Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Perumahan Tangguh Iklim Jadi Keharusan Nasional Hadapi Risiko Bencana di Indonesia

28 Senin, 22 Des 2025, 18:03 WIB | Oleh:
Perumahan Tangguh Iklim Jadi Keharusan Nasional Hadapi Risiko Bencana di Indonesia Perumahan Tangguh Iklim Jadi Keharusan Nasional Hadapi Risiko Bencana di Indonesia Doc: Habitat for Humanity Indonesia
Ket. Lokakarya yang membahas perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Indonesia menghadapi risiko bencana hidroklimatologi yang kian meningkat. Pemerintah dan Habitat for Humanity Indonesia menegaskan pentingnya perumahan tangguh iklim, desain adaptif, serta pembiayaan inklusif untuk melindungi masyarakat rentan dan menekan dampak ekonomi perub

JAKARTA – Perumahan yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan nasional bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan menyatakan bahwa hampir 80% bencana di Indonesia terkait hidroklimatologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang/badai.

Dampak dari bencana hidroklimatologi tersebut sangat memukul masyarakat terutama wanita di permukiman informal dengan dampak kesehatan dan biaya hidup akibat kekeringan, kenaikan suhu dan naiknya permukaan laut.

Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Boby Wahyu Hernawan menyampaikan dalam media briefing Kemenkeu 29 Mei 2024. Menurutnya tanpa langkah adaptasi serius, perubahan iklim diproyeksikan merugikan Indonesia hingga 2,87% dari PDB setiap tahunnya pada 2045.

Dalam sambutannya pada lokakarya Climate Adaptation through Housing  di Jakarta beberapa waktu lalu, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman menyatakan, bagi keluarga besar Habitat for Humanity, perumahan tangguh iklim bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah per tahun adalah peluang strategis untuk memasukkan prinsip ketangguhan dan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan.

“Selain itu, kami menyadari pentingnya skema pembiayaan yang inklusif dan fleksibel seperti pembiayaan mikro dan peningkatan rumah secara bertahap agar keluarga berpenghasilan rendah, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan kelompok rentan tidak tertinggal. Pembiayaan yang inklusif ini juga diperlukan untuk membiayai perbaikan rumah menjadi adaptif terhadap iklim,” ujar dia melalui siaran pers pada hari Senin (22/12).

Kolaborasi Strategis dan Kebijakan

Dalam lokakarya yang dimoderatori oleh Dr. Saut Sagala dari Global Resilience Specialist dari RDI dan Associate Professor dari ITB menghadirkan para pakar dari berbagai institusi untuk menyelaraskan kebijakan adaptasi. Berdasarkan hasil curah gagasan, lokakarya ini merumuskan beberapa temuan kunci.

Ketahanan iklim di bidang perumahan telah dimandatkan dalam RPJPN-RPJMN dan terhubung dengan sektor air, sanitasi, serta tata ruang hingga level rumah tangga. Implementasi di tingkat tapak masih belum konsisten meskipun perumahan merupakan bagian penting agenda adaptasi nasional. Desain “passive cooling” berbasis kondisi lokal (seperti hasil kajian di Desa Wunung, Kabupaten Gunung Kidul) efektif meningkatkan kualitas udara dan kesejukan rumah.

“Program pembangunan rumah nasional merupakan peluang unik untuk memasukkan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan pemerintah. Kita perlu memastikan adanya enabler berupa kerangka kerja dan regulasi yang mendukung keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, agar target hunian layak dan tangguh tahun 2030 dapat tercapai,” kata Koordinator Bidang Perumahan, Kementerian PPN/Bappenas, Ira Lubis, ST., MIDP yang menekankan pentingnya integrasi kebijakan

Khairunnisa Staf Ahli Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, mewakili Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Destyany Qatrunnada, S.Si., menambahkan terkait aspek mitigasi dan adaptasi.

“Mengadaptasi bangunan untuk menghadapi perubahan iklim dan mengurangi emisi adalah dua hal yang saling memperkuat. Kami mendukung langkah-langkah teknis seperti penggunaan material rendah karbon dan sistem drainase yang lebih baik untuk menjaga kohesi komunitas di lokasi asli mereka,” ujar dia.  

Selain itu, Prof. Ir. Suparwoko, MURP., Ph.D. dari Universitas Islam Indonesia, juga menyoroti pentingnya panduan teknis perumahan adaptif yang kontekstual bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Ekosistem Pembiayaan dan Ekonomi Sirkular

Lokakarya ini juga membahas inovasi finansial bersama Tadianto Slamet Saputro dari Komida, yang menekankan pentingnya indikator ketangguhan yang dirancang secara bertahap agar peningkatan rumah tetap terjangkau bagi komunitas MBR. Di sisi lain, Novita Tan (Co-founder dan CEO Rebricks) memaparkan potensi ekonomi sirkular dalam sektor konstruksi untuk mengurangi risiko iklim sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Rekomendasi Utama Lokakarya

Sebagai hasil dari diskusi intensif, Habitat for Humanity Indonesia merangkum rekomendasi berikut:

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Jisoo Blackpink Rilis Single Kedua “Addicted”

26 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Jisoo Blackpink Rilis Singl...
Nasional
Kemenhub akan Inspeksi 23 R...

Menhut Ungkap Situasi Karhutla Berangsur Membaik

49 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menhut Ungkap Situasi Karhu...
Nasional
Kemenhub Usulkan WFA untuk ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi  Triliunan Rupiah

RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi Triliunan Rupiah

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.