Fokus Investor Tertuju pada Konflik AS-Eropa dan RDG BI, Berikut Proyeksi Rupiah, Selasa (20/1)

Senin, 19 Jan 2026, 23:59 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan, Selasa (20/1). Minimnya rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun global, membuat pergerakan pasar lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal, terutama ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah negara Eropa.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat belum ada rilis data ekonomi penting yang dapat menjadi katalis baru bagi rupiah. Namun begitu, investor diperkirakan masih bersikap wait and see sembari mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)

Ket. Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Dhemas Reviyanto

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (20/1), bergerak di kisaran 16.900 - 17.000 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin (19/1), bergerak melemah 68 poin atau 0,40 persen dari Kamis pekan lalu menjadi 16.955 rupiah per dollar AS.

Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menganggap pelemahan ini dipengaruhi ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.

“Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Negara-negara yang menjadi target meliputi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.

Mengutip Anadolu, Dewan Eropa akan menggelar pertemuan luar biasa dalam beberapa hari ke depan untuk membahas rencana Trump memberlakukan tarif yang dikaitkan dengan Greenland.

Pelemahan rupiah turut dipengaruhi keraguan para investor terhadap kebijaan pemotongan suku bunga acuan Federal Reserve sebanyak dua kali tahun ini. “Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. (Ini menunjukkan) pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.

  • proyeksi rupiah

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.