Program Mak Comblang di Cianjur Jadi Jembatan Unik, Petani Lokal Kini Terhubung Langsung dengan Dapur MBG
Rabu, 21 Jan 2026, 16:30 WIBJakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) membuat Program "Mak Comblang" di Cianjur, Jawa Barat, untuk mempertemukan langsung petani dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Inisiatif tersebut bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan klasik dalam rantai pasok pangan guna menghapus ketimpangan antara kapasitas produksi petani dan kebutuhan riil dapur MBG, khususnya di wilayah Jakarta dan Bogor.
"Selama ini petani dan dapur MBG berjalan di jalur yang terpisah. Di satu sisi, petani di Cipanas mengalami kelebihan suplai. Namun, di sisi lain, dapur MBG di Jakarta dan Bogor justru kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang stabil. Mak Comblang Project hadir untuk menyambungkan dua sisi ini secara langsung," ujar Juru Bicara BGN Dian Fatwa dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (21/1).
Mak Comblang Project diawali dengan pertemuan bersama para petani dan Gabungan kelompok tani (Gapoktan) di wilayah Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (19/1) guna memetakan rantai pasok untuk melihat kondisi lapangan secara apa adanya, baik dari sisi produksi maupun kebutuhan.
Dalam pemetaan awal, BGN menemukan adanya kesenjangan volume yang cukup signifikan. Pada komoditas jagung, misalnya, kapasitas produksi petani Cipanas berada di kisaran 30 ton per bulan, sementara kebutuhan dapur MBG di Jakarta mencapai sekitar 240 ton per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya perencanaan produksi yang lebih selaras dengan kebutuhan.
Selain kesenjangan volume, pertemuan tersebut juga mengungkap disparitas harga yang selama ini terjadi di lapangan. Dian mencontohkan komoditas wortel, di mana dapur MBG kerap membeli dengan harga Rp15.000âRp25.000 per kilogram, sementara petani hanya menerima Rp1.500âRp3.000 per kilogram di tingkat kebun.
"Disparitas ini bukan disebabkan satu pihak, tetapi akibat rantai pasok yang panjang dan tidak terhubung secara langsung," tuturnya.
Melalui Mak Comblang Project, BGN mulai memetakan komoditas, volume produksi, serta kebutuhan dapur secara terbuka. Hasil pemetaan ini akan menjadi dasar penyusunan kalender tanam dan kalender panen, sehingga petani dapat memanen secara bertahap dan berkelanjutan. Pola ini diharapkan memberi kepastian pasar dan harga yang layak bagi petani, sekaligus memastikan pasokan bahan baku yang stabil bagi dapur MBG.
Ke depan, penyusunan menu MBG juga akan diselaraskan dengan ketersediaan produksi petani lokal, dengan melibatkan peran ahli gizi agar kualitas dan kecukupan gizi tetap terjaga. Dengan mempertemukan langsung petani dan dapur, Mak Comblang Project diharapkan mampu menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan serta memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Rute Baru Banyuwangi–Lombok Dibuka, Okupansi Awal Capai 61%
-
Andalan Ajak Perempuan Indonesia Mandiri Tentukan Pilihan KB
-
Menpar Widiyanti: Kinerja Pariwisata Nasional 2025 Lampaui Target Pemerintah
-
Wamenekraf Dorong Revolusi Teknologi untuk Buka Pintu Kerja Generasi Muda
-
Ip Man Wing Chun Exhibition Jakarta Sajikan Warisan Legendaris
-
'Wired Different' Kampanye Global MotoGP untuk Musim Ini
-
SIWO PWI Pusat Kecam Keras Intimidasi Ofisial Malut United Terhadap Wartawan Peliput
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.