• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Psikolog Klinis Dorong Str...

Psikolog Klinis Dorong Strategi Kelola Emosi untuk Cegah Kekerasan

Minggu, 30 Nov 2025, 21:40 WIB

JAKARTA - Psikolog klinis Yayasan Pulih, Indriyani Virgiana, menekankan pentingnya mengenali emosi saat menghadapi potensi kekerasan. Ia menyebut kesadaran diri sebagai langkah awal mencegah respons impulsif.

Indri menjelaskan kewaspadaan sering muncul dari pengalaman nyata di lapangan. Ia menilai pemahaman emosi dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih aman.

Ket. Foto: — Sumber: RRI/Afriani Respati

"Setiap orang perlu memahami situasi emosional yang sedang dialami. Kita sedang mengalami apa, karena itu sangat penting dan mempengaruhi pengambilan keputusan," ujarnya dalam diskusi publik di IFI Jakarta, Minggu (30/11).

Indri mengaitkan hal tersebut dengan penyebab emosi yang kerap tidak disadari. Ia menilai banyak orang hanya melihat emosi permukaan tanpa memahami lapisan di dalamnya.

“Marah itu judulnya besar. Setiap orang memiliki bentuk kemarahan yang berbeda," ucap dia sambil mencontohkan variasi rasa seperti frustasi dan cemburu.

Ia menyatakan bahwa semua emosi boleh hadir selama dikenali dengan baik. “Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita merespons terhadap emosi tersebut,” kata dia.

Indri menambahkan bahwa emosi yang dilawan justru dapat membesar. Ia mencontohkan kecemburuan yang meningkat ketika seseorang menekannya.

"Mari kita bertanya pada diri sendiri mengenai kebutuhan yang tidak terpenuhi. Apakah itu berupa validasi, perhatian pasangan, atau kedekatan dengan anak," ucap Indri.

Selain itu, ia menekankan peran strategi komunikasi dalam situasi sensitif. Ia menilai langkah bertahap dapat menjaga keamanan tanpa mengabaikan kebutuhan personal.

Wakil Kepala Kerjasama Pendidikan IFI, Cathrien Tobing, melengkapi diskusi dengan perspektif lembaga. Ia menegaskan komitmen Prancis dalam mempromosikan kesetaraan gender melalui diplomasi feminis.

Cathrien menyebut kekerasan terhadap perempuan sebagai isu global yang perlu penanganan berkelanjutan. “Memang namanya kekerasan terhadap perempuan itu adalah tidak pernah selesai ya,” kata Cathrien.

Ia menjelaskan, IFI mengutamakan kolaborasi dengan NGO yang telah bermitra. "Karena kita belum pernah kerjasama dengan UMKM perempuan di Indonesia, jadi kami kembangkan kearah sana juga," ucap dia. ils/I-1

  • Psikolog Klinis

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.