Jakarta Darurat Banjir: WFH, PJJ, dan OMC Digeber Demi Tahan Gempuran Cuaca Ekstrem

Jumat, 23 Jan 2026, 13:05 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaktifkan mode siaga banjir dengan mengombinasikan kebijakan Work From Home, School From Home, serta perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca. Langkah ini diambil untuk meredam dampak cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah ibu kota.

Kebijakan WFH dan SFH diberlakukan melalui surat edaran resmi Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta. Strategi ini ditujukan untuk mengurangi beban lalu lintas sekaligus menekan risiko warga terjebak genangan saat mobilitas harian meningkat.

Ket. Foto: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaktifkan mode siaga banjir dengan mengombinasikan kebijakan Work From Home, Pembelajaran Jarak Jauh, serta perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca. — Sumber: Koran Jakarta/Ichsan Satria

"WFH dan SFH kami berlakukan agar aktivitas masyarakat tetap berjalan tanpa harus menghadapi risiko di lapangan," pungkas Gubernur Pramono.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 27 Januari untuk mengendalikan potensi hujan lebat. Operasi ini dilakukan hingga tiga kali dalam sehari dengan menyesuaikan pola awan dan prediksi cuaca.

"Operasi modifikasi cuaca yang seharusnya berakhir tanggal 23 Januari kami perpanjang sampai 27 Januari," tuturnya.

Kebijakan ini menjadi tameng awal sebelum air hujan masuk ke sistem sungai dan saluran perkotaan.

Langkah mitigasi ini tidak berdiri sendiri karena Pemprov DKI Jakarta juga mengerahkan lintas dinas untuk bergerak bersamaan. Dinas SDA, Bina Marga, Perhubungan, Kominfotik, hingga BPBD diminta aktif di lapangan untuk memastikan respons cepat saat terjadi genangan.

Pendekatan terpadu ini dinilai penting karena pola banjir Jakarta kini semakin kompleks akibat cuaca ekstrem dan perubahan tata ruang. Pemerintah daerah menilai koordinasi antarinstansi menjadi faktor krusial agar penanganan tidak berjalan parsial.

Di wilayah utara Jakarta, khususnya kawasan Cilincing, Kelapa Gading, dan Koja, genangan tahunan masih menjadi masalah rutin. Data sebaran genangan menunjukkan ketinggian air berkisar 15 hingga 40 sentimeter yang berdampak pada aktivitas warga dan roda ekonomi lokal.

Pemprov DKI Jakarta menargetkan kebijakan darurat ini mampu menahan dampak banjir dalam jangka pendek sambil menunggu program infrastruktur berjalan. Pemerintah menilai pendekatan non-struktural seperti pengaturan aktivitas masyarakat sama pentingnya dengan pembangunan fisik.

Selain pengaturan aktivitas, penambahan pompa air dan penguatan sistem drainase juga terus dilakukan secara bertahap. Upaya ini diarahkan untuk mempercepat surutnya genangan di kawasan rawan banjir saat hujan intensitas tinggi terjadi.

Pemprov DKI Jakarta berharap masyarakat ikut berperan aktif menjaga saluran air di lingkungan masing-masing. Partisipasi warga dinilai dapat mempercepat proses pemulihan wilayah terdampak banjir sekaligus meminimalkan risiko berulang.

Dengan kombinasi kebijakan WFH, SFH, OMC, dan kesiapsiagaan lintas dinas, Jakarta berupaya mengubah pola penanganan banjir menjadi lebih adaptif dan responsif. Pemerintah daerah menegaskan bahwa strategi ini akan terus disesuaikan dengan dinamika cuaca dan kondisi lapangan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.