Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

India Bantah Laporan 5 Kasus Virus Nipah di Benggala Barat

3 Rabu, 28 Jan 2026, 18:59 WIB | Oleh:
India Bantah Laporan 5 Kasus Virus Nipah di Benggala Barat India Bantah Laporan 5 Kasus Virus Nipah di Benggala Barat Doc: Foto: Istimewa
Ket. Ilustrasi Virus Nipah.

NEW DELHI, INDIA - Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India membantah laporan media yang menyebut adanya lima kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat, dengan menegaskan bahwa hingga kini hanya dua kasus yang terkonfirmasi secara resmi.

Dalam pernyataan tertulisnya pada Selasa (27/1), kementerian menyebut beredar angka spekulatif dan tidak akurat terkait penyakit Virus Nipah (NiVD) di sejumlah media.

Berdasarkan laporan yang diterima dari National Centre for Disease Control (NCDC), hanya dua kasus terkonfirmasi yang dilaporkan di Benggala Barat sejak Desember tahun lalu hingga saat ini.

Kementerian itu menegaskan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian telah mengambil seluruh langkah kesehatan masyarakat yang diperlukan di wilayah terdampak, termasuk memperketat pengawasan epidemiologis serta meningkatkan kapasitas pemeriksaan laboratorium.

Sebanyak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan dua pasien terkonfirmasi telah berhasil diidentifikasi, ditelusuri, dipantau, dan menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Hingga saat ini, seluruh kontak yang berhasil dilacak tidak menunjukkan gejala dan hasil tes mereka negatif untuk Virus Nipah,” kata kementerian tersebut.

Otoritas kesehatan India juga mengimbau masyarakat agar hanya mengandalkan informasi resmi dan terverifikasi dari pemerintah terkait perkembangan virus Nipah.

“Belum ada tambahan kasus Virus Nipah yang terdeteksi sejauh ini,” tegas kementerian itu dalam pernyataannya.

Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul laporan surat kabar Independent pekan lalu yang menyebut otoritas India tengah berupaya menahan wabah virus Nipah mematikan yang diduga telah menginfeksi lima orang, sementara sekitar 100 orang lainnya dikarantina.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan virus Nipah sebagai salah satu virus paling berbahaya di dunia, dengan tingkat kematian yang tinggi dan hingga kini belum tersedia pengobatan maupun vaksin khusus.

Virus Nipah terutama ditularkan oleh kelelawar buah atau kalong, dengan penularan ke manusia umumnya terjadi melalui konsumsi buah atau produk makanan yang terkontaminasi air liur hewan terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui hewan domestik.

India sebelumnya telah melaporkan empat wabah virus Nipah, masing-masing di Benggala Barat pada 2001 dan 2007, serta di Negara Bagian Kerala pada 2018 dan 2019, yang mendorong pemerintah meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap penyakit zoonosis tersebut. Ant/sumber: Sputnik-OANA

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Megapolitan
Pencatutan Nama Pejabat Jad...

Bansos bagi 2.200 Warga Tangerang Cair

57 menit yang lalu | Sujar

Megapolitan
Bansos bagi 2.200 Warga Tan...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.