Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

China Tegaskan Komitmen ke PBB di Tengah Mundurnya AS dari Badan Multilateral

📅 Jumat, 09 Jan 2026, 04:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
China Tegaskan Komitmen ke PBB di Tengah Mundurnya AS dari Badan Multilateral Doc: Antara
Ket. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.

Beijing - Pemerintah China mengaku tetap mendukung peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan multilateralisme meski Amerika Serikat (AS) mundur dari puluhan organisasi internasional dan badan di bawah PBB.

"Tidak peduli bagaimana situasi berkembang, China akan tetap berkomitmen pada multilateralisme, mendukung peran sentral PBB dalam urusan internasional, dan bekerja sama dengan komunitas internasional lainnya untuk membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing Kamis (8/1).

Presiden AS Donald Trump, Rabu (7/1), menandatangani "Memorandum Kepresidenan" yang berisi arahan agar lembaga-lembaga pemerintah menarik diri dari 66 organisasi internasional yang menurutnya tidak lagi melayani kepentingan Amerika.

Memorandum tersebut memerintahkan semua departemen dan lembaga eksekutif AS untuk menghentikan partisipasi dan pendanaan terhadap 35 organisasi non-PBB, serta 31 entitas PBB, "yang operasinya bertentangan dengan kepentingan nasional, keamanan, kemakmuran ekonomi, atau kedaulatan AS."

Gedung Putih berpendapat bahwa "penarikan ini akan mengakhiri pendanaan dan keterlibatan pembayar pajak Amerika dalam entitas yang memajukan agenda global di atas prioritas AS."

"Ini bukan pertama kalinya AS menarik diri dari lembaga-lembaga tersebut. Pada kenyataannya, organisasi internasional dan lembaga multilateral bukanlah untuk mewakili kepentingan egois negara tertentu, tetapi untuk menjunjung tinggi kepentingan bersama semua negara anggota," ungkap Mao Ning.

Berdasarkan alasan itulah, kata Mao Ning, sistem internasional yang berpusat pada PBB telah menjunjung tinggi perdamaian dan stabilitas global, mempromosikan pembangunan sosial ekonomi, dan melindungi hak dan kepentingan yang setara bagi semua negara selama lebih dari 80 tahun.

"Apa yang kita saksikan dalam lanskap internasional sekali lagi membuktikan bahwa sistem multilateral yang efektif dapat mencegah hukum rimba berlaku dan mencegah pendekatan 'siapa yang kuat dialah yang benar' mendominasi tatanan internasional. Inilah yang paling dibutuhkan sebagian besar negara, terutama negara-negara kecil dan kurang berkembang, saat ini," jelas Mao Ning.

Gedung putih dalam pernyataannya menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memulihkan "kedaulatan Amerika" dan untuk mengurangi pengeluaran pada lembaga-lembaga yang menurutnya "merusak kemerdekaan Amerika dan membuang-buang uang pembayar pajak."

Pemerintah AS berpendapat bahwa banyak organisasi yang menjadi sasaran "mengkritik kebijakan pemerintah, memajukan agenda yang bertentangan dengan nilai-nilai kami, atau menyia-nyiakan uang pembayar pajak dengan berpura-pura menangani isu-isu penting tetapi tidak mencapai hasil nyata apa pun."

Gedung Putih menyebut akan mengalihkan sumber daya ke prioritas domestik, termasuk "infrastruktur, kesiapan militer, dan keamanan perbatasan, serta bertindak cepat untuk melindungi perusahaan-perusahaan Amerika dari campur tangan asing."

Di antara penarikan yang paling menonjol itu adalah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), perjanjian yang mendasari negosiasi iklim global dan Perjanjian Paris.

Pemerintahan juga mengakhiri dukungan AS untuk Dana Kependudukan PBB (UNFPA), yang menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi di seluruh dunia dan telah lama menghadapi penentangan dari Partai Republik.

Penarikan diri sebelumnya dilakukan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dewan Hak Asasi Manusia PBB, UNESCO, dan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...

Refleksi 24 Tahun Peristiwa Bom Bali

22 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Refleksi 24 Tahun Peristiwa...

Kembali Bugar, Jessica Pegula Bidik Hasil Maksimal di Wuhan

22 menit yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
Kembali Bugar, Jessica Pegu...
Nasional
124 Ribu Kasus WNI Ditangan...
Advertisement
Dikawal Ketat TNI-Polri, 3.510 Napi Risiko Tinggi Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan

Dikawal Ketat TNI-Polri, 3.510 Napi Risiko Tinggi Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan

12 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.