sambutan dalam Talkshow Bincang Bahari bertajuk 'Permata Tersembunyi Indonesia Timur: Romang-Damer dan Masa Depan Konservasi Laut' di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jakarta.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan perairan Maluku Barat Daya merupakan pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati (biodiversitas) laut dunia, yang kini menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim global.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara di Jakarta, Kamis, mengatakan bersama yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia telah melakukan ekspedisi kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya pada 2025

Ia mengatakan hasil kegiatan telah mengukuhkan perairan Maluku Barat Daya sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia yang mendapatkan pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia.

"Para peneliti yang terlibat dalam kegiatan ini mampu membuktikan bahwa perairan Maluku Barat Daya menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia di tengah ancaman perubahan iklim global," kata Koswara pada talkshow Bincang Bahari membahas temuan tersebut di Kantor KKP.

Ia mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru.

"Dalam konteks tersebut, hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar dia.

Perairan Maluku Barat Daya menjadi koridor migrasi utama untuk 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi, termasuk paus biru, orca, hiu martil, beberapa jenis penyu, hingga dugong.

Ekspedisi ilmiah yang digelar pada 3 Oktober – 3 November 2025 itu berhasil menyingkap habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu area, patra peneliti menjumpai dugong sebanyak 32 ekor. Berdasarkan catatan peneliti, populasi dugong dalam jumlah besar menjadi temuan langka, bahkan untuk ukuran dunia.

"Tentu saja, penemuan penting yang menyibak biota kunci Nusantara itu sekaligus mengukuhkan bahwa kualitas perairan Maluku Barat Daya masih relatif terjaga. Kawasan laut ini mampu memasok nutrisi bagi spesies kunci hingga menjadi rumah yang nyaman untuk sejumlah biota," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan para peneliti telah mencatat ekosistem lamun, yang menjadi rumah dugong, berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50 persen. Tim ekspedisi berhasil menemukan 2/3 jenis lamun yang tercatat ada di Indonesia (9 jenis dari total 14 jenis lamun).

Data ekspedisi lainnya menunjukkan, ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang-baik. Hal itu tercermin dari angka rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4 persen. Angka temuan ini di atas rata-rata regional (34 persen).

Dalam analisis tingkat lanjut, peneliti menemukan bahwa sebagian koloni karang di perairan itu berusia sekitar 100-200 tahun. Fakta tersebut menunjukkan ekosistem perairan dangkal di kawasan itu telah bertahan sejak lama.

Ekosistem tua ini mampu memberikan manfaat ekologis yang tinggi, seperti penjaga kawasan pantai, daerah pemijahan hewan-hewan laut penting dan bernilai ekonomis.

"Tentu saja, perairan dangkal nan sehat ini memiliki peran krusial bagi masa depan Indonesia," katanya.

Ekspedisi itu juga menyoroti peran vital masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal.

Di Pulau Romang dan Damer, ia mengatakan praktik Sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Polri Mutasi 264 Perwira Ti...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mabes Polri Belum Beri Penjelasan Isu Penangkapan Jenderal dan Petinggi Polri lainnya   

Mabes Polri Belum Beri Penjelasan Isu Penangkapan Jenderal dan Petinggi Polri lainnya  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.