Korban MBG Trauma Menyantap Sajian MBG. Mereka tak Mau Menyantap MBG Lagi

Selasa, 13 Jan 2026, 13:30 WIB

GROBOGAN – Para siswa SD di Grobogan, Jateng, korban keracunan makan bergizi gratis (MBG) yang sampai dirawat di rumah sakit banyak yang trauma untuk kembali mengonsumsi hidangan MBG. Mereka tak mau lagi menyantap MBG.

Memang banyak keluhan menu MBG di daerah karena asal-asalan dan tak layak dikonsumsi. Misalnya, sebuah SD di Lampung Utara, Lampung, menerima menu MBG basi. Kepala Sekolah SD tersebut Ida Yuliana Mega menyesalkan menu basi untuk murid-muridnya karena tak layak konsumsi. “Murid saya ada 11 orang sakit perut,” katanya. Kepala SPPG setempat, Abid Saputra, mengakui menu MBG sudah basi. Dia akan mengevaluasi.

Ket. Foto: Masih terus berjatuhan korban keracunan mbg — Sumber: ist

MBG untuk ibu hamil dan bayi di Pandeglang juga tidak layak. Ini sangat berbahaya karena untuk ibu hamil dan bayi yang sama sekali harus menerima makanan yang sangat sehat.

Sementara itu, siswa-siswa SD di Grobogan traumatik karena mual, muntah dan diare usai menyantap MBG. Mereka tak mau menyantap MBG lagi. Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mencatat 113 dari total 658 orang yang terdampak dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) dirujuk ke sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan Djatmiko di Grobogan, Senin, mengatakan rujukan terbanyak dilakukan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo sebanyak 47 orang dan RSUD R Soedjati Purwodadi 29 orang. Selain itu, sebanyak 12 orang dirujuk ke Puskesmas Karangrayung 1, tujuh orang ke Puskesmas Kedungjati, dan tiga orang ke Puskesmas Gubug 1.

Rujukan lainnya masing-masing ke RS Permata Bunda satu orang, Puskesmas Toroh 1 satu orang, Puskesmas Klambu enam orang, Puskesmas Grobogan satu orang, serta Puskesmas Godong lima orang.

"Tercatat pula dua pasien pulang atas permintaan sendiri dari RSUD Ki Ageng Getas Pendowo. Selain itu, dua pasien dari Puskesmas Toroh 1 dipindahkan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo untuk penanganan lebih lanjut," ujarnya.

Dinas Kesehatan Grobogan mencatat ratusan warga, mayoritas siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1). Makanan tersebut disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.

Korban tersebar di sejumlah sekolah dan satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMK yang berlokasi di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari.

"Total sementara ada 658 orang terdampak. Sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan," ujarnya. Hingga Minggu (11/1) pagi, Dinkes Grobogan mencatat 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. 

"Data ini bersifat dinamis. Ada pasien yang sudah dipulangkan karena kondisinya membaik, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam," ujarnya.

Ia menambahkan, gejala yang paling banyak dialami para korban adalah mual dan muntah. Dugaan sementara, keluhan tersebut muncul setelah korban mengonsumsi MBG berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. Gejala mulai dirasakan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi.

Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan Grobogan juga melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta pengambilan sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium kesehatan guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Djatmiko mengingatkan seluruh penyedia layanan makanan, khususnya SPPG, agar mematuhi Standar Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), termasuk ketepatan waktu distribusi makanan.

"Pemberian makanan tidak boleh molor. Jika terlalu lama, lebih dari empat jam, kualitas makanan dapat menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," ujarnya.

Hingga kini, Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan bersama puskesmas setempat masih terus melakukan pemantauan kondisi para korban serta menelusuri penyebab dugaan keracunan MBG tersebut.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.