Piala Dunia 2026 Terancam Gelombang Panas, FIFA Siapkan Langkah Antisipasi

Sabtu, 27 Des 2025, 10:00 WIB

LOS ANGELES - Kurang dari enam bulan sebelum Piala Dunia 2026 digelar, pihak penyelenggara kini menghadapi “lawan” yang berpotensi paling berbahaya: cuaca panas ekstrem.

Lonjakan suhu di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada bukan hanya menimbulkan risiko keselamatan bagi pemain dan penonton, tetapi juga memunculkan tantangan logistik besar yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.

Ket. Foto: Ilustrasi stadion Piala Dunia 2026. — Sumber: AFP

Di kedalaman Stadion SoFi, Los Angeles, arena megah bernilai sekitar 5,5 miliar dolar AS yang akan menggelar delapan pertandingan Piala Dunia, sekitar 15 kipas kabut industri setinggi lebih dari dua meter tersimpan rapi. Perangkat ini siap dikerahkan jika suhu melampaui 80 derajat Fahrenheit (26,7 Celsius), dengan posisi ditempatkan mengelilingi stadion.

Atap stadion yang menggantung sekitar 45 meter di atas lapangan memberi perlindungan dari terik matahari bagi penonton. Sementara itu, bukaan besar di sisi stadion memungkinkan angin laut dari Samudra Pasifik mengalir masuk, menciptakan efek pendinginan alami.

“Ketika Anda menempatkan 70.000 orang di satu bangunan, dengan energi, antusiasme, dan aktivitas yang tinggi, ditambah suhu yang meningkat, di situlah kami harus memastikan respons yang tepat,” ujar Otto Benedict, Wakil Presiden Operasional perusahaan pengelola Stadion SoFi, kepada AFP.

Namun, tidak semua dari 16 stadion Piala Dunia 2026 memiliki fasilitas semodern SoFi. Meski California Selatan tidak termasuk wilayah dengan risiko tertinggi, turnamen yang dijadwalkan berlangsung 11 Juni–19 Juli, setelah Piala Dunia musim dingin 2022 di Qatar, tetap menghadirkan tantangan serius.

Sebuah studi yang dipublikasikan International Journal of Biometeorology pada Januari lalu memperingatkan adanya “kekhawatiran serius” terhadap kesehatan pemain dan ofisial pertandingan akibat panas ekstrem selama Piala Dunia 2026.

Penelitian tersebut mengidentifikasi enam kota tuan rumah berisiko tinggi: Monterrey, Miami, Kansas City, Boston, New York, dan Philadelphia.

Laporan Pitches in Peril dari organisasi nirlaba Football for Future mencatat bahwa sepanjang 2025, kota-kota tersebut masing-masing mengalami setidaknya satu hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius berdasarkan indeks Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT), skala yang memperhitungkan kelembapan dan dianggap sebagai batas atas toleransi panas manusia.

Masalah panas juga menjadi sorotan utama pada Piala Dunia Antarklub FIFA tahun ini di Amerika Serikat, yang memicu keluhan dari pemain dan pelatih. Situasi serupa pernah terjadi pada Piala Dunia 1994, edisi terakhir turnamen pria yang digelar di AS.

Sebagai respons, FIFA mewajibkan jeda pendinginan (cooling break) pada menit ke-22 dan ke-67 di seluruh pertandingan Piala Dunia 2026, tanpa memandang kondisi cuaca.

Jadwal pertandingan yang dirilis usai pengundian Desember lalu menunjukkan laga siang hari umumnya ditempatkan di stadion berpendingin udara seperti Dallas, Houston, dan Atlanta. Sementara stadion berisiko tinggi dijadwalkan menggelar pertandingan pada malam hari.

“Terlihat jelas adanya upaya menyelaraskan perencanaan jadwal dan pemilihan venue dengan isu kesehatan dan performa pemain,” ujar juru bicara FIFPro, serikat pemain dunia, kepada AFP. “Ini adalah hasil yang kami sambut baik dan pelajaran penting dari Piala Dunia Antarklub.”

Meski demikian, FIFPro menilai sejumlah laga Piala Dunia masih tergolong “berisiko tinggi” dan merekomendasikan penundaan pertandingan jika WBGT melebihi 28 derajat Celsius.

Yang menjadi sorotan antara lain pertandingan fase grup pada pertengahan sore di New York, Boston, dan Philadelphia, serta laga final yang dijadwalkan kick-off pukul 15.00 waktu setempat di New York.

Selain pemain, sejumlah pejabat menilai risiko bagi penonton, baik di dalam stadion maupun di fan zone, belum mendapat perhatian yang memadai.

“Ada risiko nyata, dan yang lebih penting, risiko ini sering diremehkan,” kata Chris Fuhrmann, Wakil Direktur Pusat Regional Tenggara Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA).

“Saat bersorak, tubuh menghasilkan panas metabolik yang besar dan detak jantung meningkat. Penonton, dibanding atlet profesional, umumnya tidak berada dalam kondisi fisik sebaik itu,” ujarnya.

“Banyak dari mereka memiliki penyakit penyerta yang meningkatkan kemungkinan dampak kesehatan serius atau mengalami stres panas.”

Suhu di stadion juga diperparah oleh efek urban heat island, yakni akumulasi panas dari beton, aspal, dan logam.

Menurut Fuhrmann, sirkulasi udara yang memadai, area teduh, serta akses hidrasi yang cukup menjadi kunci. Namun, upaya hidrasi sering kali terganggu oleh konsumsi alkohol.

Hingga kini, FIFA belum menjelaskan apakah penonton diizinkan membawa botol minum isi ulang ke dalam stadion atau apakah air minum akan dijual di dalam venue. FIFA juga belum menanggapi permintaan komentar terkait hal tersebut.

Bagi Benjamin Schott, meteorolog dari National Weather Service yang pernah memberi masukan kepada FIFA dan gugus tugas Piala Dunia, pencegahan menjadi prioritas utama, terutama bagi pengunjung asing yang belum terbiasa dengan iklim lokal.

Pelajaran lain dari Piala Dunia Antarklub, kata Schott, adalah pentingnya komunikasi multibahasa agar peringatan keselamatan terkait panas dapat dipahami dengan jelas.

“Pelajaran utamanya adalah bagaimana mengedukasi para penggemar yang datang ke Amerika Serikat agar mereka memiliki gambaran yang lebih baik tentang kondisi cuaca selama dua bulan tersebut,” ujarnya.

Dengan perubahan iklim yang kian nyata, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi ujian besar: bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga bagaimana olahraga global ini beradaptasi dengan dunia yang semakin panas.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.