QRIS Jadi Game Changer: Digitalisasi Transaksi Buat UMKM Lebih Efisien dari Ekonomi Nasional
📅 Senin, 08 Des 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
JAKARTA – Pemanfaatan teknologi digital, termasuk Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), semakin menjadi katalis penting bagi efisiensi kegiatan investasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Digitalisasi transaksi memungkinkan pelaku usaha memperoleh arus kas yang lebih transparan dan tercatat secara real time, sehingga memudahkan mereka dalam melakukan perencanaan bisnis, pengajuan pembiayaan, hingga penilaian kelayakan investasi.
Dengan biaya transaksi yang rendah dan akses pembayaran yang lebih luas, QRIS tidak hanya memperluas basis pelanggan tetapi juga mengurangi risiko operasional yang kerap muncul akibat penggunaan pembayaran tunai.
Research Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Gundy Cahyadi mengungkapkan terdapat korelasi positif antara digitalisasi dan efisiensi modal, terlihat dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di sektor ekonomi yang telah terdigitalisasi berada di angka 4,3, lebih baik dibandingkan dengan ICOR nasional yang masih berada di level 6,6.
"Digitalisasi bukan hanya peningkatan teknologi. Ini adalah fondasi penting yang dapat mendorong produktivitas, memperkuat daya saing UMKM, dan menjadi pilar utama transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia," kata Gundy dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Jumat (5/12).
ICOR merupakan indikator makroekonomi yang mengukur seberapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB). Semakin rendah angka ICOR, berarti investasi yang dikeluarkan semakin efisien dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, angka ICOR yang tinggi menandakan biaya investasi yang semakin mahal untuk meningkatkan ekonomi.
Gundy menyatakan efisiensi tersebut tidak lepas dari peran QRIS yang kini menjadi instrumen pembayaran nontunai terbesar di Indonesia. Hingga semester I-2025, QRIS telah mencatat nilai transaksi mencapai Rp579 triliun dengan 41 juta merchant, yang mana 93,16 persen di antaranya adalah UMKM.
Menurutnya, digitalisasi melalui QRIS menjadi dukungan bagi UMKM untuk naik kelas, sehingga dapat menjadi solusi untuk mengatasi fenomena hollow middle, yakni minimnya jumlah usaha menengah di antara dominasi usaha mikro dan korporasi besar. Selain sebagai alat pembayaran, lanjut Gundy, jejak digital dari transaksi QRIS dapat dimanfaatkan sebagai data untuk melakukan alternative credit scoring.
Dia mengatakan inovasi tersebut dapat membuka akses pembiayaan bagi UMKM yang selama ini sulit dijangkau oleh lembaga keuangan formal karena ketiadaan agunan atau riwayat kredit konvensional.
Perkembangan di Papua
Pada kesempatan lain, Bank Indonesia (BI) menyatakan pengguna QRIS di Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya tumbuh 7,44 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Barat Setian di Manokwari, mengatakan jumlah pengguna QRIS hingga periode Oktober 2025 tercatat sebanyak 114.184 orang.
"Pertumbuhan adopsi QRIS didukung dengan ekosistem sekitar 58 ribu merchant di masing-masing provinsi," kata Setian.
Dia mengatakan transaksi QRIS di Papua Barat mencapai 1,42 triliun rupiah atau mengalami lonjakan signifikan sebesar 377 persen (yoy) dengan volume 13,20 juta transaksi atau meningkat 649 persen (yoy). Hal serupa juga terjadi di Papua Barat Daya dengan nilai transaksi sebanyak 1,99 triliun rupiah atau tumbuh sekitar 324 persen (yoy) dengan volume sebanyak 18,33 juta transaksi atau naik 493 persen (yoy).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!